PEMUPUKAN KELAPA SAWIT

Rabu, 22 April 2009

Diposkan oleh MANDALA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Bangsa dan Struktur Populasi Ternak Pejantan
Balai Insiminasi Buatan Lembang didirikan pada tahun 1976, disini merupakan tempat pemeliharaan pejantan-pejantan unggul guna diambil spermanya kemudian diproses untuk dijadiakan straw. Pertama kali dipelihara 7 (tujuh) ekor sapi jantan diantaranya sapi FH, Ongole, Bali dan Brahman. Beberapa tahun kemudian jumlah pejantan yang dipelihara di BIB Lembang lebih veriatif, meliputi jenis ternak sapi, kerbau dan domba. Namun mengigat keadaaan lingkungan dan iklim yang kurang cocok untuk jenis ternak domba dan kerbau serta kebutuhan semen dan target produksi semen beku dalam setiap semen beku dalam setiap tahunnya yang berbeda, maka dilakukan pengurangan bangsa ternak dan jenis pejantan yang dipelihara. Saat di BIB Lembang memelihara 7 (Tujuh) bangsa sapi pejantan 5 (lima) kambing 3 (tiga) Domba yang dianggap dapat beradaptasi dan mempunyai produksi semen yang cukup tinggi dan adapun jumlah sapi jantan yang dipelihara adalah jumlah 91 ekor, diantaranya jenis banngsa yang ada di BIB Lembang adalah : Angus, Brangus, Simental, Limausin, FH, Ongol, Brahman, Kambing PE, Kambing Boer, Domba Garut.
B. Identifikasi
Ternak pejantan yang ada di BIB Lembang sudah teridentifikasi untuk setiap ekiornya, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah penanganan dan dalam melakukan recording atau pencatatan. Identifikasi yang dilakukan di BIB Lembang adalah dengan cara ear tag yang memuat nama dank ode (nomor) ternak. Nama ternak ini disesuaikan dengan nama bangsa pejantan, sebagai contoh untuk bangsa sapi Brahman nama ternaknya dimulai dengan menggunakan huruf B. Dalam hal ini berlaku untuk ternak yang impor umumnya menggunakan nama yang sama ketika masih berada di Negara asal. Nomor merupakan salah satu kode ternak dimana kode ini sudah menjadi ketentuan dari Direktorat Jendal Peternakan yaitu meliputi kode bangsa, tahun kelahiran sapid an urutan kedatangan ke Balai Inseminasi Buatan Lembang.
Sebagai contoh pejantan dengan nama Callender dengan kode 39681 dapat dijabarkan menjadi; 3 merupakan kode bangsa sapi FH, 96 merupakan tahun kelahiran sapi tersebut dalam 81 adalah urutan kedatangan sapi tersebut di BIB Lembang pada bangsa FH.
C. Bangsa Dan Karakteristik Bangsa pejantan
Dari beberapa bangsa sapi yang dipelihara di BIB Lembang adalah sebagai berikut :
1. Sapi Friensien Holstein
Asal : Belanda dan Bagian Utara Jerman. Lingkungan hidupnya didaerah beriklim dingin dengan temperature berkisar antara 15-210C dan kelembaban 55-56%.
Karakteristik (pane,1986):
- Kulit dan bulu penupup bulunya berwarna putih dengan belang hitam auatau kadang-kadang dijumpai sapi FH yang warna bulunya hitam atau putih seluruhnya
- Ada juga sapi FH yang berwarna coklat atau merah dengan belang putih (brow FH). Sapi dengan warna tersebut berasal dari sapi FH yang berwarna putih hitam, tetapi mempunyai factor warna merah yang menurun daan bersifat resesif.
- Badanya besar dan mempunyai kapasitas makan yang banyak dan sapi betinanya mempunyai ambing yang besar. Bentuk dada sapi betina menyerupai baji dan sangat disukai bila pahanya lurus. Tanduk mengarah kemuka dan membelok kekanan, bulu ekor warna putih.
- Berat badan sapi jantan dapat mencapai 1100kg, sedangkan untuk sapi betina dapat mencapai berat badan 650kg. pembawaan sapi betina jjinak, sedangkan dari sapi jantan agak liar.
- Merupakan sapi paerah penghasil susu yang baik
- Produksi susu dapat mencapai 6350 liter/tahun



2. Simental
Asal : daerah Simme Swiss, ditemukan didaerah Eropa lainnya. Perkembangan sapi Simmental dibagi menjadi 4 kelompok yaitu: Swiss, Jerman, Austria/flechvicch, prancis/pie Rouge
Karakteristik.(pane,1986):
- Badan panjang dan berotot.
- Induk dewasa dapat mencapai berat badan 800kg seangkan jantan dewasa jantan jantan dapat mencapai 1150 kg, warna bervariasi dari merah (kekuningan sampai merah tua) sampai keputihan.
- Warna putih pada muka,perut, kaki dan ekor.

3. Sapi Brahman
Asal : India kemudian dikembangkan di Amerika Serikat dengan mencampurkan darah tiga bangsa sapi india, yaitu bangsa Gir, Gujarat dan Nellore.
Karakteristik (siregar,2003)
- Bobot badan betina dewasa dapat mencapai 550 kg, untuk sapi jantan baerat badannya mencapai 800 kg bahkan bisa lebih.
- Bertanduk dan warna tubuhnya bervariasi, mulai dari abu-abu muda, totol-totol hingga hitam. Terdapat punuk pada punggung belakang kepala, yang merupakan kelanjutan dari otot-otot pundak. Telinganya teerkulai panjang dan ada gelambir disepanjang leher.
- Mampu berkembang baik dengan pakan yang berkualitas rendah.
- Tahan terhadap panas dan dingin
4. Sapi Limousin
Asal : prancis
Karakteristik (pane, 1986):
Warna kuning sampai keemasan, tanduk berwarna cerah, bobot lahirnya kecil sampai medium yang berkembang menjadi golongan besar pada saat dewasa. Betina dewasa dapat mencapai berat badan 1100 kg, fertilitas cukup tinggi, mudah melahirkan dan peertumbuhannya cepat. Sapi limousine ini merupakan jenis sapi potong yang baik.
5. Sapi Angus
Asal : skotlandia bagian utara
Karakteristik (siregar 2003):
Warna bulu hitam seluruhnya, konformasi tubuh rata, lebar, dan mempunyai urat daging yang baik, pertumbuhanya cepat, termasuk tipe pedaging, dan fertilitas cukup tinggi.
6. Brangus
Ciri-ciri: warna kulit hitam seluruhnya, berpunuk ukuran kecil, biasanya tidak bertanduk, warna straw hijau.
Keunggulan:
Toleran terhadap lingkungan terhadap parasit luar dan dalam tubuh, mampu adaptasi terhadap kualitas pakan yang jelek, pertambahan berat badan berkisar 0.7 – 0,9 kg, persentase daging 2 – 4 % lebih daripada karkas bangsa sapi lain.
7. Ongole
Ciri-ciri: Warna kulit putih kelabu, berpunuk kecil, tinggi dan ramping, bercincin mata hitam disekitar mata, mocong, rambut ekor dan kuku berwarna hitam, gelambir dari bawah mandibula sampai dada, pada kaki sering tampak lingkaran warna gelap, pita yang mengelilingi bagian diatas kuku, kepala terangkat, dahi cembung, tanduk pendek, warna straw biru muda.
Keunggulan:
Tahan terhadap panas, karena permukaan kulit laur dengan adanya gelambir yang besar, berkaki kuat dan lurus, dayan tahan untuk kerja sangat baik, mampu adaptasi terhadap kualitas pakan yang baik.
8. Kambing PE
Pejantan kambing PE berasal dari kaligesing, Purworjo,jawa tengah, sekarang telah diproduksi semen bekunya diBIB Lembang untuk memenuhi kebutuhan di daerah P. Jawa. Induk kambing PE dapat menghasilkan susu sekitar 2-3 liter/hari.


9. Kambing Boehr
Berasal dari Afrika Selatan pada tahun 1959, dimulainya pembiayakan dan pemeliharaan kambing boehr oleh boer Breeder’s association (Sout Afrika)
Cirri-ciri : berbadan putih dan coklat/merah dari kepala ke leher.
Performans : badan yang baik, tegap dan mantap, kaki pendek, tegap, berisi serta bagian paha belakang tegap dan berotot. Kambing pejantan mencapai
berat badan 110-135 kg. kambing betina mencapai berat badan 90-10ambing 0 kg
kegunaan : kambing Boehr merupakan tipe pedaging.
10. Domba Garut
Domba garut merupakan plasma mutfah domba Indonesia yang berasal dari Cibulu, Cikandang dan Cikeris di kecamatan Cikanjang serta kecamatan Wanaraja Kabupaten Garut Jawa Barat.
Cirri-ciri : bagian muka dan badan termasuk dominan hitam pada tubuh secara keseluruhan. Kombinasi antara bentuk kuping yang rumpung. Dengan dibawah 4 cm. bentuk ekor segi tiga yang lebar pada pangkal ekor dan mengecil kearah ujung. Domba jantan mencapai berat badan 60-80 kg bahkan sampai 110 kg. domba betina mencapai berat badan 30-40 kg
Kegunaan : domba garut sebagai domba adu ketangkasan dan penghasil daging.
D. Perkandangan
Kandang bagi sapi selain berfungsi sebagai tempat selama tinggal dalam proses penggemukan, juga berfungsi sebagai pelindung dari segala aspek yang datang dari luar seperti hujan dan angin kencang maupun hewan pemangsa yang dapat membahayakan sapi yang dipelihara.
1. Persyaratan Kandang
a. Didirikan di tempat yang kering, dan tidak becek.
b. Memberi kenyamanan bagi ternak maupun bagi peternak yang memeliharanya.
b. Mudah dibersihkan
c. Mudah dalam tata laksana seperti pemberian pakan.
d. System ventilasi udara harus memungkinkan sirkulasi udara tidak terhambat.
e. Kontruksi lantai kandang dibuat dengan memperhatikan kemudahan dalam melakukan pembersihan, pemandian, dan tidak licin.
f. Jumlah ternak disesuaikan dengan kapasitas daya tampung kandang
g. Sinar matahari terutama pada pagi hari, harus bisa masuk secara langsung kedalam kandang.
h. Atap kandang sedapat mungkin dibuat dari bahan-bahan yang ringan
i. Tidak berdekatan dengan pemukiman penduduk
j. Terdapat persediaan air
k. Terdapat saluran kotoran dan penampungnya
l. Lokasi kandang harus jauh dari keramaian
Menurut AAK (1995) kandang yang baik harus dapat memberikan jaminan kesehatan yang menunjang tatalaksana pemeliharaan. Untuk kandang harus memiliki perlengkapan ventilasi, dinding, atap, lantai tempat pakan, tempat air minum, drainase dan tempat penampungan kotoran.
Jenis dan jumlah bangunan yang diperlukan tergantung skala usaha. Apabila sapi perah atau potong dipelihara dalam skala kecil hanya memerlukan sejumlah bangunan. Sementara jika peternakan berukuran menengah keatas, maka selain kandang juga diperlukan perlatan dan mesin-mesin yang memadai. Apabila suatu peternakan sapi perah atau potong direncanakan, sedapat mungkin bangunan diletakkan ditengah-tengah area. Hal ini bertujuan agar sapi yang dipelihara didalam kandang dapat berjalan dengan jarak minimum ke atau dari lapangan (paddock) dan hijauan yang dipotong dilapangan untuk sapi dipelihara didalam kandang akan ditransportasikan dalam jarak yang minimal.
Davis (1962) menyatakan kandang sapi yang efektif adalah kandang yang didesain untuk memfasilitasi kenyamanan kesehatan ternak, kenyamanan kerja, penghematan tenaga kerja dan penghematan perawatan bangunan.
E. Pakan Ternak
Ternak sapi sebagai salah satu hewan ruminansia beralat pencernaan yang terbagi atas empat bagian, yakni rumen, reticulum, omasum, dan abomasums. Dengan alat ini, sapi mampu menampung jumlah bahan pakan yang lebih besar dan mampu mencerna bahan pakan kandungan serat kasarnya tinggi. Sehingga pakan pokok hewan ini berupa hijauan atau rumput dan pakan penguat sebagai tambahan. Pada umumnya pakan hijaun diberikan dalam jumlah 10 % dari berat badan dan pakan penguat cukup 1 % dari berat badan.
a. Pakan hijauan
Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting, dan bunga. Pakan hijauan terbagi menjadi dua macam yaitu silase (pakan hijauan yang masih segar) dan hay (pakan hijauan yang sudah dikeringkan).
b. Pakan Penguat (konsentrat)
Pakan penguat adalah pakan yang berkonsentrasi tinggi dengan kadar serat kasar yang relative rendah dan mudah dicerna. Bahan pakan penguat ini meliputi bahan makanan yang berasal dari biji-bijian seperti jagung giling, menir, bulgur; hasil ikutan pertanian atau pabrik seperti dedak, katul, bungkil kelapa, tetes, dan umbi.
c. Pakan Tambahan
Pakan tamabahan bagi ternak sapi biasaya berupa vitamin, mineral, dan urea. Pakan tambahan ini dibutuhkan oleh sapi yang dipelihara secara intensif, yang hidupnya berada di dalam kandang terus-menerus.
Vitamin yang dibutuhkan ternak adalah vitamin A (karotina) dan vitamin D. sedangkan mineral sebagai bahan pakan tambahan dibutuhkan untuk berproduksi, terutama Ca dan P. sedangkan urea mengandung 45% N. dengan bantuan mikroorganisme di dalam rumen, N bisa diurai dan diikat menjadi zat protein yang bermanfaat.
F. Pengendalian Penyakit
Pemeliharaan dan perawatan sapi yang dimulai sejak dini dapat menunjang kesehatan pertumbuhan dan mutu semen (spermatozoa). Upaya pengendalian penyakit dilakukan dengan melakukan tindakan Hygiene (sanitasi terhadap ternak, lingkungan kandang dan peternakan) vaksinasi dan pengobatan terhadap parasit. Kegiatan sanitasi di mulai dari pembersihan tempat air minum, tempat pakan, kebersihan kandang, serta alat – alat kandang.
Untuk mencegah penyakit pada ternak dapat dilakukan tindakan-tindakan seperti dibawah ini:
1. Vaksinasi. Tindakan vaksinasi merupakan usaha pengendalian penyakit menular dengan meningkatkan kekebalan tubuh dengan memberikan bibit penyakit yang telah di lemahkan ataupun sudah mati.
2. Usaha Hygiene yaitu tindakan pencegahan penyakit lewat kebersihan. Usaha ini sangat erat kaitannya dengan tatalaksana perkandangan yang bersih, air yang cukup untuk membersihkan (memandikan sapi, mencuci kandang, dan peralatan). Draenase yang baik, ruanng cukup, matahari masuk menyinari kandang, udara yang segar (sirkulasi udara) dan terhindar dari angin langsung.
3. Rekording atau rekaman usaha merupakan bagian dari administrasi suatu usaha peternakan. Dengan adanya recording sangat menunjang laju usaha penggemukan. Karena dengan melihat kedalam recording kita akan bisa menggambil keputusan yang
G. Metode Penampungan
1. Metode Pengurutan
Penampungan semen dengan metode pengurutan atau masase mulai diperkenalkan oleh Case pada tahun 1925, diikuti oleh Miler dan Evans pada tahun 1934. Teknik yang dilakukan adalah memasukan tangan 18-25 cm kedalam rectum dan mengurut kelenjar-kelenjar vesicularis dan ampulae dari depan ke belakang. Penguturan selama dua menit akan menghasilkan semen.
Indikasi pemakaian metode masase ini apabial sapi pejantan unggul tetapi impoten, tidak mau atau tidak sanggup berkopulsai secara alam atau tidak dapat melayani vagina buatan. Akan tetapi semen yang diperoleh dengan metode ini mempunyai kualitas rendah karena cenderung untuk berkontaminasi dengan urine dan jasad-jasad renik pada preputium, mempunyai sekresi kelenjar-kelenjar vesicularis dalam perbandingan yang lebih tinggi, atau memilki ketidakseimbangan komponen-komponennya dengan semen yang diejakulasikan.
2. Metode Elektroejakulasi
Percobaan pertama untuk menimbulkan ejakulasi melalui rangsangan listrik pada ternak dilakukan oleh Gunn dari Australia pada domba pada tahun 1936. Teknik ini kemudian dimodifikasi dan diterapkan pada sapi secara berhasil oleh banyak peneliti. asukkan Dziuk (1945) penggunaan suatu batang karet yang dimasukkan kedalam rectum. Batang karet tersebut berukuran panjang 60 cm dan berdiameter kurang lebih 4,5 cm antara satu dengan yang lainnya. Sesudah diberi pelicin, batang karet tersebut dimasukkan 30 – 40 cm ke dalam rectum dan dipegang pada pangkalnya diluar anus dan ditekankan pada dasarnya.
Rambut-rambut preputium sebaiknya digunting dan daerah sekitarnya di cuci. Memancing atau merangsang pejantan atau pemeriksaan rectal terhadap kelenjar-kelenjar pelengkap sebelum elektroejakulasi sangat membantu penampungan suatu contoh semen yang baik. Semen dapat ditambah dengan suatu corong ke dalam tabung sperma. Setiap pejantan harus di perlakukan sebagai satu individu
Dan harus di perhatikan sewaktu dialiri listrik. Kurang lebih 90% sapi-sapi pejantan akan berereksi, mengeluarkan penisnya dan mengejakulasikan sejumlah semen tertentu.
Elektroejakulator merupakan suatu alat pembentu yang berharga di samping vagina buatan pada stasion-stasion insiminasi buatan dalam penampungan semen secara rutin pada sapi-sapi jantan yang bermutu tinggi tetap pincang, lumpuh, cedera, lamban, impoten atau tidak dapat menaiki pemancing.
3. Metode Vagina Buatan
Penggunaan vagina buatan adalah suatu metode yang dipakai secara umum dan meluas untuk penampungan semen pejantan sapi perah atau sapi potong pada pusat-pusat insiminasi buatan. Vagina buatan dapat mengatasi kerugian-kerugian yang diperoleh dengan pengurutan dan elektroejakulator atau koleksi semen secara langsung dari dalam vagina hewan betina. Vagina buatan mudah dibuat dan sederhana untuk dipakai. Dengan menggunakan vagina buatan dapat diperoleh semen yang bersih, maksimal dan spontan keluar.
Untuk mengatasi pengaruh jelek sinar matahari dan hawa dingin terhadap semen, peneliti-peneliti dari Cornell membuat vagina buatan dengan penampungan semen didalam slongsongan karet sehingga terlindung dari suhu dingin. Bentuk vagina buatan ini secara umum hamper sama dengan bentuk-bentuk terdahulu, kecuali corong karet yang di tempatkan hamper di sepanjang vagina buatan bagian dalam dengan penempatan gelas semen di bagian ujung corong karet tersebut. Data yang dikumpulkan oleh peneliti-peneliti ini menyatakan bahwa bentuk vagina buatan ini mempertahankan motilitas spermatozoa sapi lebih baik pada waktu pengumpulan semen di musim dingin (Toelihere 1977).
H. Pemeriksaan Umum Semen Segar
Pada masa sekarang adalah penting bahwa waktu yang terpakai mulai dari pengumpulan hingga siap diangkut dan digunakan harus seminimal mungkin. Tetapi secara ekonomis dan biogas adalah penting bahwa semen yang diproses dan diangkut hanyalah semen yang memiliki kemampuan membuahi yang tinggi.
Jadi, segera setelah penampungan setiap ejakulasi harus diperiksa dengan metode terbaik yang tersedia. Untuk melakukan pemeriksaan tersebut dan mencegah kehilangan waktu, contoh-contoh semen diambil dalam jumlah yang cukup dan semen selebihnya disiapkan untuk diproses secara rutin. Jika diketahui pada pemeriksaan pertama bahwa semen tidak sesuai dengan standar yang ditentukan maka semen harus dibuang. Pemeriksaan dengan cepat dan mengikuti prosedur standar juga penting sebagai informasi bagi staf unit Insiminasi Buatan dan merupakan penetapan dasar selanjutnya. Juga diperlukan pencatatan mengenai penilaian rutin seluruh ejakulasi dalam buku yang permanen.
Segera sesudah penampungan diadakan pemeriksaan umum setelah ejakulat didalam tabung penampungan. Pemeriksaan terdiri dari pengamatan terhadap warna dan kekentalan semen, gelmbang massa dan pencatatan volum. Suatu catatan volum tidak hanya berguna sebagai catatan semen dari sapi jantan yang bersangkutan tetapi penting untuk tujuan pengenceran (Djanuar, 1985).
I. Morfologi dan Mortilitas Spermatozoa
1. Morfologi Spermatozoa
Spermatozoa merupakan subjek penelitian yang berkesinambungan sejak ditemukan mikroskop, dan penelitian mengenai kerangka spermatozoa secara mendalam dapat dilaksanakan setelah penemuan dan pengembangan mikroskop electron. Spermatozoa sapi memilki ukuran panjang keseluruhan 70 mikron, kepalanya yang berisi bahan chromatin, berukuran panjang 8 – 10 mikron; lebarnya sekitar 1 mikron. Permukaan depan sebagian dibungkus dengan akrosom, yang kadang-kadang terlepas sebelum di ejakulasikan atau pada penyimpanan semen. Pelepasan akrosom mungkin merupakan proses yang sangat penting dalam proses pembuahan.











Gambar 3: spermatozoa
Dibagian leher, yang menghubungkan dasar kepala denga bagian badan, timbul 20 berkas serabut fibril khusus yang teratur dan membentuk bagian badan yang melanjut ke ekor. Berkas-berkas serabut fibril ini tersusun menjadi 2 lingkaran terdiri dari 9 fibril yang mengililingi 2 fibril ditengah sebagai sumbunya. Ini merupakan kerangka yang berkontraksi dan berelaksasi sehingga menyebabkan gerakan ekor seperti cambuk yang mendorong centriole proksimal sebagai pusat kinetic untuk mengawali koordinasi kontraksi selaput fibril yang menghasilkan gerak.
Bagian badan memilki panjang 8 – 10 mikron, tetapi tebalnya hanya 1 mikro. Bagian badan ini banyak mengandung enzim dan bahan lipoid. Bagian ini berakhir pada cincin centriole yang kemungkinan berfungsi mengkoordinir rentetan kontraksi-kontraksi dari serabut-serabut fibril itu.
Spermatozoa yang memiliki abnormalitas morfologik, kemungkinannya tidak subur. Kesuburan sapi jantan tergantung kepada proposi spermatozoa yang abnormal terhadap spermatozoa normal di dalam semen. Penggolongan-penggolongan bentuk abnormal berbeda-beda menurut peneliti satu dengan peneliti yang lain, tetapi pada umumnya terutama didasarkan atas bagian spermatozoa yang menyimpang. Bentuk spermatozoa normal sapi jantan dapat dilihat pada gambar
2. Motilitas Spermatozoa
Motilitas atau daya gerak spermatozoa yang di nilai segera sesudah penampungan semen umumnya digunakan sebagai ukuran kesangupan membuahi suatu contoh semen. Sewaktu penampungan harus diperhatikan agar ejakulasi tidak tidak mengalami “cold shock” atau penurunan suhu secara mendadak yang snagat mempengaruhi motilitas sperma. Panas yang berlebih-lebihan dan bahan-bahan kimia atau benda asing lainnya juga menurunkan sel kelamin jantan. Ejakulat pertama sesudah istirahat kelamin yang lama mempunyai motilitas rendah dan jumlah sperma mati yang tinggi. Untuk memperoleh hasil tepat sebaiknya semen diperiksa pada suhu antara 30º sampai 40ºC dengan menempatkan gelas objek diatas suatu meja pemenas atau menggunakan mikroskop yang dipanaskan secara elektrik.
Di Indonesia, terutama didaerah panas, pergerakan sperma dapat dinilai secara memuaskan pada suhu kamar. Penilaian semen di lapangan dapat pula dilakukan dengan memanaskan gelas objek di atas suatu botol datar berisi air hangat pada suhu tubuh. Pendinginan semen dari suhu badan ke suhu lemeri es menyebabkan sperma kehilangan motilitas secara gradual sampai pergerakan terhenti sama sekali. Oleh karena itu semen harus dinilai pada suhu tubuh untuk memperoleh penilaian yang tepat.
Pemekiran motilitas adalah suatu prosedur visual dan dinyatakan secara komparatif. Tidak mutlak. Motilitas spermatozoa didalam suatu contoh semen ditentukan secara keseluruhan atau sebagai rata-rata dari suatu poulasi sperma. (Toelihere, 1977).

J. Kualifikasi pengadaan pejantan
Pejantan yang digunakan untuk inseminasi buatan terdiri atas 3 kualifikasi, yaitu Proven Bull, Register Bull dan performance Bull.masing-masing mempunyai keriteria seperti berikut (BIB Lembang):
1. Proven Bull yaitu kenggulannya sudah dibuktikan berdasarkan produksi dari anak-anaknya
2. Register Bull yaitu keunggulannya berdasarkan catatan produksi (susu dan pertumbuhan bobot badan) dari tiga generasi di atasnya
3. performance Bull yaitu kenggulannya berdasarkan tampilan individu pejantan

Reaksi: 

0 komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
SINGKIL, NAD, Indonesia
SAYA ORANGNNYA SIMPLE DAN SELALU TERTARIK DENGAN HAL - HAL YANG BERBAU TEKNOLOGI DAN ILMU PENGTAHUAN. DAN SAYA TIDAK SUKA DENGAN KEKERASAN SERTA KEKEJAMAN. YANG PENTING MENURUT SAYA DAMAI ITU INDAH....