PEMUPUKAN KELAPA SAWIT

Rabu, 22 April 2009

Diposkan oleh MANDALA

BAB III
METODE PELAKSANAAN PKL
A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan PKL
Pelaksanaan PKL (Praktek Kerja Lapang) dimulai pada tanggal 10 Desember 2009 s/d 21 Januari 2009. Kegiatan PKL dilaksanakan di BIB Lembang yang beralamatkan di Jl. Kiwi Kayu Ambon, kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat Kegiatan PKL (Praktek Kerja Lapang) dilaksanakan setiap hari kerja serta hari libur yaitu Senin-minggu dengan waktu pelaksanaannya mulai pukul 07.00-15.00 dengan jam istirahat 12.00-13.00. Pelaksanaan PKL di BIB Lembang meliputi perewatan ternak, penyediaan bahan pakan, kesehatan ternak, penampungan semen, laboratorium dan distribusi semen beku.
B. Metode
1. Orientasi
Sebelum mengikuti kegiatan PKL (Praktek Kerja Lapang), mahasiswa dikumpulkan di salah satu ruang kerja untuk mengikuti orientasi yang dibimbing oleh Ir. Supraptono selaku Pembimbing di BIB Lembang. Dalam orientasi ini mahasiswa PKL menerima petunjuk, pengarahan dan pengenalan BIB Lembang serta peraturan yang berlaku selama pelaksanaan PKL. Setelah itu kami juga diperkenalkan kepada para staff dan karyawan BIB Lembang serta struktur organisasi yang ada di BIB Lembang
Selain itu untuk persiapan mengikuti kegiatan PKL mahasiswa juga diberikan penjelasan tentang lingkup kegiatan industri yang bisa diikuti selama PKL, dimulai dari persiapan kandang, pembibitan, pemberian pakan, pengendalian penyakit, pemanenan hasil, penanganan limbah, teknologi pakan, analisa usaha, pemasaran, dan recording.
2. Observasi
Kegiatan observasi dilaksanakan setelah orientasi yang bertujuan agar mahasiswa mengetahui ruang lingkup tempat PKL. Dalam kegiatan ini mahasiswa mengadakan survei langsung untuk memperoleh data dan informasi mengenai lokasi, situasi dan kondisi perusahaan/instansi tempat PKL. Baik alat dan bahan yang digunakan maupun studi pustaka yang mengenai penggemukan sapi potong yang ada di BIB Lembang
3. Adaptasi
Adaptasi lingkungan kerja pada saat PKL dilakukan dengan cara mengikuti semua kegiatan yang dilakukan di BIB Lembang sebaik mungkin serta selalu mentaati segala peraturan yang berlaku di BIB Lembang. Dengan demikian akan terjalin hubungan kekrabatan antara mahasiswa PKL dan staff BIB Lembang, hal ini akan membuat kondisi tempat PKL menjadi nyaman serta mempermudah dalam kegiatan-kegiatan selanjutnya selama PKL termasuk pencarian data/informasi yang berkaitan dengan kegiatan PKL.
4. Pelaksanaan PKL
Mahasiswa mengikuti kegiatan PKL dengan cara mahasiswa dilibatkan langsung pada proses penggemukan sapi potong atau pada aktivitas-aktivitas yang dapat memenuhi kompetensi mahasiswa sesuai bidang peminatan dan SKS yang ditentukan oleh pihak kampus yaitu:
a. Perawatan ternak
b. Penyediaan pakan
c. Pengendalian penyakit
d. Penampungan semen
e. Pemeriksaan semen (Laboratorium)
f. Distribusi semen beku
Selain praktek langsung di lapangan pelaksanaan PKL untuk mencari informasi yang berhubngan dengan proses PKL dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya;
 Pembinaan yang dilakukan oleh pembimbing untuk memberikan pengarahan prosedur kerja sebelum praktek dilaksanakan.
 Wawancara kepada teknisi/pihak yang bersangkutan untuk memperoleh informasi dan pengetahuan tambahan yang diperlukan.
 Diskusi dengan tujuan memecahkan masalah ataupun kendala-kendala yang dijumpai di lapangan.
 Studi referensi yaitu pengumpulan referensi dan literature sebagai pembanding dan pelengkap data di lapangan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Perusahaan
1. Sejarah Perusahaan
Insiminasi Buatan pertama kali diperkenalkan pada tahun 1950, di fakultas Kedokteran Hewan, Institut pertanian Bogor. Sedangkan adanya IB dengan menggunakan semen cair baru diterapkan pada tahun 1952 dan selanjutnya menyebar semen cair baru diterapkan pada tahun 1952 dan selanjutnya menyebar keseluruh wilayah Indonesia. Seteleah beberapa tahun kemudian penerapan bioteknologi IB antara lain melalui Rencana Kemakmuran Indonesia (RKI) dalam rencana Kasimo. Rencana tersebut adalah IB di Pahang dan Madura namun rencana tersebut mengalami hambatan dan kesulitan sehingga tidak diteruskan.
Pada tahun 1972/1973 pelaksanaan IB dipusatkan di Pangalengan (jawa barat) Ungaran (Jawa Tengah) dan Nongko Jajar (Jawa Timur) dengan menggunakan semen beku impor sebagai kebijakan dari Direktorat Jendral Peternakan. Hal ini terjadi pada Pelita 1 (1968-1973), dimana program IB diselengarakan kembali khususnya untuk menunjang program perbaikan kualitas sapi perah di Jawa.
Penyelenggaraan semen beku dari tahun ketahun semakin meningkat. Pada tahun 1972/1973 tersebar hanya pada 7 propinsi, tahun 1974/1975 11 propinsi, tahun 1976/1977 menjadi 14 propinsi dan tahun 1987 menyebar ke 23 propinsi, pada akhir pelita 1 jumlah semen beku yang diimpor mencapai 17,878 dosis, berasal dari beberapa Negara antara lain Inggris, Amerika, Australia, dan New Zealand.
Suatu sentral IB sebagai suatu lembaga dibawah Direktorat Jenral Peternakan diresmikan pada tanggal 3 April 1976. Sentral IB ini didirikan atas kerjasama pemerintah Indonesia dengan New Zealand. Pemerintah New Zealand membantu dalam bidang peternakan laboraturium dan pelatihan sumber daya manusia. Sentral IB bertugas mengadakan bibit pejantan unggul, memproduksi, mendistribusi dan mencatat IB di daerah.
Pada akhirnya sentral IB yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenral Peternakan diubah namanya menjadi Balai Insiminasi Buatan (BIB) Lembang berdasarkan keputusan Mentri Pertanian Republik Indonesia No 314/Kpts/5/1978 tanggal 25 Mei 1978.
2. Lokasi dan Letak Geografis
Balai Insiminasi Buatan Lembang terletak sekitar 18 km sebelah utara kota Bandung, tepatnya di jalan Kiwi Kayu Ambon no 78 Desa Kayu Ambon Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung. Lahan BIB Lembang seluas 7,8 Ha, dengan tataguna lahan tercantum pada table 1.
Tabel 1. Luas dan tataguna lahan BIB Lembang Bandung.
No Penggunaan Lahan Luas (M2)
1
2
3
4
5
6
7
8 Gedung Kantor
Ruang Pertemuan
Gudang Barang
Kandng Ternak
Kebun Rumput dan Pengembalaan
Jalan
Bangunan lain
Lain-lain 722
1058
50
696
72400
2000
785
289
Sumber BIB Lembang, Desember 2008
Balai Insiminasi Buatan Lembang terletak pada ketingian 1100 m diatas permukaan laun dengan topografi berbukit, dengan suhu 17ºC-25ºC dan kelembaban relative 82 % dengan curah hujan berkisar 2200-2500 mm/tahun.


3. Stuktur Organisasi BIB Lembang
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian NO 314/Kpts/Org/5/1978 Susunan orgaisasi BIB Lembang adalah:
1. Kepala Balai
2. Sub bagian tata usaha
3. Seksi pemeliharaan ternak
4. Seksi produksi dan distribusi
5. Seksi sarana produksi
Kemudian disempurnakan lagi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian RI NO 287/Kpts/OT. 210/4/2002 Tanggal 16 April, yaitu : (Gambar 1)
1. Kepala Balai
2. Sub Bagian Tata Usaha
3. Seksi Pelayanan Teknik Pemeliharaan Ternak
4. Seksi Pelayanan Teknik Produksi Semen
5. Seksi Jasa Produksi
6. Kelompok Jabatan Fungsional








Gambar 1. Struktur organisasi BIB Lembang
4. Ruang Lingkup dan Komodistas Usaha
BIB Lembang adalah UPT (Unit Pelaksana Teknis) Direktorat Jendral Peternakan dibidang produksi dan distribusi semen beku yang berada dan bertangguang jawab kepada Direktur Jendral Peternakan BIB Lembang mempunyai tugas pokok yaitu melaksanakan produksi dan penyaluran air mani beku sesuai dengan pengaturan undang-undang yang berlaku.
5. Fungsi BIB Lembang adalah:
1. Melaksanakan perawatan ternak, kesehatan, serta penyediaan makanan
2. Melaksanakan penampungan, penyimpanan, dan distribusi semen beku serta pencatatan pemantauan penggunaan
3. Melaksanakan pengujian keturunan pejantan unggul, pengujian semen dan pengolahannya menjadi mani beku serta pengujian kesehatan dan diagnose penyakit ternak
4. Melaksanakan urusan tata uasaha dan rumah tangga BIBI Lembang
5. Melakukan uji performan sapi perah dan sapi potong keturunan IB
6. Tugas Pokok BIB Lemang yaitu melaksanakan
1. Produksi
a. Produksi mani beku pejantann sapi perah dan sapi potong diatur menurut target kebutuhan masing-masing pejantan dan daerah dalam satu tahun
b. Mutu produksi mani beku sudah disesuaikan dengan standar internasional
c. Produksi mani beku setiap tahun meningkat sejalan dengan kebutuhan kegiatan IB di daerah
d. Produksi mani beku sapi pada umumnya strain Bostaurus
2. Distribusi
a. Distribusi mani beku produksi BIB Lembang diutamakan kekawasaa barat Indonesia yaitu 8 propinsi sumatera, 5 propinsi jawa barat, NTB khususnya mani beku Brangus.
b. Distribusi mani beku dilakukan berdasarkan target permintaan propinsi, dan di distribusikan melalui darat maupun udara.
Struktur populasi ternak pejantan yang ada di BIB Lembang ada 88 ekor, dengan rincian dapat dilihat pada table 2.
Table 2. Bangsa sapi pejantan di BIB Lembang
No Bangsa pejantan Jumlah Tipe Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10 Angus
Brangus
Brahman
Fries Holstein
Limousin
Simental
Ongole
Kambing P. Etawa
Kambing Boehr
Domba Garut 2
2
7
22
17
28
2
2
3
3 Potong
Potong
Potong
Perah
Potong
Potong
Potong
Potong
Potong
Potong

3 pedet
3 pedet

1 pedet
Sumber BIB Lebang 2009
7. Ketenagakerjaan
Pada saat ini BIB Lembang didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) sebanyak 84 orang dapat dilihat pada table dibawah ini yang terdiri dari:
Tabel 3. Keadaan pegawai berdasarkan jumlahnya
No Jumlah Pegawai 84 orang Jumlah
1
2
3 PNS / CPNS
Tenaga Honorer
Tenaga Harian 81 orang
1 orang
2 orang
Sumber BIB Lebang 2009

Table 4: Keadaan pegawai berdasarkan pendidikan
No Berdasarkan Pendidikan Jumlah
1
2
3
4
5 Magister (S2)
Dokter Hewan
Sarjana Peternakan
Sarjana Muda
Snakma/SLA/SLP/SD 3
8
7
6
57

Table 5 : Keadaan pegawai berdasrkan pejabat structural yang berjumlah 5 orang:
No Pejabat Struktural Jumlah
1
2 Kepala Balai (Es. III-a)
Kepala Seksi/Sub Bagian (Es.IV-a) 1
4

Table 6 : Keadaan Pegawai berdasarkan Pejabat fungsional yang berjumlah 34 orang
No Pejabat fungsional Jumlah
1
2
3 Pengawas Bibit ternak (Wasbitnak)
Medik dan Paramedik Veteriner
Pengawas Mutu Pakan (Wastukan) 22
8
4






B. Hasil Kegiatan PKL
1. Perawatan ternak
a. Perawatan Tubuh Ternak
Perawatan tubuh ternak dilaksanakan setiap pagi mulai pukul 07.00 WIB dengan cara memandikan ternak untuk membersihkan kotoran ternak yang menempel pada bagian tubuhnya.pada pejantan yang akan ditampung semennya, selain tubuhnya dibersihkan dari kotoran juga harus dilakukan pencucian praeputium ini harus diupayakan ssessempuna mungkin sehingga dijamin bersih dari kotoran dan busa sabun. Karena air sabun dapat mematikan seperma.
b. Perawatan kandang dan perlengkapanya
Kandang dibersihkan setiap pagi hari bersamaan dengan memandikan ternak, pembersihan bak pakan dibersihkan sebelum distribusi pemberian pakan. Untuk pembersihan alat kandang dari kotoran dengan sekop dan menempatkannya kedalam wadah baskom, kemudian alas kandang disiram dengan air dan disikat sehingga tidak licin, pembersiahan kolong kandang dengan selang karet dan disiram dengan air kemudian membersihkan saluran air limbah setelah itu mengumpulkan seluruh kotoran ternak yang berada dimasing-masing baskom untuk dijadikan kompos.










Gambar 4: Skema Kandang Sapi Pejantan dilihat dari atas
Keterangan :
a. Alas kandang dengan menggunakan kayu
b. Bak makanan
c. Bak minuman
d. Saluran air Limbah
e. Wadah baskom tempat kotoran
f. Tempat penyimpanan rumput cacahan
g. Bak penampungan air limbah
h. Drum tempat penyimpanan cadangan

c. Sanitasi Kandang
Sanitasi kandang dilakukan pada saat pejantan di padang penggembalaan (line bull) Sanitasi kandang dilakukan dengan cara menghapus hamakan dengan cara menggunakan desinfektan yang terdiri dari Biocid, Destan, Formalin, pada alas kayu secara bergantian sehinga tidak ada jasad renik yang tahan terhadap suatu obat. Sedangkan lantai kandang (tembok) dihapus hamakan dengan cara pengapuran untuk mengendalikan pertumbuhan jamur dan keindahan kandang yang dilakukan setiap 3 – 4 minggu sekali.

d. Penyediaan Makanan Ternak
Jenis makanan yang diberikan terdiri atas hijauan, konsentrat dan makanan tambahan (Suplemen),
Hijauan yang diberikan kepada ternak diperoleh dari kebun rumput sendiri dan pengolahannya secara intensif agar menghasilkan hijauan yang berkualitas bagus dalam jumlah yang cukup. Pengolahan yang dilakukan mencakup pembajakan, pengaritan, pemupukan, penghilangan gulma dan menyiraman.
Urutan penyediaan pakan hiajaun adalah sebagai berikut: pemanenan rumput dengan cara disabit setelah itu rumput yang telah dipanen didiamkan selama satu hari untuk dilayukan agar kandungan airnya turun, esok harinya rumput tersebut dicacah maksudnya agar tercapai efisiensi konsumsi hijauan. Setelah itu disimpan di box makanan yang sudah tersedia untuk pemeberian pagi dan sore hari. Untuk penyediaan hijauan makanan ternak yang di awetkan yaitu rumput Afrika dengan cara dikeringkan dan di simpan di gudang kusus penyimpanan rumput kering kemudian dipergunakan pada waktu jumlah rumput gajah tidak memenuhi kebutuhan ternak.
e. Pemberian Pakan ternak
Pemberian pakan dilakuakan sesuai dengan jadwal yang ditetapkan oleh BIB Lembang dan dapat dilihat pada table
Table 4 : jadwal pemberian pakan ternak di BIB Lembang
No Jam Konsentrat
(kg) Hay
(kg) Rumput Gajah
(kg) Tauge
(kg) Feed Additive
(kg)
1
2
3
4
5 07.00 – 07.15
07.15 – 08.00
08.00 – 09.30
13.00 – 13.30
15.00 – 16.00 -
4
-
2
- 0,5
-
-
-
- -
-
15
-
25-30 -
0,6
-
-
- -
40
-
-
-
Sumber : Balai Insiminasi Buatan Lembang, 2009

f. Perlakuan Pemberian exerrise
Perlakuan pemberian exercise adalah perlakuan yang diberikan pada pejantan di padang penggembalaan, dimaksudkan agar pejantan mendapatkan sinar matahari pagi yang cukup, memperkuat otot-otot kaki, memelihara pertumbuhan kuku yang baik dan dapat merangsang hormone testosterone serta mengkonsumsi rumput afrika secara ad libitum.
Pejantan yang ditempatkan di padang penggembalaan adalah pejantan yang pada pagi hari bersangkutan telah ditampung. Perlakuan ini diberikan sebelum 24 jam dengan cara mengikatkan cincin hidung ternak pada rantai yang terikat pada roller yang terpasang pada batangan kawat baja.
Bagi pejantan yang akan ditampung, Sore hari sebelum pagi hari penampungan diberikan konsentrat sebanyak 5 kg. nilai kandungan nutrisi pakan dilihat pada table 5.

Table 5: kandungan nutrisi pakan ternak yang diberikan di BIB Lembang
No Bahan Makanan Kandungan Zat-zat Makanan
BK
(%) PK
(%) Lemak
(%) TDN (%) Ca (%) P (%)
1
2
3
4
5
6 Rumput Gajah
Rumput Afrika
Hay Rumput Afrika
Tauge
Konsentrat
Jerami 12,92
19,92
10,24
13,25
90,42
90,57 11,56
10,16
8,01
28,68
16,68
5,03 2,29
1,66
0,97
1,35
6,4
0,53 55
-
-
-
70
- 0,14
0,13
0,16
0,22
0,7
0,22 0,34
0,32
0,31
0,52
0,9
0,32
Sumber : Balai Insiminasi Buatan Lembang
2. Kesehatan Ternak
Rendahnya mutu dari semen salah satunya disebabkan ada tidaknya penyakit pada sapi pejantan. Kondisi ini harus disikapi dengan seksama, dalam hal ini BIB Lembeng melakukan upaya perawatan kesehatan ternak melalui upaya pencegahan penyakit, pengendalian penyakit dan pengobatan penyakit.

a. Pencegahan Penyakit
Upaya-upaya yang dilakukan antara lain :
1) Pemotongan kuku
Pemotongan kuku pejantan dimaksudkan agar kuku selalu dalam keadaan baik dan sehat. Kondisi kuku yang kurang baik mungkin ternak tidak dapat menaiki ternak pemancing (teaser), menurunya nafsu makan, selalu gelisah dan libido turun.
Perawatan kuku pejantan delakukan secar peripdic yaitu dua bulan sekali. Alat-alat yang digunakan untuk perawatan kuku antara lain dengan menggunakan pahat, palu, rennet, dan kikir. Kuku yang telah dipotong selanjutnya dibersihkan dan dikikir agar tidak tajam dan direndam dengan cairan antiseptic.
2) Perawatan Kulit
Upaya perawatan kulit dilakukan dengan cara menyemprotkan obat anti ekstoparasit seperti Neocidol keseluruh tubuh bagian tubuh ternak terutama pada sela-sela paha dan lipatan kulit, penyemprotan ini dilakukan pada setiap ternak yang baru di tempatkan di padang penggembalaan.
3) Pemberian Vitamin
Pemberian vitamin dilakikan setiap dua minggu sekali secara bergantian yang di aplikasikan melalui suntikan. Vitamin yang diberikan berupa Vitamin A, B dan E serta multivitamin.
4) Pemotongan rambut Preputium
Pemotongan rambut preputium bertujuan agar semen yang dihasilakan terhindar dari kontaminasi bakteri yang menempel pada rambut preputium yang panjang dan kotor. Pemotongan preputium dilakukan 15 hari sekali.
5) Vaksinasi
Vaksinasi dilakukan secara teratur setiap 6 bulan sekali untuk mencegah penyakit menular.
b. Pengendalian Penyakit
Usaha untuk mengendaliakn penyakit dilakukan dengan cara mengandalkan kerja sama dengan Balai Penelitian Veteriner (Balitver) Bogor. Kerja sama ini meliputi kegiatan pemeriksaan kesehatan pejantan secara laboratories. Dengan informasi dari laboraturium tersebut mengefektifkan penanganan kesehatan pejantan dan melakukan langkah-langkah yang perlu diambil terhadap temuan dari hasil pemeriksaan.
c. Pengobatan Penyakit
Upaya pengobatan penyakit terutama diajukan terhadap pejantan yang menurut hasil pengamatan menunjukan gejala sakit.seluruh upaya dalam rangka perawatan kesehatan pejantan dilaksanakan sepenuhya oleh Tenaga Kesehatan Dokter Hewan (TKDH) yang ada di BIB Lembang di bantu oleh tenaga paramedis.
3. Penampungan Semen
Penampungan semen yang dilakukan di BIB Lembang ini menggunakan metode vagina buatan. Penampungan semen dilakukan seminggu sekali untuk masing-masing pejantan, kecuali untuk pejantan yang kebutuhan semennya banyak maka penampungan dilakukan dua kali dalam seminggu. Jadwal penampungan terdapat pada lampiran 1.
4. Identifikasi Semen
Semen terdiri dari spermatozoa dan cairan semen. Spermatozoa terdiri dari dua bagian yatu bagian kepala dan ekor. Kepala berfungsi membawa materi genetic, sedangkan bagian ekor berfungsi sebagai penggerak. Ciri utama sperma adalah motilitas atau daya gerak yang dijadikan sebagai patoakan sperma motil. Cara yang sederhana untuk penilaian semen adalah dengan melihat gelombang massa sehingga dapat menentukan bagus atau tidaknya kualitas semen.
Penentuan gerakan massa sperma di golongkan 4 yaitu : (+++) baik, (++) sedang, (+) jelek, dan (N) kosong.
Pada umumnya penyimpangan morfologik dari struktur yang normal dipandang sebagai abnormal. Abnormalitas sperma dapat terjadi pada kepala atau ekor. Setiap sperma yang abnormal tidak dapat membuahi ovum, tetapi selama abnormalitas sperma belum mencapai 20 % maka semen tersebut dapat dipakai untuk IB.
5. Pemeriksaan Semen Segar
Pemeriksaan semen segar dilakukan untuk menentukan layak atau tidaknya semen tersebut diproses menjadi semen beku. Dengan dilakukan pemeriksaan makroskopik (warna, volume, dan konsistensi), mikroskopis (melihat gerakan massa), konsentrasi, maka dapat diketahui jumlah semen beku yang di produksi. Di BIB Lembang pemeriksaan semen segar dilakukan secara makroskopis.
C. PEMBAHASAN
1. Perawatan Ternak
a. Perawatan Tubuh Ternak
Perawatan tubuh ternak pejantan merupakan kegiatan yang penting dalam pelaksanaan produksi semen beku, perawatan terhadap pejantan dilaksanakan secara intensif agar pejantan dalam keadaan prima dan siap ditampung. Seluruh pejantan dimandikan setiap hari agar bersih dari kotoran.
Untuk membersihkan kotoran digunakan sikat yang disemprotkan dengan air menggunakan selang. Bagi ternak yang telah ditampung sebagian digembalakan di line bull selama 24 jam agar bergerak leluasa, dapat merumput dan mendapat sinar matahari dengan maksud agar dapat merangsang pembentukan hormone testosterone dan memelihara kesehatan kuku. Pejantan yang baru selesai ditempatkan di line bull harus dimandikan dan disemprotkan dengan anti ekstoparasit di seluruh tubuh, biasanya menggunakan NeocidolR dilakukan di kandang perawatan.
2. Pakan
Pakan dan Pemberiannya
Menentukan jumlah pemberian pakan konsentrat yang akan diberikan yaitu dengan menggunkan acuan BK. Acuan BK yang digunakan adalah 2,5% - 3,3 % dari berat badan sapi. Menetukan jumlah pemberian pakan yang digunakn adalah bobot badan rata-rata masing-masing kelompok sapi dalam kandang. Hal ini sesaui dengan pendapat Siregar (1996) bahwa pemberian pakan pada sapi berdasarkan pada berat badan, bahan kering hijuan, dan energy metabolism. Energy hidup pokok erat kaitnya dengan besar badan, dari segi ekonomis diketahui bahwa semakin besar ternak semakin meningkat kebutuhan energi tersebut sesuai dengan besar badan (Aminudin,1990).
Pakan yang diberikan berupa konsentrat, hijauan yang terdiri dari rumput gajah (pennisetum puerpureum) dan rumput Afrika (cynodon plectostachyrus) yang diberikan dalam bentuk segar dan kering.Jumlah pemberian pakan komposisi pakan BIB Lembang yang diberikan yaitu 5% konsentrat dan 10% Hijauan. Santoso (2000) sependapat bahwa pakan ternak sapi terdiri dari hijauan dan konsentrat. Akoso (1946). Pakan tambahan juga perlu pula diberikan saat rumput yang tersedia memiliki kandungan yang rendah. Jenis pakan dan pemberiannya di BIB Lembang terdiri empat jenis dan empat kali pemberian untuk hay pukul 07.00 wib, rumput gajah pukul 09.30 wib dan pukul 15.00 konsentrat pukul 07.15 wib dan 13.00 wib, dan touge diberikan bersamaan dengan konsentrat. Cara pemberian konsentrat adalah dalam bentuk kering, artinya tidak dicampur dengan air sedangkan hijauan diberikan secara langsung tanpa ada perlakuan. Hal itu sesuai dengan pendapat Siregar (2000) bahwa pemberian pakan konsentrat dan konsentrat diatur sehingga membantu tingkat kecernaan ransum yang tinggi, sebab pemberian hijauan yang hamper bersamaan waktunya dengan konsentrat ini akan mengurangi kecernaan hijauan didalam rumen, hal ini terjadi akibat mikroorganisme mencerna konsentrat terlebih dahulu maka jumlah mikroorganisme dalam rumen bertambah banyak, sehingga dengan jumlah akan membantu mencerna jerami. Karena pada umumnya konsentrat lebih mudah dicerna daripada hijauam. Pemberian konsentrat yang berjarak 2 jam sebelum pemberian hijauan kering akan meningkatkan kecernaan bahan kering ransum dari bahan organic. Hal ini terjadi karena konsentrat yang relative banyak mengandung pati sebagian besar sudah dicerna oleh mikroorganisme rumen pada saat hijauan kering masuk kedalam rumen.

3. Tatalaksana penampungan semen
Tatalaksana penampungan semen yang dilakuakan di Balai Inseminasi Buatan Lembang melalui beberapa persiapan antara lain pesiapan alat maupun bahan penampungan, mempersiapkan vagina buatan, mempersiapkan pejantan yang akan ditampung dan persiapan pejantan pemancing.
Metode pnampungan semen, khususnya pada sapi telah mengalami perubahan bertahun-tahun, dan banyak perubahan ini merupakan langkah-langkah penting dalam perkembangan inseminasi buatan. Pada permulaan sejahahnya, semen diperoleh dari vagina hewan betina dengan menggunakan sendok, penyedotan atau dengan spons atau tampon. Walaupun ini sangat mudah,, namun semen yang ditampung selalu tercampur dengan sekresi saluran kelamin betina dan kuman-kuman, dan bahaya penyebaran penyakit malah diperbesar. Di waktu kemudian, suatu kantong karet khusus ditempatkan didalam vagina dan ejakulat ditampung di dalam kantong tersebut. Kantong ini menghilangkan beberapa kesulitan penampungan semen, tetapi agak sulit didi kerjakan. Ide penampungan dengan menggunakan vagina buatan berasal dari sarjana Italia yaitu G. amantea sekitar tahun 1914 yang membuat vagina buatan untuk anjing, kemudian sarjana-sarjana Rusia menciptakan vagina buatan untuk sapi yang dipergunakan sekitar tahun 1933 (toelihere. 1977)
Factor yang mempengaruhi penampungan semen terbagi menjadi 2, yaitu factor external dan factor internal. Factor internal seperti hormonal, metaboliisme, keturunan, umur dan kesehatan, sedangkan faktor external adalah suasana linkungan, cuaca, sarana penampungan, dan hewan pemancing. Factor-faktor tersebut berpengaruh untuk menjaga kkualitas dan kuantitas semen.
A. Metode penampungan
Dalam praktek kerja lapangan ini, metode penampungan yang dilakuukan adalah metode vagina buatan, yaitu suatu alat penampung semen yang dibuat menyerupai vagina sesungguhnya. Metode ini dapat mengurangi kerugian akibat penampungan semen dengan metode lainnya, di samping itu semen yang dihasilkan cukup bersih dan hasilnya maksimal.









Gambar 5 : vagina buatan
B. Persiapan penampungan
Kegiatan yang berlangsung di Balai Inseminasi Buatan Lembang dimulai dari jam 07.00 WIB, namun penampungan semen dilakukan sekitar jam 07.30 WIB setelah pejantan yang akan ditampung maupun teaser dimandiakan dan diberi pakan konsentrat terlebih dahulu. Selang waktu ini digunakan untuk mempesiapkan peralatan dan bahan penampungan, alat yang digukan harus dalam keadaan bersih, seteril dan kering serta vagina buatan yang disiapkan untuk seekor pejantan minimal dua buah (gambar 5).
Dalam penampungan semen perlu diperhatikan berbagai aspek yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas semen yaitu berkaitan dengan tatacara penampungan semen yaitu berkaitan dengan menggunakan vagina buatan. Dalam hal ini diperhatikan antara lain : suhu vagina buatan saat melakukan penampungan, rangsangan sexual sebelum penampungan (teasing), hewan pemancing, serta pelakuan lain yang erat kaitannya dengan tatacara penampungan semen.
Persiapan penampungan semen untuk menghasilkan kualitas yang baik perlu memperhatikan :
a. Persiapan Alat dan Bahan Penampungan, seperti :
- Menghidupkan water heater, agar tersedia air panas
- Mempersiapkan bahan penampung diatas meja, yaitu: handuk besar, lap tangan, vaselin, label atau nomor bull, thermometer, alcohol, stick glass, vagina buatan beserta inner liner, plastic glove dan tali pengikat/pita, tambang, ember, tabung seperma, corong karet serta pelindung tabung sperma.
b. Persiapan Vagina Buatan
- Memasang corong karet vagina buatan ukuran panjang 9 cm, diameter pangkal 7 cm dan ujungnya 1 cm pada vagina buatan.
- Memasang tabung sperma (panjang 11 cm dan diameter 1 cm) pada ujungg corong vagina buatan dan diikat.
- Memasang pelindung tabung sperma.
- Memasang plastic glove dan mengikatnya.
- Mengsi air hangat dengan suhu 420 Csampai 480 C sebanyak ½ dari isi tabung vagina buatan.
- Mengolesi vagina buatan 1/3 bagian dengan vasilin memakai stik glass.
- Setelah suhu vagina buatan sesuai, udara dimasukkan dengan melakukan peniupan langsung melalui lubang udara.
- Mengcek kembali temperature vagina buatan sebelum melakukan penampungan
C. Pelaksanaan Penampungan
Pada waktu penampungan semen, pejantan harus dibiasakan dengan lingkungan, orang yang menampung dan teknik menampung. Selain alat penampung yang diperlukan yaitu tempat penampungan biasanya dipakai kandang khusus yang disebut breeding rack sampai service crate (gambar 6). Supaya tidak licin lantainya dialasi dengan serbuk gergaji sehingga memudahkan ternak dalam proses penampungan.
Pelaksannan penampunganmeliputi:
1. mempersiapkan pejantan yang akan ditampung
Bersamaan denngan mempersiakan vagina butan di laboratorium, ditempat penampungan dipersiapkan pejantan yang akan ditampung dan pejantan pemancing. Pemacing yang digunakan adalah pejantan yang akan ditampung juga atau menggunakan boneka sapi (dummy cow) (gambar 7). Pejantan maupun pemancing yang akan ditampung harus dalam keadaan bersih agar semen tidak terkontaminasi.
Pemancing dapat mempengaruhi pejantan yang akan ditampung, pemancing yang bersifat pendiam (tidak banyak bergerak) akan mempercepat pelaksanaan penampungan. Pelaksanaan penampungan dengan menggunakan dummy cow tidaklah terdapat perbedaan yang mencolok terhadap ternak, hanya saja posisi kolektor yang berbeda. Teaser dan lingkungan yang digunakan bergantian ditujukan untuk dapat meningkatkan libido dari pejantan yang ditampung.
Sebelum ditampung semennya, pejantan harus dipersiapkan dengan baik, bulu dekat ujung preputium harus di gunting sampai panjangnya hannya 1,5 cm. daerah ventral abdomen di sekeliling preputium sebaiknya dicuci dengan air hangat dan di keringkan.








Gambar 7: penampungan semen menggunakan pemancing Dummy cow
Pejantan yang akan ditampung dibiasakan dengan keadaan sekitar, terhadap hewan pemancing (di BIB Lembang teasernya jantan) yang di ikat dikandang penampungan. Pejantan tersebut harus berada dalam keadaan psikologik yang optimum, pelihara ketenangan tempat di sekitar penampungan dan juga agar sedikit mungkin orang yang berada di tempat penampungan.
2. Melakukan Teasing
Pejantan yang akan ditampunga semennya diuasahakan menaiki teaser, waktu pejantan menaiki teaser penisnya harus keluar, kolektor (pelaksanaan penampungan) memindahkan posisi penis pejantan tersebut dengan memegang preputiumnya di tarik kearah samping atau kearah kolektor, biarkan pejantan turun lagi. Kemudian seperti di atas (teasing) di lakukan 3-4 kali yang diselingi semacam exercise dan penisnya jangan sampai menyentuh bagian belakang teaser, hal ini supaya penis tidak terkontaminasi kotoran, setelah libido cukup tinggi barulah dilakukan penampungan.
3. Cara Penampungan Semen
Apabila pejantan yang akan ditampung semennya telah melakukan pengecekan teasing sebanyak 3 kali, dilakukan pengecekan vagina buatan dengan cara mengganti air hangat dari isi tabung vagina buatan dan kemudian di tiupkan udara kedalam vagiana buata sampai mulut permukaan vagina buatan menggembung selanjutnya vagina buatan siap untuk digunakan.
Kolektor berada dalam posisi siap menampung dengan posisi kaki kanan sejajar dengan kaki kiri yang telah memakai sepatu khusus (collecting shoes) (Gambar 8). Pada waktu pejantan menaiki teaser dan penisnya keluar, maka kolektor segera menangkap dengan tangan kiri pangkal preputium dan mengarahkan ke mulut vagina buatan yang dipegang dengan tangan kanan yang berada di samping kanan teaser. Saat ujung penis menyentuh mulut vagiana buatan dan pejantan melakukan dorongan, maka terjadilah ejakulasi.









Gambar 7. Proses penampungan semen menggunakan vagina buatan dan teaser (sesame jantan)
Vagina buatan ditarik perlahan-lahan setelah ejakulasi dan pejantan tersebut bergerak turun. Ketika pejantan bergerak turun dilakukan penyemprotan rivanol ke penis yang masih berada di luar prepetium untuk menghindari terjadi infeksi.
Skor Libido
0 = Pejantan tidak mampu memperlihatkan aktivitas sexual
1 = Interest sexualnya hanya diperhatikan sekali, misalnya dengan
mencium daerah perineal
2 = Interest sex positif terhadap betina dan lebih dari satu kali
3 = Mengikuti betina aktif dengan interest sexual persisten
4 = Satu kali naik atau berusaha naik tapi tidak kopulasi
5 = Dua kali naik tidak terjadi kopulasi
6 = Lebih dari dua kali tapi tidak terjadi kopulasi
7 = Satu kali kopulasi tidak diikuti interest berikutnya
8 = Satu kali kopulasi diikuti interest berikutnya
9 = Dua kali kopulasi tanpa diikuti interest berikutnya
10 = Dua kali kopulasi diikuti interest berikutnya.
Sumber :BIB Lembang 2009
Factor kegagalan:
1. Kurang berpengalaman kolektor
2. Factor fatologik
3. Kurang kerja sama
4. Penampung (kolektor ) kurang aktif

Semen yang telah ditampung dikerim ke laboratorium untuk diadakan pemeriksaan, bila semen berkualitas baik dan ada permintaan semen beku, semen tersebut langsung diproses. Kemudian mengembalikan pejantan yang telah ditampung dan teasernya ke kandang masing-masing ataupun ditempatkan di padang penggembalaan.
Membersihkan dan menyimpan peralatan yang telah digunakan merupakan kegiatan selanjutnya. Membersihkan peralatan ini terutama yang telah dipisahkan dari bagian-bagiannya dengan menggunakan iar panas, sikat dan sabun, ini ditunjukan agar semen yang dihasilkan tidak terkontaminasi oleh bakteri yang akan tumbuh apabila vagina buatan ini disimpan dalam keadaan kkotor.
D. Pemeriksaan Semen Segar
1. Pemeriksaan Makroskopis
Tujuannya adalah untuk melihat dan mencatat :
a. Volume
Volume semen yang dikeluarkan per ejakulasi di BIBI Lembang rata-rata 4 – 5 ml. banyaknmya volume yang dikelurkan dapat dipengaruhi oleh umur, bangsa, besar dan berat badan hewan, frekuensi penampungan dan beberapa factor lain.
b. Warna
Pada umumnya semen sapi berwarna keputih-putihan atau hamper seperti Susu, dimana derajat keputih-putihan semen sebagian besar tergantung pada konsentrasi spermanya. Semakin keruh biasanya jumlah sperma per ml semen semakin banyak.

c. Konsistensi
Konsistensi adalah derajat kekentalan. Konsistensi dari semen dapat di periksa dengan cara memiringkan tabung reaksi yang berisi semen. Kekentalan semen dapat dinialai dengan melihat bekas cairan semen yang menempel di dinding tabung reaksi setelah di miringkan. Semen yang baik memilki kekentalan hamper smaa dengan susu.
2. Pemeriksaan Mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopis bertujuan untuk melihat gerak massa sperma. Standar gerakan massa yang dip roses adalah 2+ ke atas (Tabel 6)
• Memasang kabel fitting stop kontak
• Sediakan air hangat dalam baker glass, stick glass, objek glass, cover glass dan tissue.
• Letakkan objek glass di atas slide warmer dan meneteskan semen yang akan diperiksa dengan stick glass.
• Atur jarak lensa dengan obje yang dilihat sampai terlihat gerakan sperma dengan pembesaran 4 x 10 atau 10 x 10.
Table 6. penilaian gerakan massa dan estimasi % hidup sperma di BIB Lembang.
Gerakan Massa % Hidup Sperma Keterangan
0
1+

2+
3+ 0
>50

>70
>90 Tidak ada gerakan spermatozoa (mati)
Terlihat gerak gelombang lemah (hamper tidak terlihat)
Terlihat gerakan gelombang sedang
Terlihat gerak gelombang cepat
Sumber : (toelihere, 1997)
E. Pemeriksaan Konsentrasi
Tujuannya adalah untuk mengetahui jumlah sperma di dalam tiap cc Semen, dengan mengunakan alat spektrofotometer, adapun cara menggunakannya adalah sebagai berikut :
• Memasang kabel fitting ke stop kontak
• Mengatur jarum supaya menunjukan angka 0 sebelah kiri.
• Memasukkan tabung spektronik yang berisis NaCl 2 % yang banyaknya ditentukan sebagai standar.
• Mengatur jarum supaya menunjukan angka 0 sebelah kanan.
• Mengangkut tabung spektronik tadi
• Mengisap 0,1 cc semen dengan menggunakan pipet scoret.
• Kemudian meneteskan 0,1 cc semen tersebut kedalam tabung yang berisi 9,9 cc NaCl, dicampur dan dimasukkan kedalam spektrofotometer.
• Lihat jarum menunjukan angka berapa, lalu mengkonversikan.
• Missal spektrofotometer menunjukan angka 2,6 maka konsentrasi semen/cc adalah 1560 x 106 sperma/ml.
Table 7. standar konsentrasi sperma menggunakan spektrofotometer.
Stand
580 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
0,0
0,1
0,2
0,3
0,4
0,5
600
1200
1800
2400
3000 60
660
1260
1860
2460
3060 120
720
1320
1320
2520
3120 180
780
1380
1980
2580
3180 240
840
1440
2040
2640
3240 300
900
1500
2100
2700
3300 360
960
1560
2160
2760
3360 420
1020
1620
2220
2820
3420 480
1080
1680
2280
2280
3480 540
1140
1740
2340
2940
3540
Sumber : BIB Lembang, 2009
Standar konsentrasi semen yang digunakan di BIB Lembang adalah di atas 1,5. Semen yang telah memenuhi standar pada pemeriksaan secara makroskopis dan mikroskopis, langsung dicampur dengan pengencer part A lalu disimpan di dalam cool top.
Untuk mengetahui jumlah bahan pengencer yang dibutuhkan serta jumlah straw yang didapat, biasanya dilakukan perhitungan sebagai berikut :
Untuk mengetahui jumlah bahan pengencer yang dibutuhkan serta jumlah straw yang didapat, biasanya dilakukan perhitungan sebagai berikut :
a. Volume mini straw : 0,25 cc/dosis
Konsentrasi mini straw : 25 juta sperma/dosis
b. Kebutuhan bahan pengencer :

= x cc


c. Straw yang didapat





















BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tatalaksana pemeliharaan pejantan di Balai Insiminasi Buatan Lembang mulai dari perawatan ternak, perawatan kesehatan ternak, penyediaan pakan ternak, pemberian exercise pada pejantan telah dikelola dengan baik. Ini dapat dilihat dari pertumbuhan pejantan yang telah dikelola dengan baik. Ini dapat diliahat dari pertumbuhan pejantan yang bagus dan tidak adanya pejantan yang sakit.
Penampungan semen merupakan salah satu kegiatan yang dapat mempengaruhi semen beku. Proses penampungan semen sudah dilakukan dengan baik sesuai dengan prosedur yang berlaku, mulai dari persiapan sampai dengan pengembalian pejantan ataupun pengembalian alat maupun bahan yang digunakan.
B. Saran
Dalam proses penampungan semen, pada waktu melakukan teasing khususnya bangsa sapi FH sudah menaiki pejantan, sehingga waktu yang digunakan untuk penampungan tidak efisien. Diharapkan pejantan-pejantan yang kurang mampu menaiki pemancing dapat diganti dengan pejantan yang baru.
Untuk menambah koleksi bangsa ternak di Balai Insiminasi Buatan Lembang, sebaiknya dipelihara juga bangsa ternak yang lain disamping bangsa ternak yang ada sekarang seperti, sapi bali, sapi brangus, sapi ongole dan lain sebagainya.



DAFTAR PUSTAKA
Djanuar R. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Insiminasi Buatan Pada Sapi. Yogyakarta. Gajah Mada University Press.
Toelihere, Mozes R. 1977. Insiminasi Buatan Pada Ternak. Bandung. Angkasa.
Bede DH, Blakely J. 1998. Ilmu Peternakan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Salisbury GW, Van Demark HL. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Insiminasi Buatan Pada Sapi. Yogyakarta. Gajah Mada University Press.
Partodiharjo S. 1987. Ilmu Reproduksi Hewan. Bandung. Mutiara.
BIB Lembang. 2008. Catalog Pejantan Sapi Potong. Bandung: Lembang
BIB Lembag. 2008. Prpfil

Reaksi: 

0 komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
SINGKIL, NAD, Indonesia
SAYA ORANGNNYA SIMPLE DAN SELALU TERTARIK DENGAN HAL - HAL YANG BERBAU TEKNOLOGI DAN ILMU PENGTAHUAN. DAN SAYA TIDAK SUKA DENGAN KEKERASAN SERTA KEKEJAMAN. YANG PENTING MENURUT SAYA DAMAI ITU INDAH....