PEMUPUKAN KELAPA SAWIT

Selasa, 01 September 2009

Diposting oleh MANDALA

PENDAHULUAN

Perkembangan budidaya ikan dari sistem tradisional ekstensif menjadi system intensif dirasakan sangat pesat. Namun perkembangan tersebut tanpa kita sadari bersama telah banyak menimbulkan masalah. Salah satu masalah yang dirasa sangat serius adalah masalah penyakit ikan.

Penyakit ikan biasanya timbul karena adanya interaksi antara tiga factor yaitu lingkungan, inang dan adanya jasad penyebab penyakit. Apabila ketiga factor tersebut berada dalam keseimbangan maka tidak akan terjadi masalah penyakit. Tetapi apabila terjadi perubahan pada salah satu factor maka akan terjadi ketidak seimbangan. Hal ini akan dapat menimbulkan masah penyakit ikan.

Dengan semakin luasnya sebaran areal budidaya ikan, dan semakin majunya perdagangan serta lalu-lintas ikan hidup, maka penyebaran penyakit ikan akan semakin cepat. Demikian juga dengan semakin intensif sistem budidaya ikan maka akan semakin banyak masalah penyakit ikan yang timbul. Dalam keadaan demikian maka kita harus sudah siap dengan tehnologi penanggulangan penyakit ikan yang meliputi tehnik diagnosa cepat, tehnik pencegahan penyakit, dan tehnik pengobatannya. Demikian juga untuk menjaga semakin meluasnya penyebaran penyakit ikan maka peran Karantina Ikan akan sangat berarti.

Beberapa usaha untuk menanggulangi penyakit ikan telah banyak dilakukan. Berbagai macam bahan kimia dan antibiotika telah banyak dipakai dalam pengobatan
penyakit ikan. Pemakaian vaksin dan immunostimulan telah mulai digunakan untuk mencegah timbulnya penyakit pada ikan. Penggunaan bakteri probiotik telah pula digunakan dalam usaha penanggulangan penyakit pada ikan.

Usaha pencegahan terhadap timbunya penyakit ikan juga telah dilakukan dengan jalan memperbaikai kualitas air baik dengan jalan pengguanaan filter biologi maupun dengan menggunakan proses bio-remediasi.

Dalam makalah ini akan dibahas hal-hal yang berkaitan dengan manajemen kesehatan ikan meliputi cara diagnosa, pencegahan penyakit dan pengobatan terhadap penyakit ikan.

2. IKAN, PATOGEN DAN LINGKUNGAN
Ikan dalam kehidupannya tidak dapat dipisahkan dari lingkungan, yang dalam hal ini air. Didalam lingkungan itu sendiri baik air maupun lingkungan perkolaman banyak terdapat berbagai jenis patogen. Dalam keadaan normal/seimbang walau dalam lingkungan tersebut banyak terdapat patogen, maka patogen tidak akan dapat menyebabkan ikan menjadi sakit.

Apabila keseimbangan pada salah satu factor tersebut terganggu oleh sesuatu sebab maka akan terjadi perubahan keseimbangan. Hal tersebut akan dapat memacu timbulnya penyakit ikan.

Jadi dalam hal ini penting sekali untuk dapat menjaga keseimbangan antara faktor ikan sebagai inang, lingkungan dan jasad penyebab penyakit.

3. STRESS DAN PENYAKIT.
Stress adalah merupakan salah satu faktor penting dalam kesehatan ikan. Faktor-faktor yang menyebabkan efek negatif bagi ikan seperti penanganan yang kasar, kepadatan yang terlalu tinggi dan lingkungan yang tidak mendukung merupakan stressor yang sangat berpengaruh pada kesehatan ikan. Respon terhadap stressor yang paling mendasar adalah daya untuk menghindar dari suatu ancaman. Respon yang lainnya seperti bertambahnya produksi hormon adrenalin yang merupakan produk dari respon terhadap gangguan yang mendadak. Hal ini akan mengganggu proses osmoregulasi. Hormon yang lain adalah cortisol yang dapat mempengaruhi sel darah putih dan mengurangi efektifitas dari sistem kekebalan (Andrews et al. 1988). Dalam keadaan demikian ikan akan mudah terserang oleh penyakit (Snieszko, 1973 ; Sarig, 1971).
Ikan mungkin saja dapat menyesuaikan terhadap stressor terutama yang kronik, namun demikian proses tersebut berjalan sangat lambat. Efek dari perubahan masih dapat terlihat pada proses reproduksi dan imunitas terhadap penyakit yaitu tidak sama tingkatannya apabila dibandingkan dengan sebelum terekspose oleh stressor. Proses adaptasi itu sendiri akan memakan waktu sekitar 4 sampai 6 minggu (Andrews et al. 1988).

4. PAKAN DAN KESEHATAN IKAN

Pemberian pakan yang tepat mutu dan tepat jumlah akan membantu dalam mencegah timbulnya penyakit ikan. Demikian juga waktu pemberian pakan harus disesuaikan dengan jenis ikan yang kita perlukan. Pemberian pakan yang kurang tepat baik jumlah maupun mutu dapat menyebabkan penyakit pada ikan yang sering disebut dengan istilah “penyakit nutrisional”. Kebanyakan akibat penyakit nutrisional ini bersifat kronik dan biasanya perubahan yang terjadi berlangsung sangat lambat dalam jangka waktu yang lama (Post, 1983).

Diagnosa untuk penyakit tersebut memerlukan pengamatan yang sangat intensif baik terhadap gejala luar maupun dalam. Pengamatan terhadap kimia darah dan cairan tubuh lainnya, pengamatan histologi serta histokimia akan sangat membantu dalam mendiagnosa penyakit nutrisional.

Jenis-jenis penyakit bisa berupa kekurangan protein/asam amino, kekurangan asam lemak essensial kekurangan vitamin dan kekurangan mineral.

5. PENYAKIT GENETIK.

Kelainan-kelainan yang terdapat pada ikan akibat penyimpangan genetik Pertumbuhan yang lamban serta variatif akibat terjadinya perkawinan yang inbreed. Kelainan dari yang sering dapat diamati adalah antara lain yaitu adanya kelainan pada tutup insang hilangnya salah satu sirip, letak hati yang abnormal, bentuk sirip yang abnormal dan lain-lain.

6. PENYAKIT INFEKSI

Penyakit ini disebabkan oleh jasad penyebab penyakit. Jasad penyebab penyakit itu sendiri dapat berupa jasad parasistik, jamur, bakteri dan virus.

6.1. Parasistik.
Jasad parasistik dapat berupa protozoa Crustacea dan Helminth. Kalau dilihat sifat dan letak infeksinya maka dapat digolongkan pada ekto dan endo parasit.
Parasit dari golongan protozoa, sporozoa yang sangat terkenal antara lain Myxobalus sp, Myxosoma sp. Sedangkan dari kelas Ciliata adalah Ichthyophthirius multifiliis, Trichodium sp, Epistylis sp dan Trichophrya sp.
Parasit cacing yang terkenal adalah dari golongan monogenic trematods antara lain Dactylogyrus sp, Gyrodactylus sp, Benedenia sp dan Neo-Benedenia sp. Sedangkan parasit dari golongan Crustacea yang terkenal adalah Lernaea sp, dan Branchiura yang patogen adalah Argulus sp.

6.2 Jamur
Penyakit akibat infeksi jamur disebut dengan Mycosis. Jamur yang biasa menginfeksi ikan antara lain Saprolegnia sp, Achlya sp, serta jamur yang tergolong dalam Aphanomyces. Indikasi infeksi jamur sangat mudah di kenal karena menunjukan gejala seperti serabut kapas.
Jenis jamur yang bersifat sistemik adalah Ichthyophonus sp. jamur tersebut dapat tumbuh pada saluran darah terutama pada insang dan bagian induk ikan.

6.3. Bakteri
Beberapa bakteridapat menginfeksi ikan baik ikan air tawar maupun ikan laut. Kebanyakan bakteri yang menginfeksi ikan tergolong dalam bakteri gram negatif walau beberapa bakteri gram positif juga ada yang dapat menginfeksi ikan. Bakteri tersebut antara lain: Aeromonas hydrophila bakteri ini pada umumnya menginfeksi ikan-ikan air tawar. Di Indonesia penyakit akibat infeksi bakteri tersebut dikenal dengan penyakit bercak merah. Bakteri Flexibacter columnaris biasanya menyebabkan penyakit rontok sirip (fin rot) dan rontaok insang (gill rot). Bakteri dari genus Vibrio (V. alginolyticus, V. parahaemolyticus, V. harveyi, V. anguilarum, V. ichthyoenteri dll) pada umumnya menginfeksi ikan-ikan air laut dan payau. Bakteri gram positif yang sering menginfeksi ikan antara lain adalah: Mycobacterium spp. (merupakan bakteri penyebab tuberculosis pada ikan) dan Streptococcus inae yang dapat menginfeksi baik ikan air tawar maupun ikan air laut.

6.4. Virus
Beberapa virus telah terkenal banyak menginfeksi ikan dan udang. Viral nervous necrosis (VNN) dan iridovirus telah banyak merugikan terutama pada budidaya ikan kerapu. Infectious Pancreatic Necrosis (IPN) telah merugikan budidaya ikan salmon. Sedangkan SMBV dan SEMBV telah menjadi masalah bagi budidaya udang windu.

7. DIAGNOSA PENYAKIT.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengenali adanya ketidaknormalan pada ikan-ikan serta mengidentifikasi agen penyebabnya. Oleh karena itu, pengetahuan dan kemampuan untuk membedakan antara kondisi ikan yang sehat dengan yang sakit, mutlak harus dimiliki oleh petugas kesehatan ikan. Kegiatan pemantauan yang dilakukan secara periodic terhadap kondisi kesehatan ikan termasuk tingkah laku dan kondisi fisik ikan sangat diperlukan. Pengamatan dilapangan meliputi ada tidaknya ikan yang mati, ada tidaknya ikan yang memisahkan diri dari kelompok, ada tidaknya ketidak normalan pada tubuh ikan, merupakan bahan yang penting bagi diagnosa penyakit.

Untuk dapat memastikan penyakit dengan tepat dan cepat diperlukan suatu alat/metode diagnosa yang tepat dan cepat. Ketepatan mendiagnosa suatu penyakit akan menghasilkan suatu cara penanggulangan yang tepat. Oleh karena itu sudah saatnya kita untuk menggunakan metode diagnosa cepat (Rapid diagnostic methode). Immunodiagnotic sekarang sudah banyak dikembangkan di mulai dari Direct agglutination test, fluorescens antibody test (FAT), Immuno-histochemistry sampai ke penggunaan PCR

8. PENANGGULANGAN PENYAKIT

Penanggulangan penyakit ikan dapat dibagi menjadi tindakan pencegahan (prevention) dan tindakan pengobatan (therapy)

8.1 Pencegahan Penyakit
Pada dasarnya pencegahan terhadap penyakit ditujukan kepada hal-hal yang dapat menyebabkan tekanan (stress) pada ikan. Tindakan tersebut dapat berupa penerapan manajemen budidaya yang sempurna, penanganan ikan yang tidak kasar, penerapan manajemen pakan serta manajemen qualitas air yang baik. Pemilihan jenis ikan yang tahan terhadap penyakit merupakan salah satu pencegahan yang cukup efektif. Tindakan pencegahan lain yang sekarang banyak diterapkan adalah dengan cara menstimulasi kekebalan tubuh. Kekebalan tersebut bisa spesifik maupun yang non specifik (cellular). Kekebalan specifik dapat di stimulasi dengan memberikan vaksin, sedangkan kekebalan non spesifik dapat dipacu dengan memberikan imunostimulan. Penelitian tentang vaksin di Indonesia telah dimulai tahun 1983 dan telah menunjukan hasil yang menyakinkan (Supriyadi dan Taupik, 1983 ; Supriyadi, 1998). Adapun metode pemberian baik vaksin maupun immostimulan dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :
a. Cara perendaman (immersion)
b. Melalui pakan (oral)
c. Melalui suntikan (injektion)
Dari ketiga cara tersebut yang paling efektif adalah dengan cara injeksi namun dari segi praktis dan efesiensi cara perendaman yang paling tepat. Kelemahan pemberian vaksin dengan melalui pakan adalah bahwa kecepatan makan tiap-tiap ikan tidak akan sama. Selain itu beberapa enzim pencernaan akan merusakkan antigen.
Tahapan pemberian vaksin dapat berupa vaksin awal (priming) dan vaksinasi ulang (Booster). Keutamaan pemakaian vaksin adalah bahwa kekebalan dapat dipertahankan selama masa pemeliharaan ikan. Masalah yang dihadapi dalam kekebalan ikan adalan bahwa immunoglobulin (Ig) yang terdapat pada ikan pada umumnya tidak mempunyai IgG yang sangat berperan dalam pembentukan antibody. Immunoglobulin yang ada pada ikan hanya yang menyerupai IgM (IgM like) sehingga pembentukan antibody pada ikan tidak seoptimal pembentukan antibody binatang kelas tinggi (Post, 1983)

8.2 Pengobatan (Therapy)

Obat (Therapeutic agent) dalam arti luas adalah bahan atau cara yang dapat memacu mengurangi sakit, mengembalikan kesehatan atau yang dapat memperpanjang umur/kehidupan ikan.
Beberapa bahan kimia dan antibiotika telah lama dipakai dalam pengobatan penyakit ikan (Meyer, 1964; Taupik dan Supriyadi, 1986; Supriyadi dan Rukyani, 1990)). Namun penggunaan obat itu sendiri selain tidak dapat memecahkan masalah dengan tuntas juga secara ekonomi sangat mahal. Selain itu penggunaan obat yang terus menerus terutama antibiotika, akan memepercepat terbentuknya organisme yang tahan terhadap antibiotika itu sendiri. Pada dasarnya cara pengobatan pada ikan dapat dibedakan menjadi beberapa cara yaitu:
• Perendaman
• Oral
• Infeksi
• Oles
Cara perendaman bisa dibedakan menjadi perendaman jangka waktu singkat dan jangka waktu lama. Perendaman dengan waktu singkat biasanya konsentrasinya lebih tinggi apabila dibandingkan dengan perendaman jangka waktu lama. Pemberian obat melalui pakan biasanya dilakukan dengan mencampur obat pada pakan, diberikan tiap hari selama periode waktu tertentu. Pemberian obat melalui injeksi dapat dibedakan menjadi intraperitoneal (melaui rongga perut) dan intramuscular (melalui otot daging)
DAFTAR PUSTAKA.

Andrews, C., A. Exell and N. Carrington. 1988. The Intervet Manual of Fish Health.
Salamander Books Ltd. London.

Meyer, F.P. 1964. Field treatment of Aeromonas liquefaciens infections in golden shiners. Prog. Fish-Cult. 26(1): 33-35.

Post, G. 1983. Textbook of Fish Health.TFH Publication, Inc. Ltd.

Sarig, S. 1971. Diseases of Warmwater Fishes. TFH Publ., Neptune City, New Jersey.

Snieszko, S.F. 1973. The effect of environmental stress on outbreak of infection diseases of fishes. J. Fish. Biol. (6) : 197 208.

Supriyadi, H. dan P. Taufik. 1983. Penelitian pendahuluan immunisasi ikan dengan cara vaksinasi. Bull. Pen. PD .4 (1): 34 36.

Supriyadi, H. 1986. The susceptibility of various fish species to infection by the bacterium Aeromonas hydrophila. p. 241-242. In J.L. Maclean, L.B.Dizon and L.V. Hosillos (eds) The First Asian Fisheries Forum . Asian Fisheries Society. Manila. Philippines.

Supriyadi, H and A. Rukyani. 1990. The use of antibiotics and drugs for treatment of bacterial disease on fish and shrimp in Indonesia. In. Disease in Asian Aquaculture I. M. Shariff, R.P. Subashinghe and J.R. Arthur (eds), p. 515-517. Fish Health Section, Asian Fisheries Society, Manila, Philippines.

Supriyadi, H and M. Shariff. 1995. Evaluation of the immune response and protection confered in walking catfish, Clarias batrachus, administered inactivated Aeromonas hydrophila bacterin by immersion. In Diseases in Asian Aquaculture II. M. Shariff, J.R. Arthur and Subasinghe (eds) p. 405-412. Fish Health Section, Asian Fisheries Society, Manila. Philippines.

Reaksi: 

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
SINGKIL, NAD, Indonesia
SAYA ORANGNNYA SIMPLE DAN SELALU TERTARIK DENGAN HAL - HAL YANG BERBAU TEKNOLOGI DAN ILMU PENGTAHUAN. DAN SAYA TIDAK SUKA DENGAN KEKERASAN SERTA KEKEJAMAN. YANG PENTING MENURUT SAYA DAMAI ITU INDAH....