PEMUPUKAN KELAPA SAWIT

Rabu, 22 April 2009

Diposkan oleh MANDALA

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Makin meningkatnya jumlah penduduk dan pengetahuan masyarakat tentang makanan sehat, maka kebutuhan akan bahan pangan dan gizi juga semakin meningkat. Berbagai upaya telah ditempuh untuk meningkatkan produksi pangan dan gizi masyarakat.
Ikan sebagai salah satu sumber protein hewani saat ini merupakan bahan makanan yang murah dan mudah didapatkan serta mudah dikembangbiakkan. Pada saat ini produksi ikan yang terbesar masih merupakan hasil tangkapan di laut dan masih sedikit yang merupakan hasil pemeliharaan di kolam (Susanto,1987).
Ikan Patin (Pangasius sp) merupakan salah satu jenis ikan tawar yang memiliki nilai ekonomis penting, karena ikan ini mempunyai kelebihan dan keunggulan yang khas dibandingkan jenis ikan tawar lainnya. Diantaranya memiliki panjang tubuh yang bisa mencapai 120 cm dan pada pembudidayaan usia enam bulan bisa mencapai ukuran 35-45 cm dengan bobot ± 2 kg serta cukup responsif terhadap pemberian pakan tambahan. Sebagai ikan yang termasuk dalam famili Pangasidae, ikan patin tidak membutuhkan perairan yang mengalir untuk menunjang perkembangan tubuhnya. Pada perairan yang tidak mengalir dengan kandungan oksigen rendahpun sudah memenuhi syarat untuk membesarkannya.
Ikan patin merupakan sumber protein hewani dengan kandungan protein yang cukup tinggi dan lebih aman daripada ternak jenis lain, karena kadar kolesterol yang relatif rendah serta memiliki kandungan kalori sebesar 120 kalori setiap 3,5 ons sehingga ikan ini baik untuk menjaga kesehatan ( Khairuman dan Dodi, 2002).
Ikan patin merupakan ikan yang sangat potensial untuk dikembangkan, karena sangat digemari oleh masyarakat namun ikan patin ini belum diusahakan dengan optimal dan masih sedikit yang mengupayakan pembesarannya.
Kegiatan pembesaran ikan patin di Balai Induk Udang Galah (BIUG) Pandaan Pasuruan, Jawa Timur merupakan salah satu usaha dalam rangka pengembangan dan perluasan budidaya ikan konsumsi serta memberikan kontribusi yang sangat besar bagi kemajuan di bidang perikanan khususnya perikanan air tawar.

1.2 Tujuan
Tujuan dari pelaksanaan praktek kerja lapang adalah untuk mengetahui dan mempelajari secara langsung tentang teknik pembesaran, permasalahan serta solusinya dalam usaha pembesaran ikan patin (Pangasius pangasius) sehingga memperoleh ketrampilan dan pengalaman kerja secara langsung di lapang yang kedepannya dapat diterapkan di dalam kehidupan bermasyarakat.

1.3 Kegunaan
Kegunaan Praktek Kerja Lapang ini antara lain :
• Untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan tentang teknik pembesaran ikan patin (Pangasius pangasius).
• Memadukan teori yang diperoleh dari bangku kuliah maupun studi literatur dalam penerapannya di lapang.
• Sebagai sumber informasi untuk penelitian lebih lanjut bagi pengembangan pembesaran ikan patin (Pangasius pangasius).


1.4 Tempat dan Waktu
Praktek kerja lapang dilaksanakan di Balai Induk Udang Galah (BIUG) Pandaan Pasuruan, Jawa Timur dan dilaksanakan pada tanggal 9 Juli - 7 Agustus 2007.





















II. METODE DAN TEKNIK PENGAMBILAN DATA

2.1 Metode Pengambilan Data
Metode pengambilan data yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang ini adalah metode deskriptif. Menurut Surachmad (1985), metode deskriptif yaitu metode yang menggambarkan keadaan atau kejadian pada suatu daerah tertentu. Penjelasan dari suatu keadaan atau kejadian akan dapat semakin memperjelas obyek yang diamati. Pelaksanaan metode deskriptif tidak terbatas pada pengumpulan dan penyusunan data, tetapi meliputi analisa dan pembahasan tentang data tersebut. Riset deskriptif hanya akan melukiskan keadaan obyek atau persoalannya dan tidak dimaksudkan untuk mengambil atau menarik kesimpulan yang berlaku umum (Marzuki, 1983).

2.2 Teknik Pengambilan Data
Data yang diambil dalam Praktek Kerja Lapang ini meliputi data primer dan data sekunder.

2.2.1 Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung terhadap gejala obyek yang diselidiki baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan yang khusus diadakan (Surachmad, 1985). Untuk memperoleh data primer dapat menggunakan metode observasi, wawancara dan partisipasi aktif.
a. Observasi
Menurut Faisal (2003), pengumpulan data dengan observasi adalah pengamatan dan pengindraan langsung secara sistematis terhadap suatu benda, kondisi, situasi, proses atau gejala. Dalam arti luas observasi sebenarnya tidak hanya terbatas kepada pengamatan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam Praktek Kerja Lapang observasi dilakukan terhadap berbagai hal, yang berhubungan dengan kegiatan pembesaran ikan patin (Pangasius pangasius) yaitu mengenai konstruksi kolam, sistem pengairan, sarana dan prasarana pembesaran.
b. Wawancara
Wawancara merupakan suatu cara mendapatkan data dengan jalan mengajukan pertanyaan kepada pihak-pihak terkait (Marzuki, 1986). Wawancara ini dilakukan pada Praktek Kerja Lapang meliputi struktur organisasi dan tenaga kerja, permodalan, bentuk usaha, pemasaran dan permasalahan yang dihadapi.
c. Partisipasi Aktif
Partisipasi aktif merupakan suatu tindakan dalam suatu kegiatan yang dilakukan secara langsung di lapangan guna menambah ketrampilan yang baru. Menurut Suryabrata (1983) penelitian tindakan merupakan suatu cara yang bertujuan untuk mengembangkan ketrampilan-ketrampilan baru atau cara pendekatan baru dan memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia kerja atau dunia aktual lainnya. Partisipasi aktif dilakukan dengan mengikuti rangkaian kegiatan sehari-hari, yaitu persiapan kolam, pengukuran kualitas air, pemberian pakan, pemberantasan hama dan penyakit, pemanenan serta kegiatan lain yang berhubungan dengan kegiatan pembesaran ikan patin (Pangasius pangasius).

2.2.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang terlebih dahulu dikumpulkan dan dilaporkan oleh orang di luar dari penyidik sendiri, walaupun yang dikumpulkan itu sesungguhnya adalah data asli. Sumber sekunder berisi data dari tangan kedua atau dari tangan kesekian yang baik penyidik tidak mungkin berisi data yang seasli sumber data primer (Surachmad, 1985). Data sekunder meliputi keadaan umum lokasi Praktek Kerja Lapang dan sejarah berdirinya Balai Induk Udang Galah (BIUG) Pandaan. Data ini dapat diperoleh dari lembaga penelitian, lembaga pemerintahan yang dalam hal ini adalah Dinas Perikanan, pustaka-pustaka, laporan-laporan pihak swasta, masyarakat serta pihak lain yang berhubungan dengan usaha budidaya ikan patin (Pangasius pangasius).


















III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang
3.1.1 Sejarah Berdirinya Balai Induk Udang Galah (BIUG) Pandaan
Balai Induk Udang Galah (BIUG) Pandaan Pasuruan didirikan pada tahun 1978. Pada awalnya bernama Balai Benih Ikan Pandaan yang didirikan pada tahun 1962 dan berada di bawah naungan Dinas Perikanan Pasuruan kemudian pada tahun 1968 berganti nama menjadi Teknik Center (TC) dibawah naungan Unit Pengembangan Budidaya Air Tawar Kepanjen. Pada tahun 1970, Teknik Center (TC) berganti nama menjadi Lembaga Usaha Penelitian (LUP). Pada tahun 1972 berganti nama lagi menjadi Balai Benih Ikan Air Tawar (BBIAT) dan akhirnya pada tahun 1978 berganti nama menjadi Balai Induk Udang Galah (BIUG) Pandaan berdasarkan SK Kepala Dinas Perikanan Propinsi Jawa Timur No. 124/SK/III/adm.78 tanggal 10 Maret 1978 dan juga mengacu pada SK Gubernur No. 33 tahun 1978. pada waktu itu Balai Induk Udang Galah (BIUG) berada dibawah naungan Pusat Pembenihan Udang (PPU) Probolinggo. Pada tahun 2001, Balai Induk Udang Galah (BIUG) bekerjasama dengan pihak lain.
Balai Induk Udang Galah (BIUG) Pandaan adalah milik Dinas Perikanan Dan Kelautan Propinsi Jawa Timur. Sebagai instansi pemerintah mempunyai fungsi antara lain sebagai berikut:
1. Sebagai tempat memproduksi Induk Udang Galah
2. Sebagai tempat memproduksi benih ikan
3. Sebagai pengembangan mitra kerja PUSKUD Mina dalam hal memasyarakatkan makanan ikan segar berupa sarana warung ikan segar
4. Sebagai pelaksana tugas administrasi
Dalam suksesi kepemimpinan, BIUG Pandaan mengalami beberapa pergantian kepemimpinan, yaitu:
1. Tahun 1962-1970 : Bapak Moh. Sokeh
2. Tahun 1970-1975 : Bapak Sutrisno
3. Tahun 1975-1995 : Bapak Soehoed
4. Tahun 1995-2004 : Bapak R.P Moh. Syarif Hidayat, SH
5. Tahun 2004- sekarang : Bapak Panggih, A.Pi

3.1.2 Letak Geografis dan Keadaan Sekitar
Balai Induk Udang Galah (BIUG) Pandaan berada pada lahan seluas 25 ha dan beralamatkan di Jalan Raya Jogosari nomor 1 kelurahan Jogosari kecamatan Pandaan kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Lokasi tepat berada disisi jalan raya arah Surabaya-Malang. Lokasi ini berjarak 1,5 km dari ibukota kecamatan dan 25 km dari ibukota kabupaten.
Secara geografis BIUG Pandaan berada pada ketinggian 225 m diatas permukaan laut dan berjarak 12 km dari Pantai Utara Jawa. Daerah ini mempunyai iklim sejuk-panas dengan suhu sekitar 27o-29° C serta struktur tanahnya adalah tanah dasar berbatu dan sedikit berpasir dengan curah hujan sekitar 2000 mm/tahun.
Secara astronomis, lokasi ini terletak pada 7,65° LS dan 112,65° BT. Daerah yang berbatasan dengan BIUG Pandaan yaitu:
Sebelah Barat : Kelurahan Pandaan
Sebelah Timur : Desa Karang Jati
Sebelah Selatan : Desa Petung Sari
Sebelah Utara : Desa Kutorejo
3.1.3 Struktur Organisasi dan Tenaga Kerja
Berdasarkan surat keputusan Kepala Dinas Perikanan Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur No.124/SK/III/adm 1978, struktur organisasi Balai Induk Udang Galah (BIUG) Pandaan adalah:
1. Kepala Balai Induk Udang Galah
2. Sub Bagian Tata Usaha
3. Seksi Perkolaman dan perbenihan
4. Seksi Usaha
5. Seksi Pelatihan dan Ketrampilan
6. Kelompok Jabatan Fungsional
Struktur organisasi BIUG Pandaan Ditunjukkan pada lampiran 1.
Jumlah karyawan BIUG Pandaan berdasarkan status kepegawaian sampai dengan tahun 2007 adalah sebagai berikut:
 Pegawai Daerah (PNS) : 5 orang
 Pegawai honorer : 16 orang
Tata Hubungan Kerja dan Tugas Balai Induk Udang Galah ( BIUG) Pandaan:
1. Kepala BIUG mempunyai wewenang dan tanggung jawab memimpin serta mengkoordinasikan tugas pokok dan fungsi tersebut kepada bagian dan seksi-seksi yang ada di bawahnya.

2. Sub Bagian Tata Usaha
a.Pelaksanaan penyusunan rencana, program, pelaporan dan pembinaan organisasi dan tata laksana.
b.Pelaksanaan pengolahan administrasi kepegawaian.
c.Pelaksanaan pengolahan administrasi keuangan.
d.Pelaksanaan pengolahan surat-menyurat, kearsipan dan urusan rumah tangga perkantoran.
e.Pelaksanaan data statistik kegiatan BIUG.
3. Seksi Perkolaman dan Pembenihan
a.Pelaksanaan rencana kegiatan operasi budidaya serta pembenihan ikan air tawar multispesies.
b.Pelaksanaan rekayasa teknologi produksi perikanan yang berwawasan lingkungan.
c.Pelaksanaan penyedia induk, benih dan ikan konsumsi hasil budidaya yang berkualitas unggul.
d.Pelaksanaan pendistribusian hasil produksi kepada penangkar dan pembudidaya ikan maupun UPT di lingkup dinas yang membutuhkan.
e.Pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan kegiatan operasional.
4. Seksi Usaha
a.Pelaksanaan rencana kegiatan usaha BIUG
b.Pelaksanaan pemasaran ikan segar.
c.Pelaksanaan perawatan sarana-sarana kegiatan usaha perikanan
d.Pelaksanaan kegiatan pengadaan komoditi perikanan untuk masyarakat.
e.Pelaksanaan kegiatan monitoring, evaluasi, administrasi dan pelaporan hasil kegiatan usaha perikanan.
5. Seksi Pelatihan dan Ketrampilan
a.Pelaksanaan penyusunan rencana, program, pelaporan di bidang pelatihan dan ketrampilan.
b.Pelaksanaan pengelolaan sarana dan prasarana yang berhubungan dengan kegiatan pelatihan dan ketrampilan.
c.Pelaksanaan inventarisasi sarana dan prasarana yang ada di BIUG.

3.1.4 Bentuk Usaha Dan Permodalan
Sumber dana BIUG Pandaan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jawa Timur yang dialokasikan sesuai dengan rencana program yang akan dilaksanakan dan memberikan laporan bulanan dan tahunan kepada Dinas Perikanan Jawa Timur.

3.2 Sarana Dan Prasarana di Balai Induk Udang Galah Pandaan
3.2.1 Sarana yang dimiliki oleh Balai Induk Udang Galah
A. Sarana Fisik
1. Tanah lokasi BIUG
2. Kantor dinas
3. Rumah dinas
4. Rumah penjaga
5. Ruang pembersihan dan gudang
6. Toilet dan kamar mandi
7. Pertokoan aquabis
8. Wartel
9. Kios higienis ikan segar
10. Mess operator
11. Laboratorium
12. Ruang Pelatihan
13. Asrama
14. Tempat penginapan
15. Warung dan tempat penginapan
16. Tempat lesehan
17. Pembenihan mini (mini hatchery)
18. Satu unit rumah genset

B. Sarana Penunjang
Sarana kolam ada 20 petak, 15 petak sudah diplengseng sedangkan 3 petak kolam tanah yang berukuran 20x15m. 3 petak kolam digunakan warung ikan segar dan sebagian untuk pasar higienis, sehingga kolam yang dioperasionalkan BIUG Pandaan hanya 15 petak kolam, 4 kolam untuk pemancingan. 2 buah kolam tidak dipakai yang berukuran 30x30m.

C. Sarana Kantor
1. Komputer
2. Mesin ketik
3. Kursi pimpinan
4. Filling kabinet
5. Pesawat telepon
6. Jam dinding

D. Sarana Transportasi
1. Sepeda motor Honda Win 100 cc
2. Sepeda motor Honda GL Max 125 cc

E. Sarana Lain-lain
1. Tong pengangkut
2. Tabung oksigen
3. Bak plastik
4. Cangkul dan sabit
5. Timbangan
6. Kain seser
7. Saringan/seser
8. Tabung Oksigen
9. Bak fiber

3.2.2 Prasarana yang dimiliki oleh Balai Induk Udang Galah (BIUG) Pandaan
A. Jalan
Kondisi jalan yang menghubungkan kolam-kolam di BIUG telah dipaving dengan baik dan dapat dilalui dengan kendaraan roda dua namun di beberapa tempat hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki karena keadaan badan jalan yang menghubungkan sempit yang hanya cukup untuk berjalan.

B. Sistem Penerangan dan Penyediaan Tenaga Listrik
Balai Induk Udang Galah (BIUG) Pandaan menggunakan sumber listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) cabang Pandaan. Sumber listrik yang berasal dari PLN tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya dibantu oleh genset yang mempunyai kapasitas 31 KVA.
Tenaga listrik di BIUG Pandaan dipakai terutama untuk penerangan yaitu pada jalan, kantor, bagian pembenihan, laboratorium, asrama dan kolam-kolam.


Gambar 1. Genset Kapasitas 31 KVA Sebagai pembangkit Listrik

C. Sarana Komunikasi
Balai Induk Udang Galah (BIUG) Pandaan menggunakan sarana komunikasi dari PT Telkom cabang Pandaan guna memperlancar hubungan komunikasi dengan pihak luar dan instansi lain.

3.2.3 Sumber Air
Sumber air merupakan faktor mutlak dalam kegiatan budidaya patin. Keberhasilan budidaya patin sangat ditentukan oleh air karena air adalah media hidup ikan yang paling utama. Sumber air dapat berasal dari saluran irigasi teknis (buatan), sungai atau sumber lain. Sumber air yang baik mengandung bahan organik dan tidak mengandung bahan pencemar (Susanto dan Khairul, 2002). Pernyataan ini ditambahkan pula oleh Susanto (2002) yaitu sungai sebagai sumber air untuk budidaya ikan adalah baik sekali sebab air sungai biasanya banyak mengandung unsur-unsur hara yang berguna bagi penumbuhan makanan alami ikan.
Air yang mengalir pada kolam pembesaran patin di BIUG Pandaan berasal dari Sungai Ulu-ulu Banyu. Pada saat musim penghujan, sumber air hanya menggunakan air yang berasal dari sungai, namun pada saat musim kemarau air sungai saja tidak akan mencukupi. Oleh karena itu, BIUG Pandaan menggunakan mesin genset untuk menyalurkan air ke petak-petak kolam. Sumber air Ulu-ulu Banyu tersebut berjarak kurang lebih 50 m dari lokasi kolam pembesaran ikan patin.
Sistem pengairan yang diterapkan di BIUG Pandaan adalah pengairan seri. Ini dilihat dari cara bagaimana air dialirkan, yaitu air mengalir dari satu petak ke petak lain. Debit air yang masuk dalam saluran kurang lebih 1 liter/detik. Di lokasi kolam pembesaran tidak terdapat bak pengendapan karena sumber air dari sungai sudah cukup jernih dan tidak terdapat kandungan lumpur. Oleh karena itu, bak pengendapan yang berfungsi menyaring air dari sumber air untuk kemudian diendapkan kotorannya, tidak diperlukan di lokasi. Dalam kegiatan pembesaran, pergantian air dilakukan 25-30% dari volume air kolam. Pergantian air ini kondisional, yaitu dilakukan tergantung pada kondisi air kolam.

Gambar 2. Saluran Irigasi Balai Induk Udang Galah

3.2.4 Konstruksi Kolam
Kolam mempunyai peranan penting dalam usaha budidaya ikan di darat ( air tawar) Karena selain sebagai media hidup ikan kolam berfungsi sebagai sumber makanan alami ikan.
Kolam merupakan media budidaya yang dikelilingi oleh pematang utama yang memiliki fungsi untuk menahan air, melindungi dari bahaya banjir dan kadang dijadikan batas milik areal perkolaman. Luas areal BIUG Pandaan adalah 2,5 ha yang terdiri atas 18 kolam pemeliharaan ikan ukuran 20x15m dan 2 buah kolam yang berukuran 30x30m yang tidak terpakai. Kolam yang dipergunakan untuk pembesaran patin hanya satu kolam yaitu kolam K4.
Kolam yang dipergunakan untuk pembesaran patin berbentuk persegi panjang dengan konstruksi terbuat dari beton dengan dasar kolam dari tanah liat berpasir. Menurut Susanto ( 2006 ) kolam yang baik adalah kolam yang berbentuk persegi panjang karena mempermudah penangkapan dengan jaring. Selain itu kelebihan dari kolam persegi panjang adalah dalam hal sirkulasi air dan penyediaan makanan alami ikan karena kolam berbentuk persegi panjang mempunyai sisi/pinggiran yang lebih banyak dibandingkan kolam berbentuk bujur sangkar (Susanto, 2002). Dasar kolam dari tanah karena dapat menumbuhkan plankton sebagai makanan alami ikan. Luas kolam adalah 300 m2 dengan aliran tenang. Dengan luas kolam ini sangat memungkinkan untuk usaha pembesaran patin. Seperti yang dikemukakan Susanto dan Khairul (2002), kolam pembesaran bisa berupa kolam dasar tanah tetapi pematangnya dari beton yang penting kolam tersebut berair tenang dan mempunyai luas minimal 200 m2. Apabila kurang dari ukuran itu berarti tidak ideal karena patin tergolong ikan yang berukuran besar.

Gambar 3. Kolam Pembesaran Ikan Patin Di Balai Induk Udang Galah


3.2.5 Bagian-bagian Kolam
Bagian-bagian kolam (lay out) BIUG Pandaan terdiri dari dasar pelataran, pematang, kemalir (caren), saluran pemasukan (inlet) dan saluran pengeluaran (outlet).
A. Dasar Pelataran
Tanah dasar kolam di BIUG Pandaan mempunyai tekstur liat berpasir. Tekstur tanah jenis ini baik untuk pembesaran karena bersifat kedap air, yaitu dapat menahan massa air yang besar sehingga memiliki tingkat rembesan yang relatif kecil. Dasar pelataran kolam dapat berfungsi sebagai media penumbuh pakan alami.
Tanah dasar kolam memliki rasio kemiringan 40:1 ke arah pembuangan. Artinya setiap penambahan panjang 40 meter maka kemiringan ke arah pembuangan bertambah 1 meter. Kondisi ini mempermudah saat pemanenan. Menurut Anonymous (2007c) bahwa tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan patin adalah jenis liat/lempung dan tidak berporos karena jenis tanah ini dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/ dinding kolam serta kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
B. Pematang
Di Balai Induk Udang Galah (BIUG) Pandaan antara kolam yang satu dengan kolam yang lain dibatasi oleh pematang setinggi 1,5 m dari dasar kolam dan lebar 1 m. seperti yang dikemukakan oleh Susanto dan Khairul (2002), tinggi pematang harus disesuaikan dengan luas kolam dan lebih tinggi beberapa sentimeter dari permukaan kolam, karena untuk menahan volume air di dalam kolam selain itu mampu menahan luapan air yang timbul karena banjir atau hujan lebat dan untuk menjaga keamanan ikan. Lebar pematang bagian atas dapat dibuat sama dengan tinggi pematang tetapi tidak boleh kurang dari 1 meter agar pematang tidak mudah hancur. Sisi pematang kolam dibuat miring dengan perbandingan sisi tegak dan sisi mendatar 1:1 atau 2:3.

C. Kemalir (caren)
Kolam di Balai Induk Udang Galah (BIUG) Pandaan terdapat caren utama dan caren pembagi. Caren utama letaknya menghubungkan antara saluran pemasukan dan saluran pengeluaran. Caren utama ini memliki lebar antara 60-70 cm dengan kedalaman 30-40 cm, sedangkan caren pembagi letaknya menyilang secara diagonal di dasar kolam dari inlet sampai outlet serta pada kedua sisinya. Caren ini mempunyai ukuran lebar 15-20 cm dengan kedalaman 10-15 cm.
Kolam pembesaran ikan patin juga harus dilengkapi dengan kemalir yang dibuat di sekeliling kolam secara diagonal ke arah pintu pengeluaran air. Kemalir ini dapat menjadi tempat berkumpulnya ikan pada saat panen. Ikan-ikan akan berkumpul di kemalir karena bagian ini masih tetap berair sementara bagian kolam yang lain sudah kering dan dengan pemasukan air baru diimbangi dengan pengeluaran air kualitas air di kemalir akan terjaga sehingga penangkapan ikan bisa dilakukan dengan tenang tanpa khawatir stress. Selain itu kemalir juga dipergunakan untuk menampung kotoran sisa-sisa makanan yang membusuk dan sebagai tempat berlindung ikan dari serangan hama atau sengatan matahari. Menurut Susanto dan Khairul (2002), kemalir harus agak miring ke arah pintu pengeluaran untuk mempermudah penggiringan saat panen.

D. Saluran Pemasukan (inlet) dan Saluran Pengeluaran (outlet)
Kolam pemeliharaan ikan patin diperlukan pintu pemasukan air dan pintu pengeluaran air yang bentuk dan spesifikasinya sama.
Saluran Pemasukan ( inlet)
Setiap kolam di BIUG Pandaan memiliki inlet yang terbuat dari beton dengan diameter lingkaran 20 cm serta kedalaman 30 cm. sedangkan outlet memliki lebar 50 cm dengan kedalaman 1 m. Pembuatan inlet dengan beton bertujuan agar pintu pemasukan lebih kuat menampung air masuk, karena menurut Susanto dan Khairul (2002), pintu pemasukan dan pengeluaran bisa terbuat dari bambu atau pipa paralon.
Setiap petakan kolam harus mempunyai pintu pemasukan dan pintu pengeluaran air yang terpisah agar setiap petakan kolam dapat dikelola sendiri-sendiri dan tidak tergantung pada petakan kolam yang lain.

Gambar 4. Saluran Pemasukan (inlet)



Saluran Pengeluaran (outlet)
Pintu pengeluaran di kolam BIUG dibuat dengan sistem siphon atau monik yaitu pintu pengeluaran terdiri dari dua bagian. Pintu pengeluaran pada bagian pertama yaitu pengeluaran yang terletak sejajar dengan kemalir. Pintu ini berfungsi mengeringkan kolam pada saat panen, sedangkan pintu kedua merupakan pintu air yang terletak di sebelah atas bagian pertama. Pintu ini berfungsi untuk mengalirkan kelebihan air yang berasal dari pintu pemasukan. Pintu pemasukan air cukup satu bagian saja dan harus terletak lebih tinggi daripada pintu pengeluaran bagian atas. Menurut Mulyantoro (1999), sistem siphon atau monik mempunyai tujuan agar air yang keluar dari kolam adalah air yang berada pada bagian dasar kolam yakni air yang mengandung sisa pakan, kotoran ikan dan air kotor. Pada pintu pemasukan dan pengeluaran sebaiknya dilengkapi saringan agar ikan tidak lolos dan juga untuk mencegah ikan jenis lain masuk ke kolam (Susanto dan Khairul, 2002).
Pada prinsipnya pintu pengeluaran ini membuang air yang lama di dasar kolam dengan tetap menjaga ketinggian kolam selain itu dengan adanya saringan bisa menjaga ikan terutama benih agar tidak terhanyut selama masa pemeliharaan dan pada waktu panen bisa mengeluarkan air dengan volume besar sehingga akan mempersingkat waktu panen dengan tetap memberi jaminan keselamatan bagi ikan-ikan yang ada di kolam.

Gambar 5. Saluran Pengeluaran (outlet)
3.3 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Patin (Pangasius pangasius)
3.3.1 Klasifikasi Ikan Patin (Pangasius pangasius)
Menurut Susanto dan Khairul (2002), klasifikasi ikan patin adalah sebagai berikut:
Ordo : Ostariophysi
Sub-ordo : Siluroidea
Famili : Pangasidae
Genus : Pangasius
Spesies : Pangasius pangasius Ham. Buch
Ikan patin juga memiliki nama lokal jambal dan pangasius. Sementara itu, nama Inggrisnya adalah Catfish atau ikan kucing. Di pulau Sumatera, terutama Riau, jenis yang terkenal adalah patin kunyit. Di pulau Jawa ada yang dikenal sebagai patin jambal (Khairuman dan Dodi, 2002).



Gambar 6. Ikan Patin (Pangasius pangasius)

3.3.2 Morfologi Ikan Patin
Ikan patin memiliki badan memanjang berwarna dominan putih berkilauan seperti perak dengan punggung berwarna kebiru-biruan. Patin dewasa panjang tubuhnya bisa mencapai sekitar 120 cm. Ukuran tubuh seperti ini merupakan ukuran tubuh yang tergolong besar bagi ikan tawar domestik. Ikan patin tidak bersisik dan bertubuh licin. Kepalanya relatif kecil dengan mulut terletak diujung kepala sebelah bawah. Hal ini merupakan ciri khas golongan catfish. Pada mulutnya terdapat dua pasang kumis pendek. Kumis tersebut berfungsi sebagai alat peraba saat berenang ataupun mencari makan (Khairuman dan Dodi, 2002).
Di bagian punggung memiliki sirip yang dilengkapi dengan 7-8 jari-jari bersifat lunak. Pada punggungnya terdapat sirip lemak yang berukuran kecil sekali. Adapun sirip ekornya berbentuk simetris membentuk cagak. Sirip dada memiliki 12-13 jari-jari lunak dan sebuah jari-jari keras. Sirip duburnya panjang, terdiri dari 30-33 jari-jari lunak. Sementara itu, sirip perutnya hanya memiliki 6 jari-jari lunak (Susanto dan Khairul, 2002).

3.3.3 Distribusi dan Ekologi
Ikan patin jambal merupakan satu dari 13 jenis patin penghuni asli perairan Indonesia khususnya di sungai sungai Sumatera dan Kalimantan. Di Sumatera, selain di sungai Musi , ikan patin juga hidup di sungai Rokan, Siak dan Kampar di Propinsi Riau dan sungai Batanghari Propinsi Jambi. Di Kalimantan jenis ikan ini terdapat pula di sungai Kapuas dan Barito (Cholik, Ateng, Poernomo dan Achmad, 2005).
Penyebaran ikan patin saat ini sudah mulai popular di hampir seluruh wilayah tanah air. Hal ini berbeda dengan kondisi beberapa waktu lalu, pada saat itu patin hanya dikenal dan digemari kalangan masyarakat di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Kini, Patin telah banyak dijumpai di Pulau Jawa bahkan di Kawasan Timur Indonesia. Daerah penyebaran patin juga sampai Negara-negara Eropa, Amerika Serikat dan beberapa negara Asia ( Susanto dan Khairul, 2002).


3.3.4 Habitat
Sebagaimana ikan catfish lainnya, ikan patin di alam bebas biasanya selalu bersembunyi di liang-liang di tepi sungai atau kali. Ikan ini baru keluar dari persembunyiannya pada malam hari setelah hari mulai gelap. Hal ini sesuai dengan hidupnya yang nocturnal (menjauhi cahaya dan aktif pada malam hari). Di habitat aslinya, sungai-sungai besar yang tersebar di beberapa pulau besar di Indonesia, ikan ini lebih banyak menetap di dasar perairan daripada permukaan. Oleh karena itu ikan ini digolongkan sebagai ikan dasar (demersal). Hal ini dapat dibuktikan dari bentuk mulutnya yang lebar, sebagaimana mulut ikan-ikan demersal lainya (Khairuman dan Dodi, 2002).

3.3.5 Sifat-sifat Ikan Patin
Ikan patin sangat toleran terhadap derajat keasaman (pH) air. Artinya ikan ini dapat bertahan hidup di kisaran pH yang lebar, dari perairan yang agak asam (pH rendah) sampai perairan yang basa (pH tinggi) dari 5 sampai 9. Kandungan oksigen terlarut yang dibutuhkan bagi kehidupan patin adalah berkisar antara 3-6 ppm, sementara karbondioksida yang bisa ditoleran berkisar antara 9-20 ppm. Alkalinitasnya antara 80-250. Suhu air media pemeliharaan yang optimal berada dalam kisaran 28-30o C (Khairuman dan Dodi, 2002).

3.3.6 Pakan dan Kebiasaan Makan
Ikan patin termasuk dalam omnivora yaitu golongan ikan pemakan segala. Di alam, makanan ikan ini antara lain ikan-ikan kecil lainnya, cacing, detritus, serangga, biji-bijian, udang-udang kecil dan moluska (Susanto,2006 ). Menurut Purnomo, Endi dan Sonny (2003), jenis ikan patin dapat dikategorikan bersifat planktivora/detritivora yang daerah pencarian makanannya sampai ke dasar perairan dan bersifat omnivora yang banyak memanfaatkan detritus dan potongan tumbuh-tumbuhan. Menurut Khairuman dan Dodi (2002), secara umum makanan kesukaan ikan patin tergantung dari kondisi lingkungan dan ketersediaan makanan yang ada di alam. Pada tingkat penebaran tinggi dan kekurangan pakan, patin besar juga dapat memangsa patin kecil.
Cholik, Ateng, Poernomo dan Achmad (2005) mengemukakan bahwa untuk larva pada hari ketiga sampai hari ke-14 diberi pakan berupa emulsi kuning telur dan protozoa. Kemudian, larva ikan diberi pakan berupa nauplius artemia, moina, tubifek dan terakhir pellet remah. Pada umur 6 minggu larva sudah mencapai ukuran benih dan dipindahkan ke kolam pendederan.
Ikan jambal sangat tanggap terhadap pakan buatan dan respon ikan jambal terhadap pakan terapung lebih baik dibanding dengan pellet tenggelam dan selama pemeliharaan ikan diberi pakan pellet berkadar protein 27% (Cholik, Ateng, Poernomo dan Achmad, 2005).

3.4 Kegiatan Pembesaran Ikan Patin
Pembesaran ikan merupakan kegiatan untuk menghasilkan ikan ukuran konsumsi. Sebelum memulai usaha budidaya patin, hal yang pertama kali dipersiapkan adalah lahan usaha atau lokasi tempat budidaya. Hal ini sangat penting karena dengan memilih atau menyiapkan lokasi usaha yang tepat diharapkan usaha tersebut akan berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Menurut Effendi (2004), kegiatan pembesaran meliputi persiapan kolam, penebaran benih, pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, pemberantasan hama dan penyakit, pemantauan pertumbuhan dan populasi serta pemanenan.
3.4.1 Persiapan Kolam
A. Pengeringan Kolam
Tahap awal persiapan kegiatan pembesaran di kolam adalah pengeringan kolam yang bertujuan untuk membunuh bibit penyakit yang ada, memudahkan pekerjaan pemupukan, perbaikan pematang yang bocor dan pengolahan tanah dasar kolam serta dapat membunuh telur dan benih organisme hama yang dapat menjadi kompetitor atau predator ikan.
Kegiatan yang dilakukan selama proses pengeringan antara lain pengontrolan dan perbaikan kondisi pematang, bagian-bagian tanggul, kemalir dan perbaikan saluran air.
Proses pengeringan tanah dasar kolam memerlukan waktu kurang lebih 1-2 minggu. Pengeringan dasar kolam dirasa cukup apabila tanah terlihat retak-retak dan bila diinjak masih melesak. Pengeringan diusahakan tidak terlalu kering dan berdebu karena akan berpengaruh kurang baik pada saat pengisian air.
Pengeringan dilanjutkan dengan penjemuran tanah dasar kolam yang sangat penting untuk memperbaiki kondisi tanah karena bertujuan untuk mengoksidasi bahan organik yang terkandung di dalam lumpur dasar tersebut menjadi mineral (hara). Oleh karena itu, proses pengeringan ini disebut proses mineralisasi. Proses pengeringan ini berlangsung hingga tanah dasar kolam retak-retak. Adanya retak-retak pada dasar kolam tersebut memungkinkan udara (mengandung oksigen) dapat masuk ke dalam lapisan tanah lumpur yang lebih dalam untuk mengoksidasi bahan organik di dalamnya. Dengan cara demikian maka proses pengeringan bisa dilakukan dengan baik.



B. Pembalikan Tanah Dasar Kolam (Pembajakan)
Pembalikan tanah dasar kolam dilakukan setelah pengeringan yaitu dengan cara melakukan pencangkulan sedalam 15-20 cm dengan menggunakan hand tractor.
Pembalikan tanah dasar kolam dapat berfungsi untuk memperbaiki kualitas tanah dasar. Menurut Khairuman (2007), dilakukan pencangkulan bertujuan untuk membalik tanah di bagian dasar dan membuang sisa-sisa kotoran. Dengan pembalikan tanah, unsur hara yang tersimpan dalam tanah akan terlepas (lebih tersedia) karena tanah yang berada di bagian bawah yang bersifat reduktif akan teroksidasi.

C. Pengapuran
Pengapuran dilakukan dengan menggunakan kapur tohor (CaO) dengan dosis 50kg/1000 m2. Cara pengapuran ini adalah dengan disebar secara merata dengan tujuan untuk meningkatkan nilai pH air maupun pH tanah dasar kolam dan dapat mematikan bibit penyakit maupun hama ikan. Karena menurut Effendi (2004), pada pH tanah yang rendah (<5,5) kesuburan perairan umumnya rendah dan efek pemupukan tidak signifikan. Bakteri umumnya sangat sensitif terhadap perubahan pH. Perubahan pH yang terjadi sebagai dampak dari pengapuran diharapkan bisa membunuh bakteri patogen.
Setelah kapur disebarkan secara merata selanjutnya dilakukan pembajakan tanah dasar kolam kemudian dibiarkan selama kurang lebih satu minggu, lalu dilakukan pengapuran ulang dengan dosis setengah dari pengapuran pertama.

D. Pemupukan
Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk organik berupa kotoran ayam dengan dosis 200 kg/1000m2. Kolam pembesaran patin juga diberi pupuk anorganik berupa TSP (Triple Super Phosphat) sebanyak 10 kg/ 1000m2 dan urea sebanyak 20 kg/1000m2. Metode pemupukannya dengan cara pupuk ditebar secara merata. Selang 7 hari dari pemupukan, air dimasukkan ke petakan kolam dengan ketinggian kurang lebih 10 cm.
Pemupukan dilakukan setelah proses pengapuran selesai. Tujuan utama pemupukan adalah untuk menumbuhkan pakan alami ikan patin seperti rotifera dan organisme lainnya serta untuk meningkatkan kandungan hara bagi kebutuhan fitoplankton untuk berfotosintesis. Peningkatan populasi fitoplankton di air dapat mendorong pertumbuhan populasi zooplankton sehingga bisa meningkatkan ketersediaan pakan alami bagi ikan dan keberadaan fitoplankton di dalam kolam berfungsi pula sebagai conditioning lingkungan bagi ikan. Dampak pemupukan dapat dilihat dari perubahan warna air kolam menjadi hijau atau hijau kecoklatan.
Pupuk yang biasa digunakan adalah jenis pupuk kandang (organik), pupuk buatan (anorganik) maupun pupuk hijau. Pupuk organik yang paling umum digunakan adalah kotoran sapi, kerbau, kuda, kambing atau unggas. Menurut Arifin dan Liviawaty (1998) dalam Susanto dan Heru (2002), dosis pupuk kandang berdasarkan sumbernya antara lain: pupuk dari kotoran sapi/ kerbau 6-7 ton/ha/masa tanam, pupuk dari kotoran unggas termasuk ayam 2,5-5 ton/ha/masa tanam.
Pupuk anorganik adalah pupuk buatan yang mengandung sejumlah konsentrasi (kadar) unsur-unsur hara seperti nitrogen, phosphor dan potassium. Penggunaan pupuk buatan untuk kolam pembesaran patin harus diketahui dulu jenis tanah dan airnya (asam atau basa), karena Susanto dan Khairul (2002) mengemukakan, untuk kolam yang bersifat agak asam atau netral sebaiknya menggunakan pupuk TS agar sifat kolam tidak bertambah asam.
D. Pengisian Air
Pengisian air dilakukan setelah pemupukan selesai. Selain airnya mengalir, kondisi sumber air juga harus bersih. Cara pengisian air ke kolam pembesaran adalah dengan membuka pintu air (inlet) yang dilengkapi dengan saringan hal ini untuk mencegah hama (stadia telur, larva bahkan dewasa) dan sampah masuk ke dalam kolam dan menutup saluran pembuangan (outlet). Pengisian air dilanjutkan secara bertahap hingga 1 m. saluran inlet ditutup kembali setelah air yang dibutuhkan tersebut cukup ketinggiannya. Sampai pada saat penebaran akan dilakukan, air kolam sebaiknya sudah mencapai 1,5 m.
Kolam yang diisi air dibiarkan selama beberapa hari dengan tujuan agar sebelum penebaran plankton dapat tumbuh dengan baik. Sedangkan pengisian air hingga mencapai 1,5 m disebabkan ikan patin menyukai perairan yang agak dalam.

3.4.2 Penebaran Benih
Penebaran benih dapat dilakukan setelah persiapan kolam selesai dan plankton dipastikan telah tumbuh. Benih yang sudah besar dan kuat langsung ditebarkan ke kolam. Penebaran dilakukan setelah ketinggian air kolam kurang lebih 1,5 m.

A. Asal Benih dan Waktu Penebaran
Benih yang berkualitas baik dapat menghasilkan ikan patin yang berkualitas baik pula. Ciri-ciri benih yang berkualitas baik menurut Effendi (2004) adalah spesies definitif dan tidak bercampur dengan spesies lain, organ tubuh lengkap, berukuran seragam, respon terhadap gangguan, posisi tubuh di dalam air normal, menghadap dan melawan arus ketika diberi arus, berwarna cerah dan tidak membawa penyakit. Benih ikan patin berasal dari MPIL (Model Pembenihan Ikan Lele) Mojokerto dikarenakan BIUG Pandaan tidak melakukan kegiatan pembenihan ikan patin. Pengangkutan benih dengan menggunakan kantong plastik dengan ketebalan 0,088 mm rangkap dua dengan perbandingan air dan oksigen 1:5. Benih mampu bertahan dalam kantong plastik selama kurang lebih 12 jam. Kantong-kantong tersebut dimasukkan ke dalam stereofom yang didalamnya berisi es batu yang berfungsi sebagai stabilisator suhu. Ini dilakukan untuk menjaga agar suhu di dalam kantong tetap konstan serta untuk menghindari tingginya tingkat kematian (mortalitas) selama pengangkutan. Tingkat kematian (mortalitas) benih selama pengangkutan kurang dari 5%. Penebaran benih ke dalam kolam pembesaran dilakukan pada waktu sore hari. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Khairuman dan Dodi (2002), penebaran dilakukan pagi atau sore hari yaitu pada saat suhu masih rendah. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kematian benih akibat teriknya matahari langsung yang pada dasarnya mengakibatkan fluktuasi suhu yang mencolok.

B. Penyesuaian Benih dan Aklimatisasi
Aklimatisasi bertujuan untuk menekan jumlah kematian benih yaitu agar benih tidak kaget sehingga tidak mengalami stress dan langsung bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Dengan proses aklimatisasi diharapkan perbedaan suhu air di kolam dan suhu air di plastik packing tidak lebih dari 3o C (Khairuman, 2007). Aklimatisasi dilakukan dengan cara mencampur perlahan-lahan air kolam dengan air di wadah pengangkutan kemudian membiarkan benih ikan patin keluar dengan sendirinya dari wadah pengangkutan ke air kolam. Suhu air untuk aklimatisasi adalah sekitar 25o C. Cara lain untuk aklimatisasi yaitu mengapungkan kantong yang berisi benih patin ke dalam kolam hingga temperatur air dalam kantong relatif sama dengan temperatur air kolam, baru setelah itu benih dilepas perlahan.

C. Padat Penebaran (Density)
Padat penebaran (density) adalah jumlah (biomassa) benih yang ditebarkan per satuan luas atau volume (Effendi, 2004). Padat penebaran benih akan menentukan tingkat intensitas pemeliharaan. Semakin tinggi padat penebaran benih yang berarti semakin banyak jumlah atau biomassa benih per satuan luas maka semakin intens tingkat pemeliharaannya.
Padat penebaran benih ikan patin adalah 16-17 ekor/m2 untuk benih berukuran 5-7 cm dengan berat antara 8-9 gram/ekor dengan jumlah benih 5000 ekor dengan tingkat mortalitas sebesar 10 %. Sedangkan padat penebaran yang dianjurkan Khairuman dan Dodi (2002) adalah 5 ekor/m2 dengan ukuran 5-8 cm per ekornya. Ini berarti bahwa, padat penebaran tidak sesuai untuk kelangsungan hidup, pertumbuhan, ruang gerak maupun dalam hal persaingan makanan. Menurut Susanto dan Khairul (2002), kepadatan penebaran tergantung pada ukuran benih. Makin besar ukuran benih yang ditebarkan maka makin kecil kepadatannya.

3.4.3 Manajemen Pemberian Pakan
Pakan merupakan faktor yang penting dalam usaha pembesaran ikan patin. Dalam usaha pembesaran, ikan diharuskan tumbuh hingga bisa mencapai ukuran pasar. Untuk itu ikan harus makan yang dipergunakan untuk mempertahankan kondisi tubuh (maintenance) selain itu untuk menumbuhkan jaringan otot atau daging (pertumbuhan somatis). Menurut Suhenda, Lies dan Yanti (2003), pakan berfungsi sebagai sumber energi dan materi bagi ikan. Karena itu aspek makanan terutama mengenai kebutuhan akan nutrien perlu diketahui sehingga dapat diperoleh formulasi pakan yang tepat.
Kebutuhan nutrien yang perlu diketahui antara lain protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Kadar komposisi dari pakan buatan untuk pembesaran ikan patin adalah protein 32%, lemak 7% dan kadar karbohidrat optimum adalah 20-40%.
Lemak pakan mempunyai peranan penting bagi ikan tropis karena sebagai sumber energi dan memelihara bentuk dan fungsi membran. Dalam keadaan energi yang berasal dari lemak mencukupi maka energi yang berasal dari protein dipergunakan untuk membangun jaringan tubuh. Mengenai kadar karbohidrat, Wilson (1994) dalam Suhenda, Lies dan Yanti (2003) menyatakan bahwa pemberian karbohidrat dalam pakan terlalu tinggi akan mengakibatkan pertumbuhan ikan rendah. Meskipun karbohidrat merupakan sumber energi yang relatif murah namun penggunaannya dalam metabolisme tubuh ikan masih sedikit sekali dibandingkan dengan lemak. Ketiga unsur tersebut harus seimbang karena menurut Suhenda, Lies dan Yanti (2003) lemak dan karbohidrat mempunyai sparing effect pada penggunaan atau pemanfaatan protein. Pakan dengan kadar protein tinggi namun tidak cukup mengandung energi yang berasal dari karbohidrat dan lemak akan menyebabkan adanya konversi protein yang relatif tinggi menjadi energi. Penggunaan kedua nutrien (karbohidrat dan lemak) harus dalam kadar yang tepat karena apabila kelebihan atau kekurangan akan memberikan dampak yang negatif. Kadar lemak yang tinggi akan menyebabkan penyimpanan lemak pada tubuh, penurunan konsumsi makanan dan pertumbuhan serta degenerasi hati. Suhenda, Lies dan Yanti (2003) mengemukakan bahwa pakan dengan rasio antara kadar lemak dan karbohidrat sebesar 6 (kadar karbohidrat 36% dan lemak 6%) memberikan pengaruh yang baik pada pertumbuhan ikan patin. Jumlah dan jenis pakan yang dikonsumsi oleh ikan akan menentukan asupan energi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan daging. Intake pakan bisa menggambarkan nafsu makan ikan.

A. Jenis Pakan
Menurut Susanto dan Khairul (2002), pellet yang digunakan adalah pellet lokal (buatan sendiri) dan pellet komersial (buatan pabrik). Sejauh pellet lokal bisa memenuhi standar nutrisi, penggunaan pellet lokal lebih menguntungkan secara ekonomi. Namun seringkali standar nutrisi yang dibutuhkan tidak dapat terpenuhi secara tepat. Oleh karena itu agar lebih aman sebaiknya digunakan pellet komersial. Selain itu, pakan buatan memiliki keunggulan yaitu mengandung keseimbangan nilai gizi yang sesuai dengan umur, pertumbuhan dan daya tahan ikan serta aroma yang dapat merangsang nafsu makan ikan patin.
Pakan yang diberikan pada ikan patin adalah jenis pakan buatan komersial yaitu jenis pakan apung yang diproduksi oleh PT. Matahari Sakti Surabaya. Menurut Khairuman dan Dodi (2002), makanan tambahan yang diberikan pada ikan patin untuk mempercepat proses pertumbuhan sedangkan menurut Asmawi (1986), pemberian makanan tambahan dapat meningkatkan produksi ikan peliharaan sampai tiga kali lipat. Hal ini ditambahkan pula oleh Anonymous (2007a) bahwa pelet apung lebih mudah proses pengambilannya oleh ikan dibandingkan dengan pelet tenggelam.
Pakan yang dipergunakan adalah pakan apung jenis SCAU 1, SCAU 2 dan SCAU 3 yang diberikan sesuai dengan umur ikan patin. Perbedaan pemberian jenis pakan ini berdasarkan umur dari ikan karena disesuaikan oleh ukuran ikan dan bukaan mulut ikan. Untuk SCAU 1 mempunyai ukuran diameter 1 mm, SCAU 2 mempunyai ukuran diameter 2 mm dan SCAU 3 mempunyai ukuran 3 mm. Untuk ikan patin berumur satu bulan menggunakan SCAU 1. Untuk ikan patin yang berumur dua bulan menggunakan SCAU 2. Untuk ikan patin yang berumur 3 bulan sampai ukuran konsumsi menggunakan jenis SCAU 3. Formulasi pakan dari semua jenis pellet tersebut adalah sama yang membedakan hanya ukuran dari masing-masing jenis. Formulasi pakan jenis SCAU adalah protein 19-22%, lemak min 5%, abu max 15%, serat kasar max 8%, kadar air max 10%
Menurut Cholik, Ateng, Poernomo dan Achmad (2005), kadar komposisi dari pakan buatan untuk pembesaran ikan patin adalah protein 32%, lemak 7% jadi pakan yang diberikan di BIUG Pandaan kurang memenuhi syarat untuk diberikan kepada ikan patin.
Menurut Khairuman dan Dodi (2002), ikan patin dapat diberi pakan yang diformulasi sendiri yaitu dengan formulasi serta komposisi tepung ikan sebanyak 30%, tepung kedelai 25%, bungkil kelapa 25% serta dedak halus 20% dan komposisi tersebut mengandung protein 20%. Menurut Suhenda dan Reza (2006) ikan patin terutama benihnya dapat memanfaatkan protein tepung kedelai sebagai substitusi tepung ikan dengan baik untuk mendukung pertumbuhannya. Dalam Anonymous (2007b) disebutkan bahwa dalam tepung kedelai terkandung protein 35,72%, lemak 2,23%, air 7,57% dan abu 2,23%.

Gambar 7a. Gambar 7b.
Pakan Ikan Patin Butiran Pakan Pellet Patin

B. Cara Pemberian dan Waktu Pemberian
Pemberian pakan buatan dilakukan dengan menebar secara merata pada sekeliling kolam pembesaran agar ikan patin di seluruh bagian kolam dapat memperoleh makanan. Kebiasaan ikan patin pada saat makan adalah bergerombol mengelilingi kolam mengikuti tempat pakan ditebarkan. Selain sifat kanibalisme dan padat penebaran tinggi, persaingan dalam mendapatkan makanan dapat menyebabkan ukuran ikan yang heterogen pada saat panen. Oleh karena itu, pemberian pakan harus diberikan merata sekeliling kolam. Jarak waktu antara pemberian pakan yang satu dengan pemberian pakan berikutnya adalah 4 jam. Pemberian pakan ini baru dihentikan setelah hampir 25% dari ikan yang ada telah meninggalkan tempat pemberian pakan.
Frekuensi pemberian pakan dilakukan sebanyak tiga kali yaitu pagi, siang dan sore pada pukul 08.00, 12.00 dan 15.00 dengan dosis 3-4% dari berat total ikan perhari. Pemberian pakan untuk sore hari lebih banyak daripada pagi dan siang hari dikarenakan ikan patin bersifat nocturnal yang aktif pada malam hari. Dosis pemberian pakan buatan ini berkaitan dengan penggunaan energi serta pertumbuhan ikan yang dipelihara. Menurut Susanto dan Khairul (2002), ikan patin bisa dilatih untuk makan pada tempat tertentu dan jam tertentu pula. Untuk itu pemberian pakan sebaiknya dibiasakan pada satu atau maksimal tiga tempat.
Penyediaan suplai makanan merupakan kegiatan penting dalam kegiatan budidaya. Karena menurut Asmawi (1986) kecepatan pertumbuhan salah satunya bergantung pada jumlah makanan yang diberikan. Makanan dimanfaatkan oleh ikan untuk memelihara tubuh dan menggantikan alat-alat tunbuh yang rusak kemudian kelebihan makanan dipergunakan untuk pertumbuhan. Kuantitas makanan dapat mempengaruhi pertumbuhan jika makanan yang tersedia dalam jumlah banyak dan berkualitas baik, tetapi kalau makanan tersedia dalam jumlah sedikit maka makanan tidak akan mempengaruhi kecepatan tumbuh ikan.

C. Nilai FCR ( Food Convertion Rate) Pada Ikan Patin
FCR (Food Convertion Rate) adalah Ratio jumlah pakan yang diberikan selama pemeliharaan dengan pertumbuhan mutlak ikan. Hal ini dapat ditunjukkan dengan rumus: FCR = F
(Wt + D) -Wo
Dimana :
F = Jumlah total pakan yang diberikan selama pemeliharaan
Wo = Berat total ikan awal pemeliharaan ( berat awal)
Wt = Berat total ikan akhir pemeliharaan ( berat akhir)
D = Berat total ikan yang mati selama pemeliharaan

Nilai rata-rata konversi pakan ( food convertion rate) untuk patin adalah 1-1,5 yang berarti bahwa setiap 1-1,5 kg pakan yang diberikan akan menghasilkan 1 kg daging. Anonymous (2007a) meyebutkan bahwa pakan yang kurang bagus akan menghasilkan FCR yang tinggi sehingga menunjukkan biaya produksi tinggi.

3.4.4 Manajemen Kualitas Air
Pengelolaan air dalam kegiatan pembesaran bertujuan untuk menyediakan lingkungan yang optimal bagi ikan agar tetap bisa hidup dan tumbuh maksimal. Pengelolaan kualitas air meliputi pengelolaan kandungan oksigen terlarut (DO), derajat keasaman (pH), dan suhu.

Gambar 8. Alat Ukur Kualitas Air pH meter dan DO meter

A. Oksigen Terlarut (Disolved Oxygen)
Berdasarkan hasil pengukuran kandungan oksigen terlarut pada kolam pembesaran patin didapatkan nilai DO dengan kisaran 5,76 mg/l. seperti yang dikemukakan oleh Khairuman (2002), kandungan oksigen terlarut yang dibutuhkan bagi kehidupan ikan patin berkisar antar 3-6 ppm. Pengukuran DO dilakukan sebanyak tiga kali yaitu pukul 08.00, 12.00 dan 17.00. Berdasarkan hasil pengukuran, didapatkan kesimpulan bahwa pagi dan siang hari nilai DO tinggi karena kandungan oksigen pada pagi dan siang hari lebih banyak dihasilkan dari proses fotosintesis dibanding pernafasan. Pada waktu malam hari DO rendah karena baik ikan maupun tanaman air terus bernafas sedangkan oksigen hanya diperoleh dari udara (difusi).
Penambahan kandungan oksigen terlarut dapat dilakukan dengan cara pergantian air (sirkulasi air masuk dan air keluar). Kegiatan ini dilakukan setiap hari dengan volume air yang diganti sebanyak 25-30% dari volume air kolam. Ini bertujuan agar kandungan oksigen terlarut dalam kolam pembesaran patin relatif stabil dengan kisaran 3-6 mg/l (data hasil pengukuran DO selama PKL ditunjukkan pada lampiran 2).
Upaya pengelolaan kandungan oksigen terlarut di perairan agar tetap dalam kondisi ideal adalah sangat penting. Menurut Khairuman dan Dodi (2002), oksigen terlarut dalam air dapat berasal dari hasil fotosintesis dengan bantuan sinar matahari atau dari udara luar melalui proses difusi dari permukaan air. Namun kadar oksigen terlarut dalam kolam dapat mengalami perubahan yang mendadak karena pengaruh proses penguraian bahan organik, pernafasan serta pembusukan dalam air kolam sehingga dapat menyebabkan berkurangnya penyediaan oksigen terlarut.
Patin termasuk ikan yang cukup tahan dengan kandungan O2 rendah dalam air, seperti lele. Jika kandungan O2 dalam air berkurang, patin akan langsung mengambil O2 dari udara bebas.

B. Derajat Keasaman (pH)
Berdasarkan hasil pengamatan pH didapat nilai berkisar antara 7,8-9,6. ini menandakan bahwa perairan (kolam) bersifat basa. Seperti yang dikemukakan oleh Khairuman dan Dodi (2002), ikan patin sangat toleran terhadap derajat keasaman (pH) air yaitu dapat bertahan hidup di kisaran pH air yang lebar dari perairan yang agak asam (pH rendah) sampai perairan yang basa (pH tinggi) dari 5-9. (data hasil pengukuran pH selama PKL disajikan pada lampiran 3).
Derajat keasaman yang dinyatakan dengan pH (puissance Hydrogen), merupakan logaritma negatif dari kepekatan ion-ion hydrogen yang terlepas dalam satu larutan. Selain itu, pH merupakan indikator baik buruknya lingkungan air terhadap kandungan mineralnya.
Pada pagi dan siang hari pH air tinggi disebabkan berlangsungnya fotosintesis, dimana saat ini tanaman air/fitoplankton mengambil CO2, sehingga menyebabkan hilangnya CO2. Sedangkan pada malam hari pH air rendah karena tanaman air mengkonsumsi oksigen sehingga kandungan oksigen menurun menyebabkan kandungan pH menurun pula.

C. Suhu
Hasil pengukuran suhu pada kolam pembesaran ikan patin berfluktuasi antara 28-32o C. Suhu air tersebut masih dalam kisaran yang baik bagi pertumbuhan ikan patin. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa untuk dapat hidup normal ikan patin harus hidup pada suhu yang berkisar antara 28-30o C. (data hasil pengukuran suhu selama PKL ditunjukkan pada lampiran 2).
Suhu perairan sangat mempengaruhi aktifitas gerak, kenyamanan, pertumbuhan dan kehidupan ikan. Suhu yang terlalu dingin akan memudahkan ikan terserang jamur/parasit, sedangkan suhu yang terlalu panas akan menyebabkan ikan kesulitan bernafas.


3.4.5 Pengendalian Hama dan Penyakit pada Pembesaran Ikan Patin
1. Hama
Pada budidaya ikan patin, kemungkinan serangan hama lebih banyak dialami pada usaha pembesaran karena usaha ini dilakukan di alam terbuka seperti di jaring, kolam atau karamba.
Jenis-jenis hama yang menyerang ikan patin antara lain ikan liar pemangsa, udang, biawak kecil dan ular air. Ikan-ikan kecil yang masuk dalam kolam pembesaran juga akan mengganggu. Meskipun bukan hama, tetapi ikan-ikan kecil itu dapat menjadi pesaing dalam hal mencari makan dan memperoleh oksigen (Susanto dan khairul, 2002).
Pencegahan yang dilakukan di BIUG Pandaan adalah dengan membersihkan areal kolam dari rumput atau semak-semak yang dapat menjadi sarang hama. Usaha pemberantasan yang paling efektif adalah secara mekanis yaitu membunuhnya langsung jika hama tersebut ditemukan dan memasang perangkap yang telah diberi racun.

2. Penyakit
Penyakit merupakan salah satu penyebab kegagalan usaha budidaya ikan patin. Bila air yang digunakan sebagai media hidup ikan patin mengalami pengotoran khususnya akibat metabolisme akan membuka peluang bagi tumbuh dan berkembangnya penyakit.
Kualitas air budidaya dengan kandungan bahan organik yang tinggi dan kandungan oksigen terlarut yang rendah serta pH yang tidak sesuai dan fluktuasi suhu yang tinggi memaksa ikan untuk mempertahankan keseimbangan metabolismenya, memperlemah ikan dan akhirnya akan mudah terserang penyakit. Slembrouck, Oman, Maskur dan Marc (2005) menambahkan bahwa pencemaran air karena zat kimia juga bisa menjadi penyebab kematian secara tiba-tiba dan melemahkan ikan terutama apabila ikan dibesarkan di alam terbuka yang mendapat pengairan dari sungai.
Dalam budidaya intensif, kepadatan ikan yang tinggi sering melampaui kemampuan alamiah kolam. Karena itu ikan sangat rentan terhadap stress dengan demikian ikan cenderung mudah terserang infeksi patogen.
Secara umum, penyakit yang menyerang ikan patin dapat digolongkan menjadi dua golongan. Pertama, penyakit non-infeksi yaitu penyakit yang timbul akibat adanya gangguan faktor yang bukan pathogen. Kedua, penyakit akibat infeksi yang timbul akibat gangguan organisme pathogen.
A. Penyakit Non-infeksi
Keracunan dan kekurangan gizi adalah contoh penyakit yang dapat ditemukan pada budidaya patin. Keracunan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu pemberian pakan yang berkualitas kurang baik atau terjadinya pencemaran air media budidaya akibat tumpukan bahan organik atau sampah yang membusuk. Kekurangan gizi umumnya disebabkan pemberian pakan tanbahan yang kurang bermutu. Gejala keracunan dapat diidentifikasi dari tingkah laku ikan seperti ikan terlihat lemas dan berenang di permukaan air. Bila sudah parah, ikan berenang terbalik kemudian mati. Ikan patin yang kekurangan gizi dapat dilihat dari tubuhnya yang kurus, kepala relatif besar serta gerakan yang kurang lincah.

B. Penyakit Infeksi
1. Parasit
Penyakit yang sering menyerang ikan patin adalah penyakit bintik putih atau white spot. Penyakit ini terjadi akibat infeksi Ichtyopthirius multifilis yang tergolong ke dalam parasit. Penyakit ini umumnya menyerang ikan patin yang masih berukuran benih dengan umur 1—2 bulan. Kalangan ahli perikanan menyebut penyakit ini sebagai “penghancur ikan” karena dalam waktu singkat ikan dapat habis terserang penyakit ini.
Keganasan protozoa berukuran mikro ini memang ganas. Oganisme ini menempel pada tubuh ikan secara bergerombol sampai ratusan jumlahnya sehingga akan terlihat seperti bintik putih. Tempat yang disukainya yaitu dibawah selaput lendir sekaligus merusak selaput lendir tersebut.
Menurut Susanto dan Khairul (2002), serangan protozoa ini bersifat kosmopolit karena jumlahnya yang banyak sehingga sangat berbahaya. Bila perairan mengalami perubahan suhu yang mendadak, serangannya akan semakin meningkat. Pada tahap awal serangan, white spot biasanya menyerang daerah pangkal sirip ikan. Bila keadaan mendukung, daerah serangannya akan semakin meluas hingga ke insang.
Untuk menanggulangi infeksi ini dapat mempergunakan formalin yang mengandung Malachite Oxalate (FMGO) sebanyak 4 gram/liter air. Pencegahan pada ikan-ikan patin berukuran lebih besar dapat dilakukan dengan perendaman selama 24 jam dalam FMGO dengan dosis 10 ml/m3 air seminggu sekali.

2. Bakteri
Penyakit bakteri yang dapat menyerang ikan patin adalah Aeromonas sp. dan Pseudomonas sp. Penyakit ini menyerang bagian perut, dada dan pangkal sirip disertai dengan pendarahan. Jika terserang, lendir ditubuhnya berkurang serta tubuh terasa kasar saat diraba. Jika ikan patin yang terserang cukup parah, tindakan yang dilakukan adalah dengan memusnahkan ikan tersebut agar tidak menulari ikan patin yang lainnya. Pengobatan dilakukan dengan cara perendaman larutan PK (Kalium Permanganat) sebanyak 10-20 ppm selama 30-60 menit. Cara pengobatan lain yaitu dengan merendam ikan dalam larutan Nitrofuran sebanyak 5-10 ppm selama 12-24 jam atau dalam larutan Oksitetrasiklin sebanyak 5 ppm selama 24 jam.
Pengobatan dapat pula dilakukan dengan cara mencampurkan obat-obatan ke dalam makanan. Obat-obatan yang dapat digunakan adalah Chloromycetin sebanyak 1-2 gram untuk setiap 1 kg makanan.

3. Jamur
Penyakit lain yang dapat menyerang patin adalah jamur. Penyakit ini biasanya terjadi adanya luka-luka di badan ikan. Penyebab luka tersebut antara lain akibat penanganan yang kurang baik saat pemanenan atau saat pengangkutan. Jamur yang menyerang ikan patin adalah golongan Saprolegnia sp. dan Achlya sp.
Ciri-ciri ikan patin yang terserang penyakit jamur ini adalah adanya luka di bagian tubuhnya, terutama insang, sirip dan bagian punggung. Bagian-bagian itu ditumbuhi benang-benang halus seperti kapas berwarna putih hingga kecoklatan. Pencegahan penyakit jamur dapat dilakukan dengan menjaga kualitas air yang sesuai dengan kebutuhan ikan serta menjaga ikan patin tidak mengalami luka-luka di tubuhnya.
Jika telah terserang penyakit, dapat dilakukan perendaman dalam larutan Malachite Green Oxalate dengan dosis 2-3 gram/m3 selama 30 menit. Agar ikan patin benar-benar sembuh dari penyakit, pengobatan diulang sampai tiga hari berturut-turut.
Pada kegiatan pembesaran ikan patin di Balai Induk Udang Galah (BIUG) Pandaan tidak terdapat penyakit yang menyerang. Oleh karena itu untuk mencegah terjadinya keracunan, pemberian pakan haruslah sesuai dengan anjuran dan lokasi kolam dijaga kebersihannya. Sementara itu, agar ikan patin tidak kekurangan gizi pakan harus diberikan dalam jumlah yang cukup serta mempunyai kandungan protein tinggi yang dilengkapi dengan vitamin dan mineral.

3.5 Pemanenan dan Pemasaran

3.5.1 Pemanenan
Pemanenan dilakukan setelah ikan mencapai ukuran/umur tertentu. Dengan lama pemeliharaan kurang lebih 6-7 bulan atau dapat tergantung dari permintaan pasar. Panen dapat dilakukan pada pagi/sore hari. Wadah dan alat pemanenan menggunakan happa halus untuk menangkap ikan atau waring halus untuk mengambil ikan.
Berdasarkan tujuannya sistem pemanenan ada dua macam yaitu panen sebagian dan panen total.
A. Panen Sebagian
Panen sebagian yaitu pemanenan yang hanya memilih ikan patin ukuran tertentu sedangkan yang masih di bawah ukuran dikembalikan untuk dibesarkan kembali.
Panen sebagian biasanya menggunakan alat tangkap jaring insang (gill net). Jaring tersebut direntangkan satu sisi kolam kemudian ditarik dari satu sisi jaring ke sisi lainnya. Ukuran mata jaring disesuaikan dengan ukuran ikan patin yang dipenen. Selanjunya penangkapan dilakukan sampai berulang-ulang sampai jumlah dan ukuran yang diinginkan. Apabila penangkapan dengan jaring didapatkan hasil yang sedikit maka dilakukan pengeringan kolam.
B. Panen Total
Panen total yaitu pemanenan yang dilakukan terhadap seluruh ikan patin tanpa klasifikasi ukuran tertentu. Sistem panen ini dilakukan bila ukuran patin sudah seragam dan sesuai dengan yang diharapkan.
Sistem pemanenan yang dilakukan di BIUG Pandaan yaitu sistem panen total. Pemanenan total dikukan dengan cara pengeringan air kolam. Saluran pemasukan ditutup dan saluran pembuangan yang telah dipasang saringan dan terletak di dasar kolam dibuka sehingga air yang tersisa akan berada di saluran tengah (kemalir), sehingga ikan patin akan berkumpul di saluran tersebut.
Ikan-ikan yang sudah berkumpul di saluran tengah digiring ke kobakan (lubang kecil) diletakkan di pintu pembuangan untuk selanjutnya ditangkap secara hati-hati. Penangkapan dilakukan dengan menggunakan alat tangkap seperti serok/scopnet/seser.
Selama penangkapan berlangsung perlu diusahakan adanya aliran air yang masuk ke dalam kolam meskipun hanya sedikit. Hal ini berguna untuk mencegah agar ikan tidak sampai mati karena kekurangan oksigen.
Setelah dilakukan pemanenan ikan ditampung dalam bak pemberokan. Bak pemberokan ini berfungsi untuk penampungan sementara sebelum ikan didistribusikan.

Gambar 6. Kolam Pemberokan

3.5.2 Produksi Ikan Patin
Hasil yang didapatkan dari kegiatan pembesaran ikan patin di BIUG Pandaan adalah 4500 ekor sebesar 2250 kg dengan size 2 ekor per kg per siklus yaitu selama 6 bulan pemeliharaan dengan tingkat kelulushidupan (SR) sebanyak 90 %.
3.5.3 Penanganan Pasca Panen
Penanganan pasca panen ikan patin dapat dilakukan dengan cara penanganan ikan hidup maupun ikan segar.
1. Penanganan ikan hidup
Hal yang perlu diperhatikan agar ikan sampai ke tangan konsumen dalam keadaan hidup, segar dan sehat antara lain:
a. Dalam pengangkutan menggunakan air yang bersuhu rendah sekitar 20oC.
b. Waktu pengangkutan hendaknya pagi/sore hari
c. Jumlah kepadatan ikan dalam alat pengangkutan tidak terlalu padat.
Perubahan suhu air selama ikan diangkut akan mempengaruhi konsumsi oksigen sehingga disarankan agar mengurangi kepadatan dari biasa yang digunakan bila suhu air akan meningkat 10 oC.
Menurut Arifin, Mas Tri dan Anang (1991), keberhasilan mengangkut ikan hidup ini erat kaitannya dengan kondisi fisik kimia air terutama kandungan oksigen terlarut, NH3, CO2, pH dan suhu air. Peningkatan jumlah ikan yang diangkut, selain menyebabkan kompetisi penggunaan ruang juga pemanfaatan oksigen terlarut. Dupree dan Huner (1984) dalam Arifin, Mas Tri dan Anang (1991) menyebutkan bahwa konsumsi oksigen oleh ikan tertinggi terjadi selama 15 menit pertama dari masa pengangkutan.
2. Penanganan ikan segar
Ikan segar merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:
a. Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan-ikan tidak terluka
b. Sebelum dikemas, ikan harus dicuci bersih dari lendir
c. Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup. Untuk pengangkutan jarak dekat (2 jam perjalanan) dapat digunakan keranjang yang dilapisi dengan daun pisang/plastik. Untuk pengangkutan jarak jauh digunakan kotak dari seng atau fiberglass. Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi kotak maksimum 50 cm.
d. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7oC. Gunakan es berupa potongan kecil-kecil dengan perbandingan jumlah es dan ikan= 1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. kemudian ikan disusun diatas lapisan es ini setebal 5-10 cm lalu disusul lapisan es lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian juga antara ikan dengan penutup kotak.

3.5.4 Pemasaran
Ikan patin yang dihasilkan oleh BIUG Pandaan diseleksi berdasarkan ukuran serta kondisi ikan patin itu sendiri. Sampai saat ini pemasaran terhadap ikan patin ukuran konsumsi tidak mengalami kesulitan. Biasanya konsumen yang membutuhkan ikan patin dengan ukuran tertentu langsung datang ke tempatnya. Harga ikan patin bervariasi. Biasanya I kg ikan patin berisi dua ekor dengan berat 500 gram dijual dengan harga Rp. 8.000-Rp. 12.000.
Umumnya permintaan ikan patin berasal dari restoran-restoran yang menjual makanan berupa ikan segar. Ikan yang telah dibeli ditempatkan dalam bak fiber untuk dikirim ke pemesan. Daerah pemasaran ikan patin dari BIUG baru mencakup wilayah Jawa Timur seperti Malang, Surabaya, Pasuruan dan Mojokerto.


3.6 Permasalahan dan Pengembangan Usaha
3.6.1 Permasalahan yang Dihadapi
Usaha budidaya khususnya kegiatan pembesaran patin tidak terlepas dari berbagai permasalahan di lapangan. Beberapa permasalahan dapat terjadi di BIUG yaitu banyaknya benih yang mati dan ukuran rata-rata ikan patin yang tidak seragam (heterogen) pada saat panen.
Banyaknya benih yang mati dapat disebabkan karena beberapa faktor diantaranya adalah transportasi, waktu penebaran dan padat penebaran yang terlalu tinggi. Pada saat transportasi, benih hanya mampu bertahan dalam kantong plastik kurang lebih 12 jam dalam kantong. Usaha-usaha untuk mengatasi masalah ini yaitu hendaknya transportasi benih dilakukan tidak lebih dari 12 jam karena benih hanya mampu bertahan dalam kantong selama kurang lebih 12 jam. Waktu penebaran juga harus dilakukan pada pagi atau sore hari pada saat suhu masih rendah karena terik matahari dapat mengakibatkan fluktuasi suhu yang mencolok yang dapat menyebabkan stress pada benih yang ditebarkan dan mengakibatkan kematian. Padat penebaran benih yang tinggi harus dikurangi untuk mengurangi tingkat kematian benih.
Masalah lain yang terjadi pada usaha pembesaran yaitu ukuran ikan patin yang tidak seragam (heterogen) pada saat panen. Ini disebabkan karena sifat kanibalisme pada ikan patin dan persaingan dalam mendapatkan makanan. Ikan patin tergolong ikan pemakan segala atau disebut kanibal. Pada tingkat tebar tinggi, patin besar dapat memangsa patin kecil. Cara pemecahannya antara lain pada saat pemberian pakan buatan hendaknya dilakukan secara merata di sekeliling kolam agar ikan patin di seluruh bagian kolam dapat memperoleh makanan. Kebiasaan ikan patin pada saat makan adalah bergerombol mengelilingi kolam mengikuti tempat pakan ditebarkan. Berkaitan dengan tingkat padat tebar, untuk mencegah ikan patin besar memangsa ikan-ikan kecil, padat tebar yang tinggi harus dikurangi sesuai dengan kondisi kolam. Frekuensi pemberian pakan dan dosis pakan juga harus dioptimalkan karena ikan patin termasuk ikan yang mudah lapar.

3.6.2 Pengembangan Usaha Pembesaran Ikan Patin
Pengembangan usaha pembesaran ikan patin di BIUG Pandaan sangat dimungkinkan karena ikan patin merupakan ikan yang berprospek cerah dan bernilai ekonomis tinggi karena ikan patin merupakan ikan yang berbeda dengan jenis ikan tawar lainnya karena memiliki rasa daging yang paling enak, lezat dan gurih dan termasuk ikan yang mahal. Cara pengembangan usaha pembesaran ini yaitu dengan penambahan kolam pembesaran karena di BIUG Pandaan kolam pembesaran hanya ada satu kolam saja. Penambahan kolam ini dilakukan dengan sistem estafet yaitu pada bulan pertama kegiatan pembesaran untuk kolam 1 kemudian pada bulan kedua kegiatan pembesaran untuk kolam 2 dan seterusnya sehingga kegiatan pembesaran selalu berlangsung. Tujuan dari pengembangan ini adalah menjalankan program kerja dari pemerintah dalam rangka memasyarakatkan gerakan gemar makan ikan, ikut andil dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan protein hewani khususnya dari ikan dan memenuhi kebutuhan pasar terhadap ikan patin serta sebagai wujud riil untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang budidaya ikan patin khususnya dalam kegiatan pembesarannya.

3.7 Analisa Usaha
Setiap usaha yang membutuhkan modal usaha tentunya mengharapkan keuntungan, begitu pula dengan kegiatan pembesaran ikan patin di BIUG Pandaan ini. Dalam usaha pembesaran ikan patin, BIUG berusaha memperoleh hasil yang maksimal dengan biaya seefisien mungkin namun tidak mengurangi kualitas ikan patin.
Analisa usaha yang dilakukan salah satunya dapat dengan melihat rentabilitas. Menurut Riyanto (1984), rentabilitas usaha adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Usaha dikatakan menguntungkan bila rentabilitas lebih tinggi nilainya daripada bunga bank. Kategori usaha dapat dilihat berdasarkan nilai rentabilitas.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dari pelaksanaan Praktek Kerja Lapang tentang pembesaran ikan patin dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:
1. Balai Induk Udang Galah (BIUG) Pandaan memiliki luas 2,5 ha dengan 18 kolam ukuran 20x15 m dan 2 buah kolam berukuran 30x30 m yang tidak dipakai.
2. Kolam pemeliharaan ikan patin berupa kolam beton berbentuk persegi panjang dengan dasar tanah dan sumber air berasal dari air irigasi yang berasal dari sungai Ulu-ulu Banyu.
3. Benih berasal dari MPIL (Model Pembenihan Ikan Lele) Mojokerto. Padat tebar 16-17 ekor/m2 ukuran 5-7 cm dengan berat 8-11 gr.
4. Lama pemeliharaan untuk mencapai ukuran konsumsi adalah 6 bulan dengan panjang tubuh 25-30 cm dan berat 500-600 gram per ekor.
5. Pakan yang diberikan pada pemeliharaan ikan patin berupa pellet terapung yang diproduksi oleh PT. Matahari Sakti Surabaya dengan frekuensi pemberian pakan sebanyak 3 kali sehari dengan dosis 3-4% dari berat total ikan per hari.
6. Berdasarkan pengukuran kualitas air didapatkan hasil bahwa suhu perairan berkisar antara 28o-32o C, pH 5-9 dan kandungan oksigen terlarut (DO) 3-6 mg/l. Kondisi perairan ini layak atau sesuai untuk dilakukan usaha budidaya ikan.
7. Jenis hama yang menyerang ikan patin antara lain ikan liar pemangsa, udang, biawak kecil dan ular air. Penyakit yang menyerang adalah jenis parasit Ichtyopthirius multifilis, bakteri Aeromonas sp dan Pseudomonas sp. Jamur Saprolegnia sp. dan Achlya sp.
8. Total produksi dalam 1 siklus produksi (6 bulan pemeliharaan) adalah 2250 kg dengan isi 2 ekor per kg. Tingkat kelulushidupan (Survival rate) sebesar 90%.
9. Dari perhitungan analisa usaha didapatkan nilai rentabilitas sebesar 57,60 %. Menurut kriteria, nilai ini termasuk dalam kategori usaha yang baik sehingga usaha ini layak untuk dikembangkan lebih lanjut karena memiliki prospek yang cerah.

4.2 Saran
Sebaiknya dilakukan pembenahan-pembenahan dan peningkatan kualitas usaha budidaya yang meliputi manajemen pakan dan manajemen kualitas airnya sehingga dapat meningkatkan hasil produksi dan perlu dilakukan penambahan jumlah kolam di BIUG Pandaan supaya produksi ikan tetap berlangsung.













DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2007a. Pakan Ikan Patin. www. trubus-online.com. Diakses 3 Juni 2007.

__________.2007b. Bahan Alternatif Pakan Dari Hasil Samping Industri Pangan. http:// www.dkp.go.id/content.php?c=1931. Diakses 3 Juni 2007.

__________.2007c. Budidaya Ikan Patin (Pangasius pangasius).
www.ict4pr.org/files/warintek/Teknologi%20Tepat%20Guna/budidaya%20perikanan/pemd/patin.pdf. Diakses 3 Juni 2007.

Arifin, Z, Mas tri D S dan Anang HK. 1991. Pengangkutan Benih Patin (Pangasius pangasius) dalam Kantung Plastik dengan Kepadatan Berbeda. Bulletin Penelitian Perikanan Darat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Balai Penelitian Perikanan Air Tawar Bogor. Vol 10 No 2 Juni 1991.

Asmawi, S. 1986. Pemeliharaan Ikan Dalam Karamba. PT Gramedia. Jakarta.

Cholik, F, Ateng G J, R P Poernomo dan Achmad J. 2005. Akuakultur Tumpuan Harapan Masa Depan Bangsa. PT Viktoria Kreasi Mandiri. Jakarta.

Effendi, I. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar Swadaya. Jakarta.

Faisal, S. 2003. Format–format Penelitian Sosial. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Hariati, AM, H Nursyam, A Yuniarti, Y Suryanti dan Y Astutik. 2001. Fortifikasi Amilosa sebagai Floater Pada Penyusunan Formula Pakan Pellet Terapung. Jurnal Ilmu-ilmu Ternak Lembaga Penelitian Universitas Brawijaya Malang. Vol 13 No 2 Oktober 2001.

Khairuman. 2007. Budidaya Patin Super. Agro Media. Jakarta.

_________ dan Dodi S. 2002. Budidaya Patin Secara Intensif. Agro Media. Jakarta.

Kusminarni, A. 2003. Teknik Pembenihan Ikan Vellifera (Mollinesia villifera) di Desa Canggu Kecamatan Pare Kabupaten Kediri Propinsi Jawa Timur. PKL. Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang. Tidak diterbitkan.

Marzuki. 1983. Metodologi Riset. Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. Yogyakarta.
Mulyantoro, D. 1999. Pembudidayaan Ikan Patin Di Kolam (Pangasius sp.). Dinas Perikanan Daerah Tingkat I Jawa Timur. Surabaya.
Purnomo, K, Endi SK dan Sonny K. 2003. Pertumbuhan, Mortalitas dan Kebiasaan Makan Ikan Patin Siam (Pangasius hipopthalmus) Introduksi di Waduk Wonogiri. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. Pusat Riset Kelautan Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan perikanan Edisi Sumberdaya alam penangkapan. Vol 9 No3 tahun 2003.
Riyanto, B. 1984. Dasar-dasar Pembelanjaan. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Slembrouck, J, Oman K, Maskur, Marc L. 2005. Petunjuk Teknis Pembenihan Ikan Patin Indonesia Pangasius Djambal. Kerjasama IRD dan Pusat Riset Perikanan Budidaya. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Suhenda, N dan Reza S.2006. Evaluasi Penggunaan Protein Tepung Kedelai Sebagai Substansi Tepung Ikan dengan Rasio Berbeda Untuk Pertumbuhan Benih Ikan Patin Djambal (Pangasius Djambal). Prosiding Seminar Nasional Perikanan. Hasil-hasil Penelitian Bidang Perikanan dan Kelautan Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya. Malang.
_________, Lies S dan Yanti Y. 2003. Penentuan Rasio Antra Kadar Karbohidrat dan Lemak pada Pakan Benih Ikan Patin Djambal (Pangasius djambal). Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. Vol 9 No 1 Tahun 2003.

Surachmad, W. 1985. Pengantar Penelitian Ilmiah. Tarsito. Bandung.

Suryabrata, S. 1983. Metodologi Penelitian. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Susanto, H. 1987. Budidaya Ikan Gurami. Penebar Swadaya. Jakarta.
_________. 2002. Membuat Kolam Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.
_________ dan Khairul Amri. 2002. Budidaya Ikan Patin. Penebar Swadaya. Jakarta.
_________. 2006. Budidaya Ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya. Jakarta

Reaksi: 

0 komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto Saya
SINGKIL, NAD, Indonesia
SAYA ORANGNNYA SIMPLE DAN SELALU TERTARIK DENGAN HAL - HAL YANG BERBAU TEKNOLOGI DAN ILMU PENGTAHUAN. DAN SAYA TIDAK SUKA DENGAN KEKERASAN SERTA KEKEJAMAN. YANG PENTING MENURUT SAYA DAMAI ITU INDAH....

BERITA

Loading...