PEMUPUKAN KELAPA SAWIT

Selasa, 01 September 2009

Diposkan oleh MANDALA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Udang Putih Amerika (Litopenaeus vannamei) atau lebih dikenal dengan sebutan Penaeus vannamei merupakan jenis udang alternative yang dapat dibudidayakan di Indonesia selain Udang windu. Udang Vannamei pada umumnya masuk ke Indonesia dari negera yang menghasilkan udang hasil seleksi yaitu Hawaii, Venejuela, Arizona dan lain – lain. Udang tersebut tergolong unggul karena merupakan hasil seleksi pertumbuhan dan hasil isolasi bertahun – tahun agar tahan terhadap berbagai jenis virus: MBV (Monodon Baculo Virus), SEMBV (Systemic Ektodermal Mesodermal Baculo Virus) dan lain – lain. Udang vannamei memiliki keunggulan pertumbuhan yang baik pada salinitas 35 ppt sehingga serendah 5 ppt dan juga mampu beradaptasi terhadap kepadatan tinggi serta tumbu baik dengan pakan berprotein rendah (Anonim 2001). keunggulan lain dari Udang Vannamei adalah pertumbuhannya lebih cepat, tahan terhadap perubahan lingkunganm waktu pemeliharaan pendek, sintasan tinggi serta hemat pakan (Anonim 2001).

B. Tujuan

Sebagai salah satu jenis udang yang baru diintroduksi di Indonesia maka perlu dilakukan pengkajian dan penelitian lebih lanjut terutama yang menyangkut kondisi lingkungan yang sesuai untuk peretumbuhan dan sintasan udang vannamei demi tercapai produksi yang tinggi. Produksi yang tinggi tersebut selain dipengaruhi oleh padat penebaran, juga ssangat dipengaruhi oleh tipe dasar tambak sehingga perlu adanya pengkajian dan penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut. Mengingat sifat udang mulai dari stadia pasca larva yang hidup sebagai organisme dasar dan sering membenamkan diri di dasar perairan, maka pengolahan dan jenis dasar tambak merupakan salah satu aspek yang penting.

Menurut Poernomo (1979) bahwa pemeliharaan udang memerlukan tekstur tanah liat berpasir karena tanah tersebut baik untuk material pematang, media pertumbuhan makanan alami dan tempat udang membenamkan dirinya. Selanjutnya ditambahkan Potter (1976) bahwa tanah dasar tambak merupakan salah satu faktor lingkungan yang dapat menentukan keberhasilan pemeliharaan di tambak karena selain dapat menyediakan dan melepaskan unsur hara juga merupakan tempat terjadinya meniralisasi bahan organik serta ikut menentukan kualitas air.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Bratvold dan Browdy di Bluffton USA pada tahun 2002 tentang pengaruh sedimen terhadap produksi dan kualitas air pada udang Vannamei yang dipelihara secara intensif menunjukkan bahwa udang yang dipelihara dengan menggunakan substrat dasar memperlihatkan bobot udang, daya tahan hidup dan produksi yang lebih baik dibandingkan Udang Vannamei yang dipelihara dalam bak tanpa sedimen. Bertitik tolak dari informasi tersebut maka dilakukan penelitian mengenai substrat dasar berbeda untuk mengetahui substrat yang sesuai bagi pertumbuhan dan sintasan udang Vannamei dengan menggunakan 3 jenis substrat untuk mewakili masing – masing kelas tekstur secara umum yakni tanah berpasir, tanah liat dan tanah lempung.


BAB II

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Basah Instalasi Riset Perikanan Budidaya Air Payau Moras. Wadah yang digunakan adalah aquarium ukuran 40 x 30 x 30 cm sebanyak 9 buah. Tiap wadah dilengkapi dengan aerasi serta dilapisi dengan plastik berwarna hitam pada bagian luar untuk menghindari pengaruh cahaya dari luar. Sebagai hewan uji adalah tokolan udang Vannamei dengan berat rata – rata 0,205 g yang ditebar dengan kepadatan 24 ekor/aquarium. Pakan yang diberikan adalah pakan komersial dalam bentuk crumble dengan nilai nutrisi Protein 42%, Karbohidrat 30%, Lemak 5%, Serat Kasar 3% dan Kadar Air 11% Dosis Pakan adalah 10-15% dari total Biomass dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari.

Penelitian ini menggunakan rancang acak lengkap, perlakukan yang dicobakan adalah pemeliharaan tokolan udang Vannamei pada substrat Pasir Pantai, Substrat Tanah Sawah dan Substrat Tanah Tambak, masing – masing diulang tiga kali. Pengamatan kualitas air dan tanah meliputi Salinitas, Suhu, Air, Oksigen Terlarut, pH, Karbondioksida, Turbidity, Amonia dan bahan organik tanah. Pengukuran panjang dan berat hewan uji dilakukan setiap 10 hari menggunakan mistar dan timbangan elektrik dengan ketelitian 0,01 g. pada akhir penelitian dilakukan perhitungan pertumbuhan dan sintasan. Laju pertumbuhan spesifik dihitung berdasrakan Jauncy dan Roes (1982) dalam Yacob dan Palinggi (1987) serta sintasan menurut Effendie (1979). Data laju pertumbuhan dan sintasan hewan uji dianalisis ragam untuk mengetahuai pengaruh perlakuan.


BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil pengamatan pertumbuhan dan sintasan udang Vannamei dapat dilihat pada table 1.

Table 1. Rata – rata pertumbuhan dan sintasan udang Vannamei selama 40 hari.

Peubah

satuan

A (substrat pasir pamtai)

B (substrat tanah sawah)

C (substrat tanah Tambak)

Lama pemeliharaaan

Kepadatan

Berat awal

Berat akhir

Laju pertumbuhan spesifik

sintasan

Hari

Ekor

g

g

%

%

40

24

0,203

1,381

4,756

100 ª

40

24

0,204

0,946

3,840

100a

40

24

0,207

1,753

5,348

100a

Angka pada baris yang sama diikuti huruf yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0,05)


Berdasarkjan table diatas, rata – rata laju pertumbuhan spesifik udang Vannamei tertinggi pada perlakukan tanah tambak, disusun perlakuan pasir dan perlakuan tanah sawah berdasarkan hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap laju pertumbuhan udang Vannamei. Selanjutnya hasil uji beda nyata terkecil menunjukkan adanmya perbedaan yang sangat nyata untuk semua perlakuan.

Tingginya laju pertumbuhan udang Vannamei pada perlakuan tanah tambak diduga karena selain dapat memanfaatkan pakan buatan yang diberikan, udang Vannamei juga dapat memanfaatkan klekap yang cukup tersedia. Pada perlakuan tanah sawah pertumbuhan klekap lebih pesat sehingga menyebabkan terjadinyta fluktuasi oksigen telarut dalam wadah antara siang dan malam hari, selin itu tingkat kekeruhan pada perlakuan ini lebih tinggi dibandingkan perlakukan lainnya sehingga dapat menghambat proses respirasi. Menurut Alaerts dan Santika (1984) pada air keruh yang disebabkan oleh kepadatan liat tersuspensi dapat menghambat proses respirasi pada lamella insang hewan – hewan air. Oksigen tersebut dibutuhkan sel untuk bebagai reaksi metabolisme sehingga laju partumbuhan dan kelangsungan hidup sangat ditentukan oleh kemampuan udang dalam memperoleh oksigen yang cukup dari lingkungannya. Selain itu juga dipengaruhi oleh kekeruhan yang sangat tinggi akibat adanya suspensi liat berasal dari substrat akibat gerakan udang kekeruhan yang tinggi dapat mengganggu pernapasan sehingga dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan udang.

Pada perlakuan pasir, pertumbuhan klekap lebih sedikit dan airnya terlihat lebih jernih, namun pertumbuhan Udang vannamei masih lebih baik dibandingkan dengan perlakuan tanah sawah rendahnya pertumbuhan udang Vannamei pada perlakuan pasir diduga disebabkan oleh tingginya tingkat kecerahan pada perlakuan ini. Menurut Suyanto dan Mujiman (2002), udang termasuk binatang yang aktif makan bila situasi redup dan gelap. Namun bila terlalu cerah maka udang akan banyak diam dan tidak suka makan sehingga pertumbuhannya lambat.

Sintasan udang Vannamei pada masing – masing perlakuan adalah 100% berdasarkan analisis ragam menunjukkan bahwa perbedaan substrat tidak meberikan pengaruh yang nyata terhadap sintasan udang Vannamei. Hal itu membuktikan bahwa udang Vannamei pada dasarnya memiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi, selain itu juga karena sintasan yang dicapai di suatu populasi merupakan gambaran hasil iunteraksi dengan daya dukung Lingkungan dan respon populasi terhadap lingkungan tersebut. Menurut Anonim (2002), udang Vannamei meiliki tingkat kelangsungan hidup yang tinggi yakni bisa mencapai 80% dengan waktu pemeliharaan yang pendek yakni 90 – 100 hari/siklus.

Tingginya sintasan udang Vannamei pada ke tiga perlakuan diduga karena udang lebih banyak hidup pada kolom air sehingga dapat mengurangi efek buruk dari gas – gas beracun seperti amonia yang terakumulasi di dasar. Selain itu, pada saat moulting udang ini juga dapat membenamkan diri ke dalam substrat untuk menghindari pemangsaan. Selama penelitian terlihat baghwa udang ini setiap saat bias menjadi kanibal atau saling memangsa satu sama lain terutama sehabis moulting. Hal ini didukung oleh peryataan Suyanto dan Mujiman (2002) bahwa sifat yang umum pada udang adalah sifat kanibalisme yakni suatu sifat yang selalu memangsa jenisnya sendiri. Sifat ini sering timbul pada udang yang sehat dan tidak sedang ganti kulit. Sasarannya adalah udang – udang yang sedang ganti kulit, sehingga udang yang sedang ganti kulit biasanya mencari tempat untuk bersembunyi.

Hasil pengukuran kualitas air (Table 2) menunjukkan bahwa secara umum kualitas air masih berada dalam kisaran yang layak bagi pertumbuhan Udang Vannamei kecuali NH3 yang tinggi yakni mencapai 0,7642 – 3,7539 ppm. Soetomo (2000) menyatakan bahwa air yang mengandung Amonia 1,0 ppm sudah dianggap tercemar namun menurut Anonim (2002) udang vannamei diketahui lebih memiliki daya tahan untuk dibudidayakan di kawasan yang tingkat kerusakan lingkungannya parah dan tercemar berat seperti di kawasan pesisir pulau Jawa yang memiliki tingkat kerusakan lingkungan yang parah.


Table 2. Kisaran nilai parameter kualitas air dan tanah pada setiap perlakuan

Peubah

Satuan

A (substrat pasir pantai)

B (substrat tanah sawah)

C (substrat tanah Tambak)

Salinitas

Suhu

Oksigen terlarut

pH

CO2

Turbidity

NH3

Bahan organik tanah

Ppt

°C

Ppm

Ppm

NTU

Ppm

%

32-38

26-29

2,2-6,0

7,0-8,3

0,7-1,0

4,29-7,99

0,7642-3,1397

6,092-7,908

33-38

26-30

1,3-6,0

6,8-8,3

0,8-1,1

20,49-29,92

2,031-3,7539

11,696-18,848

33-38

26-29

2,0-6,0

7,0-8,3

0,8-1,0

12,05-23,18

0,8426-3,3837

10,112-14,814

Berdasarkan dari hasil analisa bahan organik tanah (tabel 2) maka dapat diketahui pertumbuhan klekap. Pada table 2 terlihat bahwa perlakuan tanah sawah dan tanah tambak memiliki kandungan bahan organik yang tinggi sehingga pertumbuhan klekap juga tinggi, sebaliknya pada perlakuan pasir memiliki kandungan bahan organik yang rendah sehingga klekap yang tumbuh juga sangat sedikit. Hal ini sejalan dengan pendapat Davide (1976) bahwa tanah dengan kandungan bahan organik lebih besar dari 16% memiliki pertumbuhan klekap yang sangat lebat dan kandungan bahan organik 9 – 15% masih tergolong lebat. Sedangkan kandungan bahan organik 7 – 8 % klekapnya sedikit bahkan tergolong sangat sedikit. Dengan demikian terdapat hubungan nyata antara kandungan bahan organik dengan produksi klekap, dimana semakin tinggi kandungan bahan organik tanah maka pertumbuhan klekap juga akan semakin pesat. Akan tetapi dapat membahayakan populasi udang yang dipelihara karena terjadi persaingan oksigen dalam air. Selanjutnya dikatakan bahwa dalam penguraian bahan organik yang berlebihan dapat mengakibatkan habisnya oksigen dalam perairan dan mengeluarkan gas – gas beracun seperti CO2, NH3, H2S yang sangat membahayakan kehidupan udang.


BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

Pertumbuhan Udang Vannamei pada substrat pasir pantai, substrat tanah sawah dan substrat tanah tambak berbeda sangat nyata (P<0,01). Laju pertumbuhan tertinggi diperoleh pada perlakuan substrat tanah tambak yaitu sebesar 5,348%. Sintasan pada semua perlakuan mencapai 100%. Diperlukan kajian mengenai jenis pakan alami yang tumbuh pada masing – masing substrat.


DAFTAR PUSTAKA

Anonym. 2001. Pembenihan Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei). Warintek menteri riset dan teknologi. Jakarta.

Anonym. 2002. Usaha pertambakan Udang Vannamei Prospektif. Harian bisnis Indonesia. Agustus 2008. Jakarta

Alaers, G dan S.S. Santika 1984. metode penelitian air. Usaha nasional. Surabaya

Dadive.J.G. 1976. Fish Pond Soils and Fertilizers. Reading on Pond Construction and management. SEASDEC Aquakulture Departemen. Lioilo. 5 pp.

Effendie. M. I. 1979. Biologi Perikanan. Bag II. Dinamika populasi ikan. Fakultas ilmu Kelautan dan Perfikanan IPB. Bogor.

Poernomo. A. 1979. budidaya Udang di Tambak. Proytek penelitian potensi sumberdaya Ekonomi. LIPI. Jakarta.

Potter, T. 1976. the problem to fish culture associated with acid. Sulfate soils and methods for their improvement. 12 th Ann. Nat. conf of the Philip.

Soetomo, M. 2000. Teknik budidaya Udang windu. Sinar baru. Algensindo. Bandung.

Suyanto, S. R dan Mujiman, A. 2002. budidaya Udang Windu. Penebar swadaya. Jakarta.

Yakob, M. J. R. dan Palinggi. 1987. Pengaruh pemberian pakan dari berbagai sumberProtein tedrhadap Laju peretumbuhan dan kelulusan Hidup Udang Windu. Jurnal penelitian budidaya Pantai. Balitkanta. Maros.

Reaksi: 

0 komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
SINGKIL, NAD, Indonesia
SAYA ORANGNNYA SIMPLE DAN SELALU TERTARIK DENGAN HAL - HAL YANG BERBAU TEKNOLOGI DAN ILMU PENGTAHUAN. DAN SAYA TIDAK SUKA DENGAN KEKERASAN SERTA KEKEJAMAN. YANG PENTING MENURUT SAYA DAMAI ITU INDAH....