PEMUPUKAN KELAPA SAWIT

Rabu, 22 April 2009

Diposkan oleh MANDALA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Usaha – usaha pengembangan perikanan yang dilakukan di Indonesia mulai dilakukan, di Indonesia sangat mendukung perkembangan budidaya ikan karena di Indonesai merupakan wilayah yang merupakan negara kepulauan yang banyak memiliki sumber daya ikan yang melimpah. Bila potensi perikanan yang sangat melimpah ini dapat di manfaatkan secara optimal maka dapat meningkatkan produktifitas perikanan, meningkatkan devisa negara, dan membantu menjaga kelestarian sumber daya hayati perikanan . Potensi perikanan harus dikembangkan oleh generasi muda yang memiliki kwalitas sumber daya manusia yang bagus. Sudah banyak Balai Budidaya yang telah mengembangkan komoditas air payau seperti Balai Budidaya Air Payau Situbondo yang telah mengembangkan salah satu komoditasnya adalah ikan kerapu. Ikan kerapu memiliki harga yang cukup tinggi dan di pasaran permintaan sangat banyak terutama ekspor.
Dengan adanya balai - balai budidaya ini sangat membantu masyarakat untuk membudidayakan ikan kerapu. Banyak para mahasiswa atau pelajar yang menimba ilmu untuk dapat mengembangkannya. Mereka sangat memerlukan kegiatan tersebut yang biasanya di sebut dengan istilah magang atau PKL, hal ini sangat membantu para pelajar untuk mengetahui berbagai hal tentang membudidayakan ikan kerapu karena langsung terjun ke lapangan atau praktek. Dengan adanya magang ini mahasiswa dapat mengetahui budidaya ikan, selain praktek juga memperoleh materi yang sebelumnya belum didapatkan dalam perkuliahan. Alasan penulis melakukan PKL ( Praktek Kerja Lapang) dikarenakan untuk memenuhi kopentensi mahasiswa yang dilakukan selama 105 hari oleh mahasiswa selama praktek di Balai Besar Budidaya Air Payau situbondo.
Penulis mengambil judul Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis) dan Produksi Pakan Alami (Nannochloropsis oculata, Brachionus rotundiformis, dan Artemia sp) karena pada saat ini Ikan kerapu tikus memiliki nilai jual yang tinggi dan permintaan yang banyak sedangkan permintaan pasar akan ikan kerapu tikus belum dapat dipenuhi secara keseluruhan karena belum banyak pembudidaya, para petani masih mengandalakan benih ikan kerapu dari alam sedangkan ketersediaan benih ikan kerapu di alam makin lama makin habis. Sedangkan ikan kerapu tikus lebih memiliki nilai jual yang tinggi di banding dengan ikan kerapu yang lainnya. Maka kita sebagai seorang mahasiswa yang telah dapat ilmu budidaya untuk dapat memanfaatkan dan dapat mengembangkan suatu usaha yang menghasilkan benih ikan kerapu tikus untuk dapat memenuhi permintaan pasar, sehingga ketersediaan benih ikan kerapu di alam tidak terancam punah. Pada perkembangan budidaya ikan sekarang nampak semakin giat dilaksanakan baik secara intensif maupun secara ektensif.
Disamping memiliki nilai gizi yang tinggi pada pakan alami mempunyai keuntungan lain yaitu diantaranya mudah dibudidayakan, memiliki ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva, memiliki pergerakan yang mampu memberi rangsangan bagi ikan untuk memangsanya, memiliki kamampuan untuk berkembang biak dengan cepat dalam waktu yang relatife singkat sehingga ketersediaannya dapat terjamin sepanjang waktu dan biaya pembudidayaan yang relatif murah. Jenis pakan alami yang sering diberikan untuk ikan yang diberikan sesuai dengan umur ikan. Untuk larva ikan kerapu tikus dapat diberikan pakan alami yang berupa phytoplankton seperti nannochloropsis oculata dan zooplankton seperti rotifera (Brachionus rotundiformis ). Keuntungan lain dari nannochloropsis oculata adalah sebagai green water system dan penyangga kualitas air pada pemeliharaan berbagai jenis larva ikan. Berdasarkan kenyataan maka di dalam budidaya pakan alami yang dilakukan secara massal di Balai Budidaya Air Payau Situbondo. Untuk mendapatkan kualitas pakan alami yang baik maka pada siklus pemeliharaannya harus diperhatikan.
Dalam kegiatan pembenihan ikan kerapu tikus, pakan alami sangat diperlukan saat pemeliharaan larva. Karena sesuai dengan bukaan mulut larva dan alat mencernaan larva kerapu dapat mencernanya juga kandungan nutrisi yang ada pada pakan alami. Pakan alami yang di budidayakan di Balai Budidaya Air Payau Situbondo telah dilakukan pada kultur massal terutama Nannochloropsis oculata dan brachionus rotundiformis.
B. Tujuan
Tujuan dari PKL tentang pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis ) bagi mahasiswa adalah :
1. Memperoleh pengalaman yang riil di lapangan mengenai teknik pembenihan ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis ) dan teknik Budidaya Pakan Alami (Nannochloropsis oculata, Brachionus rotundiformis, dan Artemia sp).
2. Mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kuliah pada tahun pertama.
3. Untuk memenuhi persyaratan akademik.
4. Dapat mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kuliah pada tahun pertama.

D. Sasaran
Sasaran yang dilakukan dalam pembuatan laporan ini meliputi :
1. Proses pembenihan ikan kerapu tikus dilakukan meliputi :
Penyediaan induk, sarana pemeliharaan, karantina induk, pemeliharaan induk, pemberian pakan induk, pematang gonad, pemijahan, pemanenan telur, seleksi telur, distribusi telur, penetasan telur, pemeliharaan larva, perkembangan larva, budidaya pakan alami, pengelolaan air, penyakit dan penanggulangannya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pembenihan Ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis)

1. Klasifikasi dan Morfologi
Ikan kerapu termasuk dalam jenis golongan serranidae, tubuhnya tertutup oleh sisik kecil. Kebanyakan biasa hidup pada perairan terumbu karang, adapula yang hidup di muara sungai. Banyak jenis ikan kerapu yang sudah dibudidayakan, termasuk kerapu tikus (Cromileptes altivelis) yang memiliki nilai jual yang tinggi. Di pasaran internasional seperti singapura, Hongkong, Taiwan, Korea selatan dan Jepang harga ikan kerapu akan lebih mahal bila dijual dalam keadaan hidup. Menurut Weber and Beofort, (1940) dalam AHMAD (1991), klasifikasi ikan kerapu tikus adalah :
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Osteichtyes
Sunclass : Actinopterigi
Ordo : Percomorphi
Subordo : Percoidea
Genus : Cromileptes
Spesies : Cromileptes altivelis

Ikan kerapu tergolong jenis ikan air laut yang berjual nilai tinggi, tetapi yang lebih memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan kerapu jenis yang lainnya adalah ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Ikan kerapu tikus termasuk dalam famili Serranidae, tubuhnya memanjang gepeng (compressed) dengan panjang tubuh 2,6 – 3,0 kali panjang standard ikan ( panjang standard ikan 12 – 37 cm). Panjang kepala seperempat panjang total, leher bagian atas cekung dan semakin tua semakin cekung. Lembaran operculum mempunyai pinggiran yang bergerigi tajam dan halus. Lubang hidung bagian posterior besar. Pada sirip dorsal memiliki 10 duri keras dan 17 – 19 duri lunak. Sirip punggung semakin melebar kebelakang, sirip perut dengan 3 duri keras dan 10 duri lunak.
Sedangkan sirip ekor memiliki 1 duri keras dan 70 duri lunak, sisik pada lateral line berjumlah 54 – 60 dan pyloric 13. Sisik punggung sangat halus dan licin (Ayson, 1995). Warna ikan kerapu tikus coklat kehijauan dengan dengan bintik – bintik atau bulat – bulat coklat di kepala, tubuh, dan sirip. Bintik – bintik tersebut pada kerapu muda lebih besar dan sedikit, semakin tua bertambah banyak. (Randall, 1987). Menurut Heemstra dan Randall (1993) seluruh permukaan tubuh kerapu bebek berwarna putih dilengkapi sirip renang berbentuk melebar serta moncong kepala lancip menyerupai bebek atau tikus. Pada kerapu bebek muda, bintik hitam lebih besar dengan jumlah bintik yang sedikit.
Gambar 1. morfologi kerapu tikus.

B. PENYEBARAN DAN HABITAT

Ikan Kerapu bebek atau kerapu tikus tersebar luas di Asia pasifik barat termasuk lautan merah, mulai dari bagian selatan Jepang sampai pulau Guam Keledonia baru, mulai dari bagian sekepulauan Australia, bagian timur laut India dari Nicobar sampai Broome (Heemsta and Randall, 1986). Di Indonesia banyak ditemukan di wilayah perairan pulau Sumatra, kepulauan Riau, Kepulauan seribu, Jawa (Teluk Banten, Ujung kulon, Kepulauan Karimun Jawa, Madura), Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Buru, dan Ambon. Ikan kerapu bebek atau kerapu tikus lebih dikenal berasal dari teluk Parsi, Hawai atau Polynesia. Kerapu Tikus menyebar mulai dari Afrika Timur sampai Pasifik barat Daya (Valencennes dalam Randall, 1987). Salah satu indicator adanya kerapu adalah perairan karang, Indonesia memiliki perairan karang yang cukup luas sehingga potensi sumberdaya ikan kerapu sangat besar (Tampubolon dan Mulyadi, 1989).
Ikan kerapu secara umum dikenal sebagia hewan karnivora yang buas dan rakus atau biasa disebut kanibal, memakan berbagai jenis ikan, krustacea besar dan kadang – kadang juga memakan cepalopoda (cumi – cumi). Ikan kerapu lebih sering terlihat menyendiri dan menyukai naungan sebagai tempat bersembunyi. Kerapu lebih suka menghindar dari sinar matahari langsung, kecuali sewaktu makan dan saat memijah. Ikan kerapu ini merupakan jenis ikan laut yang dapat ditemukan didaerah subtropika dan tropika dari seluruh daerah lautan. Kebanyakan ikan kerapu tinggal didaerah karang, Karang mati, atau karang berlumpur. Ikan kerapu juga sering ditemukan di daerah pasang dan di laut dengan kedalaman sekitar 40 cm (Heemstra and Randall, 1993). Dalam siklus hidupnya kerapu muda hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5 - 3,0 m, setelah dewasa kerapu ke daerah perairan yang lebih dalam yaitu antara 7,0 – 40 m.

3. SIKLUS REPRODUKSI DAN PERKEMBANGAN GONAD
Kerapu tikus memiliki sifat hermaprodit protogini yaitu pada perkembangan mencapai dewasa atau matang gonad berjenis kelamin betina tetapi akan berubah menjadi jantan bila sudah tumbuh menjadi lebih besar atau mencapai umur bertambah tua. Induk kerapu tikus yang di tangkap di alam berukuran kecil dan umumnya berjenis kelamin betina, induk akan mengalami kematangan kelamin sepanjang tahun. Perubahan kelamin pada kerapu sangat erat hubungannya dengan aktifitas pemijahan, umur, ukuran. Pada umumnya sifat kerapu tikus soliter tetapi pada saat akan memijah berlangsung beberapa hari sebelumnya bulan purnama yaitu pada malam hari (Tampubolon dan mulyadi). Dari hasil pengamatan di Indonesia, musim – musim pemijahan ikan kerapu terjadi pada bulan Juni – September dan November – Februari terutama di perairan kepulauan riau, Karimun jawa dan Irian jaya (Sugama,1995). Beberapa jenis kerapu mempunyai musim pemijahan 6 – 8 kali/tahun sedangkan pemijahan pertama 1 – 2 kali/tahun (Shapiro, 1987).

4. PERKEMBANGAN EMBRIO
Berdasarkan pengamatan mikroorganisme dapat diketahui bahwa telur kerapu berbentuk bulat tanpa kerutan, cenderung menggerombol pada kondisi tanpa aerasi dan kuning telur tersebar merata. Telur kerapu transparan dengan diameter ± 850 mikron dan tidak memiliki ruang perivitellin. Perkembangan embrional telur sejak pembuahan sampai penetasan membutuhkan kurang lebih 19 jam, pembelahan sel pertama kali terjadi 40 menit setelah pembuahan. Pembelahan sel berikutnya berlangsung 15 – 30 menit sampai mencapai multi sel salama 2 jam 25 menit. Setelah tahap multi sel tahap berikutnya adalah blastula, grastula, neorula, damn embrio. Gerakan pertama embrio terjadi pada jam ke-16 setelah pembuahan selanjutnya telur menetas menjadi larva pada jam ke-19 pada suhu 27 – 29 ºC.
TABEL 1. Perkembangan embrional Kerapu



5. KEBIASAAN MAKAN LARVA
Pada kerapu tikus menetas mempunyai panjang total 1,70 – 1,78 mm, mata belum berpigmen, mulut dan anus belum terbuka. Perkembangan tubuhnya semakin memanjang sedangkan kantong telur dan gelembung minyak semakin mengecil. Pembentukan sirip punggung mulai terjadi pada hari pertama, pada hari kedua sirip dada mulai terbentuk dan jaringan usus telah berkembang sampai ke anus. Pada hari ke tiga mulai terjadi pigmentasi saluran pencernaan bagian atas dan bukaan mulut berukuran sekitar 125 µ. Dan hari ke empat kuning telur telah habis terabsorbsi. Pada periode perkembangan larva kerapu tikus sampai tahap metamorfosis penuh membutuhkan waktu 35 – 40 hari pada suhu 27 - 29 ºC.
Setelah telur menetas sampai derngan hari ke tiga larva dapat makan secara endragenus yaitu dengan mengabsorsi kuning telur yang di bawanya. Setelah itu mendapatkan makan secara eksogenus pada hari ke tiga dengan mulai terbukanya mulut. Sesuai dengan bukaan mulut ikan kerapu tikus, rotifera merupakan pakan pertama. Selanjutnya Muchari. et al. (1991) mengutip pendapat Blaxter dan Hempal dalam Tseng dan Chan (1985) kematian yang terjadi pada larva hari ke lima dan seterusnya dapat terjadi karena disebabkan oleh sutau keadaan hanya 50 % larva yang mampu makan pada kondisi dimana jumlah pakan optimal, sedangkan sisanya tidak mampu lagi memangsa pakan yang tersedia, dapat pula terjadi karena kesalahan dalam menentukan jadwal pemberian pakan dan rendahnya mutu pakan.
Ikan kerapu tikus bersifat karnivora terutama larva molusca, rotifera, krustacea kecil, kopepoda, dan zooplankton. Sedangkan untuk ikan kerapu tikus yang dewasa menyukai ikan – ikan kecil, krustacea dan cepalophoda. Menurut Nybakken ikan kerapu sebagai ikan karnivora juga sebagai ikan pemangsa yang aktif bergerak pada malam hari. Ikan kerapu memiliki kebiasaan makan pada siang hari dan malam hari dan lebih aktif pada waktu fajar dan senja hari (Tampubolon dan Mulyadi, 1989). Ikan kerapu biasanya mencari makan dengan cara menyergap mangsanya dari tempat persembunyianya.



6. PENYAKIT
Permasalahan penyakit yang paling banyak pada ikan bersirip (finfish) dijumpai pada budidaya ikan kerapu. Jenis penyakit bakterial yang ditemukan pada ikan kerapu, diantaranya adalah penyakit borok pangkal strip ekor dan penyakit mulut merah. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri ditemukan beberapa jenis bakteri yang diduga berkaitan erat dengan kasus penyakit bakterial, yaitu Vibrio alginolyticus, V algosus, V anguillarum dan V fuscus. Diantara jenis bakteri tersebut bakteri V alginolyticus dan V fuscus merupakan jenis yang sangat patogen pada ikan kerapu tikus.
1.Vibrio alginolyticus.
Vibrio alginolyticus dicirikan dengan pertumbuhannya yang bersifat swarm pada media padat non selektif. Ciri lain adalah gram negatif, motil, bentuk batang, fermentasi glukosa, laktosa, sukrosa dan maltosa, membentuk kolom berukuran 0.8-1.2 cm yang berwarna kuning pada media TCBS. Bakteri ini merupakan jenis bakteri yang paling patogen pada ikan kerapu tikus dibandingkan jenis bakteri lainnya. Nilai konsentrasi letal median (LC50) adalah sebesar 106.6 pada ikan dengan berat antara 5-10 gram. Kematian masal pada benih diduga disebabkan oleh infeksi bakteri V alginolyticus. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan penggunaan berbagai jenis antibiotika seperti Chloramfenikol, eritromisina dan oksitetrasiklin. Sifat lain yang tidak kalah penting adalah sifat proteolitik yang berkaitan dengan mekanisme infeksi bakteri.
2.Vibrio anguillarum.
Dibandingkan dengan V alginolyticus, V anguillarum merupakan spesies yang kurang patogen terhadap ikan air payau. Pada uji patogenisitas ikan kerapu tikus ukuran 5 gram yang diinfeksi bakteri dengan kepadatan tinggi hingga 108 CFU/ikan hanya mengakibatkan mortalitas 20%. Diagnosis penyakit dapat dilakukan dengan melakukan isolasi dan identifikasi bakteri. Penumbuhan bakteri pada media selektif TCBS akan didapatkan koloni yang kekuningan dengan ukuran yang hampir sama dengan koloni V alginolyticus akan tetapi bakteri ini tidak tumbuh swarm pada media padat non-selektif seperti NA.
Penyakit protozoa
1.Cryptocaryonosis.
Penyakit ini sering ditemukan pada ikan kerapu bebek dan macan, dengan tanda ikan yang tersering terlihat bercak putih. Stadia parasit yang menginfeksi ikan dan menimbulkan penyakit adalah disebut trophont berbentuk seperti kantong atau genta berukuran antara 0.3-0.5 mm, dan dilengkapi dengan silia. Tanda klinis ikan yang terserang adalah ikan seperti ada gangguan pernafasan, bercak putih pada kulit, produksi mukus yang berlebihan, kadang disertai dengan hemoragi, kehilangan nafsu makan sehingga ikan menjadi kurus. Erosi (borok) dapat terjadi karena infeksi sekunder dari bakteri.Diagnosis dapat dilakukan dengan melihat gejala seperti adanya bercak putih, tetapi untuk lebih memantapkan (diagnosis definitif) perlu dilakukan pengamatan secara mikroskopis dengan cara memotong insang, mengerok dari lendir. Serangan penyakit dapat diatasi dengan penjagaan kualitas air. Perlakuan bahan kimia pengendali parasit dapat dilakukan seperti perendaman dalam larutan formalin 25 ppm, perendaman ikan dalam air bersalinitas 8 ppt selama beberapa jam dan memindahkan ikan yang sudah diperlakukan ke dalam wadah barn bebas parasit.
2.Infestasi Trichodina.
Penempelan Trichodina pada tubuh ikan sebenarnya hanya sebagai tempat pelekatan (substrat), sementara parasit ini mengambil partikel organik dan bakteri yang menempel di kulit ikan. Tetapi karena pelekatan yang kuat dan terdapatnya kait pada cakram, mengakibatkan seringkali timbul luka, terutama pada benih dan ikan muda. Pelekatan pada insang juga seringkali disertai luka dan sering ditemukan set darah merah dalam vakuola makanan Trichodina. Pada kondisi ini maka Trichodina merupakan ektoparasit sejati. Trichodina yang merupakan ektoparasit pada ikan air laut mempakan spesies yang bersifat sebetulnya lebih bersifat komensal daripada ektoparasit. Trichodina spp. yang didapatkan pada ikan air payau merupakan spesies yang memiliki toleransi yang luas terhadap kisaran salinitas. Trichodina yang menempel di insang umunmya berukuran lebih kecil dibandingkan yang hidup di kulit, contohnya adalah Trichodinella. Ikan yang terserang Trichodina biasanya warna tubuhnya terlihat pucat, produksi lendir yang berlebihan dan terlihat kurus. Diagnosis dapat dilakukan dengan cara melakukan pengerokan (scraping) pada kulit, atau mengambil lembaran insang dan melakukan pemeriksaan secara mikroskopis.Pencegahan terhadap wabah penyakit adalah dengan cara pengendalian kualitas lingkungan, karena mewabahnya penyakit berkaitan dengan rendahnya kualitas lingkungan. Perlakuan terhadap ikan yang terinfeksi oleh parasit adalah dengan cara perendaman dalam larutan formalin 200-300 ppm.
3.Caligus sp parasit golongan Crustacea.
Parasit jenis ini sering, ditemukan baik pada induk ikan maupun di tambak. Penempelan ektoparasit ini dapat menimbulkan luka, dan akan lebih parah lagi karena ikan yang terinfeksi dengan parasit sering menggosok-gosokkan tubuhnya ke dinding bak atau substrat keras lainnya. Timbulnya luka akan diikuti dengan infeksi bakteri Caligus sp. berukuran cukup besar sehingga dapat diamati dengan tanpa bantuan mikroskop. Perlakuan ikan terserang parasit cukup mudah, yaitu hanya merendamnya dalam air tawar selama beberapa menit. Perlakuan dengan formalin 200-250 ppm juga cukup efektif. Penggunaan bahan seperti Triclorvon (Dyvon 95 SP) hiingga 2 ppm dapat mematikan parasit.
B. Produksi Pakan Alami

Phytoplankton dan zooplankton mempunyai peranan penting dalam kegiatan pembenihan ikan. Selain digunakan sebagai pakan zooplankton, phytoplankton juga digunakan sebagai media pemelihara larva karena dapat berfungsi untuk menjaga kualitas air karena beberapa fitoplankton diketahui efektif menyerap beberapa senyawa racun bagi larva. Pada umumnya larva ikan laut (finfish) pada stadia awal belum dapat mencerna pakan buatan sehingga keberadaan pakan hidup sangat diperlukan. Menurut Horstman (1985), De Pauw and Pruder (1986), Fulks and Main (1991), fitoplankton sangat dibutuhkan dalam kegiatan budidaya yang bersifat komersial, seperti pada ikan (larva atau dewasa), Crustacea (stadia awal larva).
Menurut Coutteau (1996), phytoplankton merupakan dasar mata rantai dalam ekosistem perairan laut, dapat langsung dimanfaatkan untuk pakan organisme budidaya non fish dan sebagai pakan zooplankton. Phytoplankton memiliki sifat autrotrof yang mampu merubah hara anorganik menjadi bahan organik dan penghasil oksigen yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup lain. Dilihat dari daya reproduksinaya, maka phytoplankton mempunyai produktifitas yang lebih tinggi dari organisme autrotof lainnya. Phytoplankton dalam pembenihan ikan kerapu tikus dapat memiliki peran ganda, selain dapat digunakan sebagai pakan dalam kultur zooplankton juga dapat ditambahkan secara langsung dalam bak pemeliharaan larva.
Penambahan phytoplankton dalam pemeliharaan larva tidak hanya berfungsi dalam pakan larva secara langsung, tetapi juga berfungsi sebagai penyangga kualitas air dan pakan untuk zooplankton. Beberapa phytoplankton diketahui efektif menyerap beberapa swenyawa beracun bagi larva, dapat meningkatkan oksigenterlarut karena aktifitas fotosintesis dan mengendalikan kandungan karbondioksida. Beberapa jenis phytoplankton (mikroalga) juga dapat berperan sebagai antibakterial, imonostimulan, dan pemasok enzim pencernaan bagi pemangsanya (Dhert dan Sorgeloos,1995).
Nannochloropsis oculata, Brachionus rotundiformis, dan artemia sp. Ikan Kerapu tikus membutuhkan makan untuk tumbuh dan berkembang sehingga dapat berkembang hidup. Jenis pakan itu ada dua macam yaitu pakan alami dan pakan buatan. Tetapi sesuai dengan umur ikan kerapu yang masih kecil atau yang biasa disebut larva, pada stadium ini sangat membutuhkan pakan alami karena sesuai dengan bukaan mulutnya. Pakan alami yang di berikan kepada larva ikan kerapu biasanya berupa plankton yaitu fitoplankton dan zooplankton. phytoplankton adalah jenis plankton yang berupa tumbuhan, di dalam phytoplankton mengandung protein antar 12 – 35% berat kering, lemak 7,2 – 23% dan karbohidrat sebesar 4,6 – 23%.
– jenis phytoplankton, sehingga produktifitas benih dapat terpenuhi. Ketersediaan benih yang mutu, jumlah dan berkesinambungan harus dapat terjamin karena adanya organisme seperti phytoplankton. Peranan pakan alami belum dapat digantikan oleh pakan buatan. Dalam memberi pakan pada ikan kerapu ataupun pada larva ikan kerapu harus memperhatikan nilai gizi dari pakan tersebut. Terdapat enam kelompok utam unsur yang ditemukan dalam pakan ikan,
antara lain protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, dan air. Zat – zat tersebut sangat dibutuhkan untuk zat pembangun dan pemeliharaan jaringan selain juga sebagai sumber energi. Karbohidrat, lemak, dan protein dapat dioksidasikan untuk menghasilkan energi sedangkan mineral dan vitamin yang larut dalam air berfungsi sebagi coenzim dalam sistem biokimia. Formulasi pakan yang sesuai untuk masing – masing jenis, maupun ukuran ikan/udang yang berbeda mempunyai kebutuhan nutrisi yang berbeda pula (Anggawati et al, 1992).

A. Protein
Protein merupakan unsur yang penting dalam penyusunan formulasi pakan karena usaha budidaya mengharapkan pertumbuhan ikan cepat. Fungsi dari protein adalah sebagai zat pembangun yang membentuk berbagi jaringan baru untuk pertumbuhan, mengganti jaringan yang rusak, maupun bereproduksi. Sebagai zat pengatur yang berperan dalam pembentukan enzim dan hormon penjaga dan pengatur berbagai proses metabolisme di dalam tubuh ikan. Selain fungsi diatas protein juga berfungsi sebagai zat pembakar karena unsur karbon yang terkandung di dalam berfungsi sebagai sumber energi pada saat kebutuhan energi terpenuhi oleh karbohidrat dan lemak.
Kebutuhan protein sangat bervariasi tergantung pada umur atau stadia ikan. Pada stadia larva sangat membutuhkan protein yang tinggi karena untuk pertumbuhannya. Protein sangat penting bagi tubuh ikan/udang, baik sebagai sumber energi pertumbuhan. Sumber energi utama pada ikan/udang adalah protein. Pada umumnya ikan dan udang membutuhkan pakan dengan kadar protein berkisar antara 20 – 60%. Apabila protein pada pakan kurang dari 6%, maka ikan/udang tidak mengalami pertumbuhan. Tingkat kebutuhan protein pada ikan tergantung pada ukuran ikan, suhu perairan, laju konsumsi ikan, ketersediaan pakan alami, ketersediaan energi, dan kualitas pakan (watanabe, 1988).

B. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan salah satu sumber energi bagi ikan/udang, tetapi kurang memiliki manfaat bagi ikan/udang. Terutama kandungan nutrien esensialnya rendah dan daya cernanya yang rendah (60 – 65% untuk pati) (Kompiang, 1995). Hasil analisa isi perut ikan di alam terutama ikan karnivora kandungan proteinnya 50% atau lebih dan kandungan lemak juga 50%. Sedangkan kandungan karbohidrat sangat rendah. Pada ikan herbivora akan di jumpai kandungan karbohidrat yang sangat tinggi. Ikan pemakan segala (omnivora) seperti ikan tombro dapat hidup baik dengan pakan yang kadar karbohidratnya 50%. Hasil penelitian (Suwirya el al, 2002), menunjukan bahwa kebutuhan optimal karbohidrat dalam pakan kerapu tikus adalah 7%.

C. Lemak
Lemak mengandung energi yang cukup tinggi dan dapat dicerna dengan baik. Lemak mengandung asam – asam lemak esensial PUFA yang tidak dapat disintesa oleh tubuh ikan/udang. Nilai gizi lemak di pengaruhi oleh kandungan asam lemaknya, khususnya asam lemak asensial. Pada ikan kerapu asam lemak yang dibutuhkan adalah dari golongan linoleat, terutama yang memiliki ikatan ganda tinggi (HUFA). Dibanding ikan air tawar, ikan air laut lebih membutuhkan asam lemak yang lebih banyak karena kebutuhan energi energi ikan air laut lebih tinggi dan lemak sebagai sumber utama energi.

D. Vitamin
Vitamin merupakan senyawa organik yang sangat penting perannanya dalam kehidupan ikan/udang. Vitamin dibutuhkan untuk pertumbuhan normal dan reproduksi. Namun bukan sebagai sumber energi tetapi vitamin sebagai katalisator terjadinya proses metabolisme di dalam tubuh, jumlah yang dibutuhkan sedikit, tetapi bila kekurangan dapat mengakibatkan ganguan dan penyakit (Mustahal et al, 1995). Secara umum gejala kekurangan vitamin adalah napsu makan turun, kecepatan tumbuh kurang, warna abnormal, keseimbangan hilang, hati berlemak, mudah terserang bakteri, pertumbuhan sirip kurang sempurna, pertumbuhan lendir terganggu.

E. Mineral
Mineral merupakan bahan organik yang di butuhkan ikan/udang untuk pembentukan jaring tubuh, proses metabolisme dan mempertahankan keseimbangan osmosis. Fungsi mineral dapat di golongan menjadi tiga golongan utama yaitu fungsi struktural, pernafasan, dan metabolisme umum. Kekurangan mineral dapat menyebabkan beberapa disfungsi tubuh diantaranya struktur tubuh yang menyimpang, disfungsi mata, anemia, dan menghambat fungsi vitamin dalam tubuh.

Cara Pemberian Pakan
1. Rasio Pakan
Rasio pemberian pakan harus tepat agar pakan yang di berikan dapat efisien dikonvesikan oleh ikan/udang sehingga kelangsungan hidup yang optimal. Rasio pemberian pakan yang optimal ditentukan oleh jenis ikan/udang yang dipelihara. Jenis ikan/udang yang aktif bergerak memerlukan lebih banyak makanan dibandingkan jenis ikan/udang yang bergerak pasif. (Menurut Danakusumah dan Imanishi.1986), rasio pemberian pakan kerapu 4 - 6%.

2. Frekuensi Pemberian Pakan
Frekuensi pemberian pakan yang tepat akan menghasilkan pertumnuhan yang optimal dan penggunaan pakan yang efisien. Frekuensi pemberian pakan yang optimal tergantung dari jenis ikan/udang yang dipelihara. Pada ikan yang hidup di dasar perairan dan bergerak altif pada malam hari seperti ikan kerapu, pemberian pakan setiap dua hari sekali (Sugama, et al, 1986). Pakan yang dimakan ikan kerapu telah dicerna 95% setelah 36 jam (Chua dan Teng, 1978).



3. Waktu Pemberian Pakan
Waktu pemberian pakan di sesuaikan dengan sifat- sifat makan organisme yang dipelihara. Pada pemelihara ikan, waktu pemberian pakan biasanya dilakukan pagi dan sore hari.

Reaksi: 

0 komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
SINGKIL, NAD, Indonesia
SAYA ORANGNNYA SIMPLE DAN SELALU TERTARIK DENGAN HAL - HAL YANG BERBAU TEKNOLOGI DAN ILMU PENGTAHUAN. DAN SAYA TIDAK SUKA DENGAN KEKERASAN SERTA KEKEJAMAN. YANG PENTING MENURUT SAYA DAMAI ITU INDAH....