PEMUPUKAN KELAPA SAWIT

Rabu, 22 April 2009

Diposkan oleh MANDALA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Air merupakan media bagi usaha budidaya ikan, maka pengelolaan air yang baik merupakan langkah awal dalam pencapaian keberhasilan budidaya ikan. Secara umum pengelolaan kualitas air dibagi kedalam tiga bagian, yaitu secara biologi, kimia dan fisika. Dalam hal ini akan dibahas mengenai pengelolaan air secara kimia, khususnya pH (derajat keasaman) dan salinitas (kandungan garam) suatu perairan.

pH (Power of Hydrogen) adalah suatu parameter kimia perairan yang menunjukan jumlah ion H+ yang terurai dalam air. Nilai pH berkaitan erat dengan karbondioksida dan alkalinitas (Mackereth et al., 1989 dalam Effendi, 2003). pH merupakan parameter penting untuk reaksi-reaksi kimia dan senyawa-senyawa yang mengandung racun perubahan asam atau basa di perairan dapat mengganggu sistem keseimbangan ekologi. Nilai pH juga sangat mempengaruhi proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah. Selain itu,nilai pH juga sangat berpengaruh terhadap toksisitas suatu senyawa kimia.Menurut Swingle dalam Hickling (1978), mengatakan bahwa pH yang baik atau cocok untuk budidaya ikan adalah antara 6.50-9.00. Sedangkan titik kematian ikan terjadi pada pH 4.00 untuk asam dan 11.00 untuk basa.

Salah satu parameter kimia lainnya ialah salinitas. Dalam Oceanografi salinitas diartikan sebagai ukuran yang menggambarkan tingkat keasinan (kandungan Na Cl ) dari suatu perairan . Satuan salinitas umumnya dalam bentuk promil (0/00) atau satu bagian perseribu bagian, misalnya 35 gram dalam 1 liter air (1000 ml) maka kandungan salinitasnya 35‰ atau dalam istilah lainnya disebut psu (practical salinity unit). Air tawar memiliki salinitas 0 ‰, sedangkan air payau memiliki salinitas antara 1‰ - 30‰, sedangkan air laut/asin memiliki salinitas diatas 30‰. (Surat Faathir ayat 12)
Dengan dasar pengetahuan di atas maka dalam usaha budidaya ikan salinitas air yang digunakan dalam budidaya ikan harus disesuaikan dengan kisaran salinitas yang dapat ditoleransi oleh ikan. Dalam laporan kali ini ikan yang digunakan dalam praktikum adalah ikan air tawar yaitu ikan mas (Cyprinus carpio). Dengan melakukan praktikum ini dapat diketahui kisaran salinitas yang dapat ditoleransi oleh ikan mas.

B. Tujuan
 Mahasiswa dapat mengetahui kisaran pH yang optimum bagi kehidupan ikan.
 Mahasiswa dapat mengetahui kebutuhan kapur untuk menetralkan pH perairan.
 Mahasiswa dapat mengetahui kisaran salinitas yang dapat ditoleransi oleh ikan mas.

BAB II
TINJAUAN PUSAKA

A. Pengaruh Salinitas pada Ikan Air Tawar (ikan mas)
1. Ikan mas (Cyprinus carpio)

Berdasarkan ilmu taksonomi (hewan), ikan mas termasuk ke dalam golongan family Cyprinidae. Ikan mas menyukai tempat hidup (habitat) diperaoran tawar yang tidak terlalu dalam dan airannya tidak terlalu deras, misalnya dipinggiran sungai atau danau. Ikan ini dapat hidup baik pada ketinggian 150-600 m diatas permukaan laut (dpl) dan pada suhu 25-30OC. meskipun tergolong ikan air tawar, ikan mas terkadang juga ditemukan perairan payau atau di muara sungai yang bersalinitas (kadar garam) 25-30%o.

2. Salinitas

Salinitas menurut Boyd (1982) dalam Ghufran dkk (2007), salinitas adalah kadar seluruh ion – ion yang terlarut dalam air. Komposisi ion – ion pada air laut dapat dikatakan mantap dan didominasi oleh ion – ion tertentu seperti klorida, karbonat, bikarbonat, sulfat, natrium, kalsium dan magnesium. Berdasarkan kemampuan ikan menyesuaikan diri pada salinitas tertentu, dapat digolongkan menjadi Ikan yang mempunyai toleransi salinitas yang kecil (Ctenohaline) dan Ikan yang mempunyai toleransi salinitas yang lebar (Euryhaline). Pada Tabel 1. menyajikan klasifikasi air berdasarkan salinitas




3. Osmoregulasi

Organisme akuatik mempunyai tekanan osmotik yang berbeda-beda dengan lingkungannya, oleh karena itu ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air, agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya berlangsung normal. Pengaturan osmeotik cairan pada tubuh ikan disebut osmoregulasi.

Osmoregulasi pada organisme akuatik dapat terjadi dalam dua cara yang berbeda (Gilles dan Jeuniaux, 1979 dalam Affandi et al., 2002) yaitu :
• Usaha untu menjaga konsentrasi osmotik cairan diluar sel (ekstraseluler) agar tetap kosntan terhadap apapun yang terjadi pada konsentrasi osmotik medium eksternalnya.
• Usaha untuk memelihara isoosmotik cairan dalam sel (interseluler) terhadap cairan luar sel.

Setiap organisme mempunyai kemampuan yang berbeda-beda untuk menghadapi masalah osmoregulasi sebagai respon atau tanggapan tehadap perubahan osmotik lingkungan eksternalnya. Perubahan kosentrasi ini cenderung mengganggu kondisi internal yang mantap. Untuk menghadapi masalah ini hewan melakukan pengaturan tekanan osmotik dengan cara :
• Mengurangi gradien osmotik antara cairan tubuh dengan ingkungannya.
• Mengurangi permeabilitas air dan garam.
• Melakukan pengambilan garam secara selektif.

Pada organisme akuatik seperti ikan, terdapat beberapa organ yang berperan dalam pengaturan tekanan osmotik atau osmoregulasi agar proses fisiologis di dalam tubuhnya dapat berjalan dengan normal. Osmoregulasi ikan dilakukan oleh organ-organ ginjal, insang, kulit dan saluran pencernaan.
a. Ginjal

Ginjal merupakan organ ekresi yang mempunyai peranan di dalam proses penyaringan (filtrasi). Ikan Jumlah glomerulus ginjal ikan betulang sejati (teleostei) air tawar lebih banyak dan diameternya juga lebih besar apabila dibandingkan dengan ikan bertulang sejati (teleostei) air laut. Kondisi ini dikaitkan dengan fungsinya untuk lebih dapat menahan garam-garam tubuh tidak keluar dan mengeluarkan atau memompa air keluar dengan menggunakan urine sebanyak-banyaknya. Urine yang dikeluarkan sangan ancer.

b. Insang

Insang emmpunyai peranan yang sangat penting sebagai organ yang mampu dilewati air maupun mineral, serta tempat dibuangnya sisa metabolisme (Moyle dan Cech, 1999 dalam Affandi, 2001). Permeabilitas insang yang tinggi terhadap ion-ion monovalen Na+ dan Cl- , sehingga pasif brgerak dari media atau lingkungan air laut ke dalam plasma.

c. Kulit

Pada ikan teleostei ikan yang bersifat hiperostomik terhadap media atau lingkungan hidupnya, masalah utama yang muncul adalah bagaimana memamsukkan air secara osmose.

d. Saluran Pencernaan

Saluran pencernaan yang berperan dalam osmoregulasi adalah bagian esofagus dan usus. Dinding saluran pencernaan memberikan sedikit resisten terhadap difusi garam-garam dan air ke dalam kamar-kamar cairan ekstraseluler pada kelompok ikan Peromyzonid, utuk mengganti kehilangan air hasil dari gradien difusi medium eksternal.

B. Pengaruh pemberian kapur terhadap pH
a. pH Perairan

pH perairan merupakan salah satu parameter kualitas air yang sangat berpengaruh pada perairan budidaya. Menurut Wetzel (2001) dalam Effendi (2003) pH (puissance negatif de H) adalah suatu parameter kimia perairan yang menunjukan jumlah ion H+ yang terurai dalam air. Nilai pH menyatakan tingkat keasaman atau mengukur konsentrasi aktivitas hidrogen ionnya.

Menurut Ghufran dkk (2007), dalam perairan pH dapat mempengaruhi :
• tingkat kesuburan perairan karena mempengaruhi kehidupan jasad renik seperti plankton
• proses biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi
• toksisitas suatu senyawa kimia.
• tipe dan laju kecepatan beberapa bahan dalam air

Organisme akuatik hidup pada pH tertentu. Menurut Asikin (1992) besaran pH berkisar dari 0 (sangat asam) sampai dengan 14 (sangat basa/alkalis). Nilai pH kurang dari 7 menunjukkan lingkungan yang masam sedangkan nilai diatas 7 menunjukkan lingkungan yang basa (alkalin). Sedangkan pH = 7 disebut sebagai neteral.

Menurut Irawan (2002) pada pH rendah (Keasaman yang tinggi) kandungan oksigen menurun , aktivitas pernapasan naik dan selera makan akan berkurang. Hal yang sebaliknya terjadi pada suasana basa. Berdasarkan nilai kisaran pH menurut EPA (Environmental Protection Agency) untuk kehidupan organisme air adalah 6,5 - 8,5. Menurut Swingle dalam Hickling (1978) usaha budidaya ikan akan berhasil baik dalam air dengan pH 6,5 – 9,0, sedangkan titik kematian ikan terjadi pada pH 4.00 untuk asam dan 11.00 untuk basa. Sedangkan selera makan tertinggi di dapat pada pH 7,5 – 8,5. Pada kolam dan tambak yang banyak dijumpai tumbuhan renik, pH air pada pagi hari biasanya mencapai kurang dari 6,5. Sedangkan pada sore dapat mencapai 8-9. Pada kolam dengan system resirkulasi, air cenderung menjadi asam karena proses nitrifikasi dari bahan organic akan menghasilkan karbondioksida dan ion hydrogen.

Reaksi-reaksi kimia dan senyawa-senyawa yang mengandung racun perubahan asam atau basa di perairan dapat mengganggu sistem keseimbangan ekologi sangat berkaitan dengan pH (Mackereth et al., 1989 dalam Effendi, 2003). Tidak semua makhluk hidup dapat bertahan pada perubahan pH perairan. Oleh karena itu alam telah menyediakan mekanisme yang unik,agar perubahan tidak terjadi. Misalkan terjadi tetapi berjalan secara perlahan. Sistem pertahanan ini biasa disebut dengan sistem pembufferan.

Menurut Ghufran dkk (2007), untuk penurunkan kandungan pH di dalam perairan dapat dilakukan dengan melalukan air melalui tanah gambut, biasanya yang digunakan adalah meat moss (gambut yang berasal dari moss). Biasanya juga dilakukan dengan menganti air dengan air yang berkadar kesadahan rendah, air hujan atau air yang telah direbus, air ion, dan air suling (air destilasi). Sedangkan untuk meningkatkan pH perairan dengan cara memberikan aerasi yang efektif, melewatkan air pada pecahan koral, pecahan kulit kerang, atau potongan batu kapur, atau melakukan pergantian air.

b. Kapur

Menurut Ghufran dkk (2007) dalam kegiatan budidaya ikan, kapur memiliki beberapa fungsi antara lain sebasgai berikut :
• meningkatkan pH tanah
• membakar jasad-jasad renik penyebab penyakit dan hean liar
• mengikat dan mengendapakan butiran lumppur halus
• memperbaiki kulitas tanah
• meningkatkan fhospor yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan plankton.

Selain itu menurut Amrullah (1997) dalam Ghufran dkk (2007) kapur juga dapat berfungsi sebagai disinfektan yang bisa mematikan kuman.

Kapur yang umum digunakan untuk pemeliharaan ikan di kolam ialah kapur pertanian atau juga dikenal dengan sebutan kalsit (Caco3). Menurut Boyd (1979) dalam Ghufran dkk (2007), kapur CaCO3 memiliki daya netralisasi 100%. Sedangkan untuk poemeliharaan ikan di tambak banyak menggunakan kapur pertanian dan dolomit (CaCO3.MgCO3) yang memiliki daya netralisasi 108%. ini disebabkan kedua kapur tersebut mempuyai kemampuan meningkatkan alkalinitas yang lebih tinggii dibandingkan dengna kapur lain. Disamping itu kaput tersebut (kapur pertanian dan dolomit) dalam meningkatkan pH air tidak terlalu drastis sehingga aman bagi biota yang dipelihara.


Takaran kapur yang digunakan disesuaikan dengan nilai pH tanah. Keefektifan material kapur tergantung bentuk dan ukuran partikel. Kapur dengan ukuran partikel yang lebih kecil adalah lebih efektif, karena luas permukaan yang bereaksi lebih besar (Ghufran dkk, 2007).
BAB III
METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat

Kegiatan praktukum dilaksanakan pada hari selasa tanggal 23 Maret 2009 yang bertempat di Hatchery Departemen Budidaya Perairan VEDCA Cianjur.

B. Alat dan Bahan
1. Praktikum Pengaruh kapur pada pH



C. Prosedur Kerja
1. Praktikum Pengaruh Kapur pada pH
• Menyiapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan
• Memasukkan air sebanyak 1 liter ke dalam toples
• mengukur pH awal air
• Memasukkan asam sulfat setetes demi setetes hingga nilai pH menjadi 5
• Menghitung kebutuhan kapur untuk menetralkan pH air
• Menimbang dan memasukkan kapur sedikit demi sedikit ke dalam toples dan mengukur setiap perubahan pH yang terjadi
• Mencatat hasil kebutuhan kapur untuk menurunkan pH

2. Praktikum pengaruh salinitas terhadap ikan mas
Tahap I
• Persiapkan alat dan bahan
a. 2 buah toples untuk masing-masing perlakuan yakni yang terdiri dari :
- Perlakuan I. air media dengan salinitas 7 ppt
- Perlakuan II. Air media dengan salinitas 9 ppt
b. Mengkalibrasi hand refraktometer
- Angkat penutup kaca prisma, letakan satu sampai dua tetes air yang akan diukur. Kemudian tutup kembali dengan hati-hati agar jangan sampai terjadi gelembung udara di permukaan kaca prisma
- Lihatlah melalui kaca pengintai, dan akan terlihat pada lensa nilai atau salinitas dari air yang sedang diukur
- Bersihkan permukaan prisma setelah selesai digunakan
c. Menimbang garam sesuai dengan kebutuhan
• Membuat air garam sesuai dengan jenis perlakuan yang telah ditentukan dan masukkan ke dalam toples sebanyk 1 liter serta diberi aerasi
• Memasukkan 4 ekor ikan (2 ekor untuk masing-masing perlakuan) ke dalam toples
• Mengamati dan mencatat tingkah laku ikan setiap 10 menit selama 1 jam, termasuk dampak dari proses adaptasi tersebut (feses, jumlah ikan yang mati dan lain-lain)

Tahap II
• Setelah 1 jam (pengamatan tahap 1 berakhir), salinitas diturunkan media menjadi 0 ppt dengan menambahkan air tawar secara gradual setiap 10 menit.
• Mengamati dan mencatat tingkah laku ikan setiap setelah penurunan salinitas, dan setiap 10 menit (setelah salinitas 0 ppt) selama 1 jam, termasuk dampak dari proses adaptasi tersebut (feses, jumlah ikan yang mati dan lain-lain)
C. Prosedur Kerja
1. Praktikum Pengaruh Kapur pada pH
• Menyiapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan
• Memasukkan air sebanyak 1 liter ke dalam toples
• mengukur pH awal air
• Memasukkan asam sulfat setetes demi setetes hingga nilai pH menjadi 5
• Menghitung kebutuhan kapur untuk menetralkan pH air
• Menimbang dan memasukkan kapur sedikit demi sedikit ke dalam toples dan mengukur setiap perubahan pH yang terjadi
• Mencatat hasil kebutuhan kapur untuk menurunkan pH



B. Pembahasan
1. Pengaruh Salinitas pada Ikan Mas

Nilai salinitas dalam suatu perairan terutama pada perairan tawar (nilai salinitas 0-5 ppt), harus memiliki batas optimum untuk pemeliharaan ikan. Menurut Boyd (1982) dalam Ghufran dkk (2007), salinitas ditentukan berdasarkan banyaknya garam-garam yang larut dalam air. Parameter kimia tersebut dipengaruhi oleh curah hujan dan penguapan (evaporasi) yang terjadi suatu daerah. Berdasarkan kemampuan ikan menyesuaikan diri pada salinitas tertentu, dapat digolongkan menjadi Ikan yang mempunyai toleransi salinitas yang kecil (Ctenohaline) dan Ikan yang mempunyai toleransi salinitas yang lebar (Euryhaline).

Dari hasil praktikum Pengelolaan kualitas air tentang pengaruh salinitas terhadap ikan mas (Cyprinus carpio). Wadah yang digunakan yaitu toples sebanyak 2 buah yang diisi dengan air tawar sebanyak 1 liter, dengan menambahkan garam sebanyak 7 gram dan 9 gram untuk mendapatkan salinitas 7 ppt dan 9 ppt kemudian dimasukan ikan mas sebanyak 2 ekor. Pengamatan dilakukan setiap 10 menit sekali, tingkah laku dapat dilihat pada Tabel. 6 diatas. Setiap 10 menit sekali ikan mas mengalami perubahan tingkah laku. Pada sampel ikan mas yang digunakan untuk praktikum masih dapat mentoleransi pada kandungan salinitas yang tinggi. Sehingga ikan mas masih bisa hidup pada kadar salinitas 30 – 35 ppt. Hal ini dikarenakan ikan mas termasuk ke dalam golongan ikan yang mempunyai toleransi yang lebar terhadapa salinitas.

Salinitas yang digunakan pada saat praktikum adalah 7 ppt dan 9 ppt. Tingkah laku ikan mas (Gambar. 1) selama pengamatan dari menit pertama masih aktif bergerak sampai tidak bergerak (diam). Tingkah laku ikan mas yang sering berada pada sumber aerasi karena pada salinitas yang tinggi kandungan oksigen terlarut pada perairaran akan rendah.
Kandungan kadar garam dalam suatu media berhubungan erat dengan sistem (mekanisme) osmoregulasi pada organism air tawar. Affandi (2001) berpendapat bahwa organism akuatik mempunnyai tekanan osmotik yang berbeda-beda dengan lingkungannya. Oleh karena itu ikan harus mencegah kelebihan air atau kekurangan air agar proses-proses fisiologis di dalam tubuhnya berlangsung normal.

Dalam pengaturan tekanan osmotik pada setiap ikan, termasuk ikan mas melibatkan peran beberapa organ. Hal ini sesuai dengan pendapat Affandi (2001) bahwa organ osmoregulasi pada ikan meliputi ginjal, insang, kulit dan saluran pencernaan. Pada pengamatan tingkah laku ikan mas, cenderung terlihat pasif bergerak. Berdasarkan pendapat Affandi (2001) bahwa insang merupakan organ penting yang mampu dilewati air mapun mineral, pemeabilitas tinsang yang tinggi terhadapp ion-ion dapat menyebabkan insang pasif bergerak. Untuk organ dalam yang berhubungan dengan organ osmoregulasi tidak dapat diketahui secara pasti pengaruhnya terhadap kadar salinitas karena hanya dilakukan pengamtan tingkah laku ikan saja. Pengaruh organ-organ tersebut hanya dapat diketahui berdasarkan literatur yang ada.

Selama perlakuan pertama berlangsung, Penggunaan aerasi pada saat pengamatan, sangat dibutuhkan untuk menyuplai kandungan oksigen pada saat salinitas tinggi. Karena pada salinitas tinggi telah diketahui bahwa kandungan oksigen rendah, maka ikan mas sering berkumpul didaerah aerasi. Bukaan mulut yang cepat, gerakan tapis insang yang cepat pada perlakukan yang menggunakan kadar salinitas 9 ppt dilakukan oleh ikan mas karena untuk mendapatkan oksigen. Pada salinitas yang tinggi, ikan dalam adaptasinya akan kehilangan air melalui difusi keluar badannya. Walaupun demikian, salinitas air sebaiknya tidak mengalami fluktuasi (naik-turun) yang besar. Dalam budidaya ikan, nilai salinitas harus stabil, tidak mengalami perubahan ekstrem (drastis) mencapai angka 5.
2. Praktikum Pengaruh Kapur pada nilai pH

Menurut Irawan (2002) pada pH rendah (keasaman yang tinggi) kandungan oksigen menurun, aktifitas makan naik dan selera makan akan berkurang. Dalam maslah ini, perlu dilakukan untuk menaikkan pH dalam suatu media budidaya.

Menurut Ghufran dkk (2007), salah satu cara menigkatkan pH perairan dengan memberikan kapur. Dalam kegiatan praktikum, kapur yang digunakan ialah jenis kapur yang biasanya digunakan dalam kegiatan pemeliharaan ikan atau yang dikenal dengan sebutan kalsit (CaCO3). Sesuai dengan pendapat Boyd (1979) bahwa kapur CoCO3 memiliki daya netralisir 100%. Artinya, dalam menaikan pH air tidak terlalu drastic sehingga aman bagi kehidupan biota yang dipelihara.

Kegiatan praktikum dilakukan untuk mengertahui kebutuhan kapur yang diperlukan untuk meningkatkan (menetralkan) pH suatu air media. Dari hasil praktikum (Tabel 2.) yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa kapur (Gambar. 3) memang berperan dalam menetralkan pH. Dalam hal ini, mahasiswa menggunakan alat ukur berupa pH meter. Sumber air yang digunakan berasal dari hatchery dengan dengan pH awal 8,20. Nilai pH tersebut merupakan kisaran pH yang kurang optimum dalam pemeliharaan ikan. Dimana berdasarkan literatur bahwa kisaran pH untuk pemeliharaan ikan adalah 6,5 – 8,5, dengan nilai optimum 6,8 (Environmental Protection Agency). Oleh karena itu perlu dilakukannya penetralan pH.
Dalam kegiatan praktikum, pertama-tama dilakukan penambahan asam sulfat dengan tujuan untuk menurunkan pH. Sehingga keadaan perairan menjadi asam, hal ini dilakukan untuk mengumpamakan jika terjadi kondisi asam dalam suatu perairan atau usaha budidaya. Berdasarkan hasil pengukuran, penambahan asam sulfat sebanyak 5 ml pada perairan dengan pH 8,20 menyebabkan pH turun menjadi 6,65. Selanjutnya dilakukan penambahan sebanyak 5 ml sehingga pH menjadi 5,95. Penambahan asam sulfat 1 ml menyebabkan pH menjadi 5,81, penambahan asam sulfat 1 ml berikutnya menyebabkan pH menjadi 5,40. Setelah kondisi perairan menjadi asam maka dilakukanlah pengapuran untuk menetralkan kembali pH pada air tersebut. Penambahan kapur (CaCO3) sebanyak 5 gram, pada air sebanyak 1 liter menunjukkan nilai pH awal 5,40 merubah pH menjadi 7,45. Dengan begitu setiap penambahan setiap 1 gram kapur dapat menaikkan pH sebesar 2,05.

Untuk perbandingan hasil praktikum, dilakukan dengan membandingkan hasil dengan kelompok lain (4A) yang pengukuran pH nya menggunakan alat ukur ion (Gambar 4). Terlihar bahwa hasil pengukuran antar kelompok berbeda. Hal ini dapat dilihat dari pengukuran yang telah dilakukan oleh kelompok lain. Air yang digunakan berasal dari sumber air yang sama yaitu hatchery. Dimana pH awal sebesar 8,20 dan sampel yang digunakan sebanyak 500 ml. Dengan perlakuan yang sama yaitu menambahkan asam sulfat terlebih dahulu sebelum dilakukannya pengapuran. Penambahan asam sulfat sebanyak 5 ml menyebabkan pH turun menjadi 6,65. Dan penambahan selanjutnya sebanyak 3 ml menjadikan pH turun menjadi 4,09. Langkah selanjutnya yaitu penambahan kapur untuk menetralkan kembali pH air. Penambahan kapur sebanyak 1,20 gram menaikkan pH menjadi 6,80 dan pH ini merupakan pH yang optimum untuk pemeliharaan ikan. Jika dikonversikan penambahan kapur sebanyak 1,20 gram pada air sebanyak 500 ml dengan pH 4,09 menaikkan pH sebesar 2,25. Maka dapat diketahui setiap 1 gram kapur menaikkan pH sebesar 2,25.
Terjadinya perbedaan hasil dari pengukuran pH air yang berasal dari sumber air yang sama dengan menggunakan alat pengukur yang berbeda. Pada kelompok lain menggunakan alat ukur ion meter Untuk volume air yang digunakan kelompok 4A sebanyak 500 ml, sedangkan kelompok 4B sebanyak 1 liter menyebabkan perbedaan yang cukup tinggi yaitu kelompok 4A setiap 1 gram kapur menaikkan pH sebesar 2,25 dengan air 500 ml atau jika dalam 1 liter kenaikkan pHnya sebesar 1,125. Sedangkan pada kelompok 4B penambahan kapur sebanyak 1 gram menaikkan pH sebanyak 0,41. Hal ini berarti kemampuan kapur pada kelompok 4A lebih baik dari pada kemampuan kapur kelompok 4B. Dimana perbedaannya mencapai 2,7 kali lipat. Seharusnya kemampuan kapur tersebut berlaku sama namun hal ini terjadi karena penggunaan alat ukur yang berbeda. Kemungkinan alat ukur pH meter (Gambar. 5) belum dilakukan kalibrasi sehingga menyebabkan pengukuran tidak akurat. Oleh karena itu hasil yang menggunakan ion meter lebih akurat dari pada yang menggunakan pH meter. Dan hasil pengukurannya dapat digunakan untuk aplikasi di lapangan.
Dalam perairan yang sebenarnya biasanya kondisi pH dalam perairan cenderung stabil. Dimana keadaan stabil terjadi akibat adanya reaksi sebagai berikut.

CO2 + H2O H2CO3 2H+ + CO3-2

Seperti yang terlihat reaksi diatas bahwa CO2 (karbondioksida) yang masuk ke dalam perairan akan bereaksi dengan air sehingga menghasilkan asam karbonat (H2CO3) yang kemudian akan dipecah menjadi ion-ion hidrogen dan karbonat. Ketika keadaan asam terjadi di perairan maka laju reaksi berjalan ke arah kanan. Dan sebaliknya ketika perairan mengalami kondisi basa maka laju reaksi berjalan ke arah kiri. Jadi dalam kondisi ini air dapat menetralisir pH perairan dimana peranan karbonat yang terbentuk sebagai penyangga.

Dan ketika masuknya zat asam pada perairan maka hal yang harus dilakukan adalah pengapuran, seperti yang dilakukan pada praktikum. Adapun reaksi yang terjadi di dalam pengapuran, sebagai berikut.

H2SO4 + CaCO3 + H2O H2CO3 + CaSO4 + H2O
Kapur

Pada reaksi di atas diasumsikan bahwa keadaaan asam yang terjadi akibat asam sulfat yang masuk. Dan reaksi di atas tidak mutlak terjadi di suatu perairan, tergantung zat asam yang masuk.

Dalam kegiatan pemeliharaan ikan, kebutuhan (takaran) kapur yang digunakan disesuaikan dengan nilai pH tanah. Amrulla (1997) dalam Ghufran (2007) menyatakan bahwa keefektifan material kapur tergantung bentuk dan ukuran partikelnya. Karena kapur yang partikelnya berukuran lebih kecil, luas permukaan akan berekasi lebih besar. Dengan mengetahui kebutuhan (takaran) kapur yang sesuai maka akan membantu praktisi perikanan dalam kegiatan budidaya sehingga nilai pH sebagai salah satu parameter kimia dalam suatu media pemeliharaan dapat menunjang kesesuaian kualitas air untuk kehidupan organisme yang dipelihara.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum yaitu
• Bahwa nilai pH yang optimum untuk budidaya ikan adalah 6,8.
• Bahwa dalam 1 gram kapur yang ditambahkan dalam perairan dapat menaikkan pH sebesar 0,41 dalam 1 liter air. Hal ini dirasa kurang akurat karena pada saat penggunaan alat ukur yang berupa pH meter belum dilakukan kalibrasi. Dan pada kelompok 4A dalam 1 gram kapur yang ditambahkan dalam perairan dapat menaikkan pH 1,125 dalam 1 liter air.

B. Saran
• Prasarana yang digunakan dalam kegiatan praktikum harus tersediasesuai dengan kebutuhan, seperti alat pengukur pH.
• Sebaiknya alat sebelum digunakan dilakukan kalibrasi terutama pada pH meter agar data yang dihasilkan lebih akurat.
• Keselamatan kerja pada praktikum terutama pada saat menggunakan kapur, sebaiknya menggunakan masker.

DAFTAR PUSTAKA

Affandi. 2001. Fisiologi Hewan Air. Unri, Press : Riau
Gufhran dkk. 2007. Pengelolaan Kualitas Air Dalam Budidaya Perairan. Rineka Cipta : Jakarta

Reaksi: 

0 komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
SINGKIL, NAD, Indonesia
SAYA ORANGNNYA SIMPLE DAN SELALU TERTARIK DENGAN HAL - HAL YANG BERBAU TEKNOLOGI DAN ILMU PENGTAHUAN. DAN SAYA TIDAK SUKA DENGAN KEKERASAN SERTA KEKEJAMAN. YANG PENTING MENURUT SAYA DAMAI ITU INDAH....

BERITA

Loading...