PEMUPUKAN KELAPA SAWIT

Selasa, 19 Januari 2010

Diposkan oleh MANDALA

I. PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Baru-baru ini telah dilaporkan bahwa stok ikan laut dunia telah menurun dengan cepat (Sargent dan Tacon, 1999). Penurunan stok ikan laut ini diperkirakan sebagai akibat dari kegagalan pengelolaan perikanan laut dalam beberapa dekade terakhir di hampir seluruh belahan dunia. Dan hal ini menyebabkan penangkapan ikan di laut tidak akan bertahan lebih lama lagi dan mungkin tidak ada lagi yang tersisa untuk bisa dikelola (Pauly et al., 2002). Kondisi perikanan Indonesia tidak jauh berbeda dengan kondisi perikanan dunia secara umum. Sistem penentuan stok sumberdaya ikan yang kurang akurat (Wiyono, 2005) dan lemahnya penegakan hukum di laut, telah menyebabkan kegiatan penangkapan ikan di Indonesia mencapai overfishing di berbagai wilayah perair-an. Beratnya beban laut Indonesia untuk menyediakan stok ikan semakin diperparah dengan tingginya kejadian illegal fishing. Pengunaan alat dan bahan penangkapan yang dapat merusak kelestarian alam sering kali kita temui, seperti pengunaan pukat harimau, pengeboman trumbu karang, dan kegiatan meracuni ikan.
Penangkapan yang secara prinsip adalah pengejaran ikan di laut, merupakan penyebab langsung atau tidak langsung perubahan-perubahan yang telah terjadi di laut, mulai dari hilangnya mamalia laut ukuran besar hingga kerusakan habitat. Penangkapan yang tiada henti-hentinya dan peningkatan kemampuan tangkap, telah mengurangi populasi ikan dunia dengan cepat. Penangkapan spesies laut ukuran besar, seperti ikan pedang (swordfish) dan tuna, telah menurunkan 80% populasi selama 20 tahun terakhir (Myers dan Worm, 2003). Bila sejarah dijadikan sebagai sebuah petunjuk, meskipun sistem manajemen penangkapan berbasis ekosistem atau dengan istilah ecosystem-based fishery management, (Pikitch, 2004) diterapkan sekalipun, maka kemampuan laut untuk menyuplai ikan yang dapat kita tangkap akan segera mencapai batas minimumnya.
Memburuknya perikanan tangkap dunia dan kerusakan habitat laut membantu menjelaskan mengapa domestikasi laut merupakan kegiatan yang tidak dapat dielakkan. Tetapi, kita perlu berhati-hati mempertimbangkan bagaimana domestikasi ini dilakukan untuk menghindari lubang-lubang perangkap yang bisa merusak lingkungan (Pauly et al., 2002; Naylor et al., 2000).
Ambruknya perikanan laut diduga akan terjadi bersamaan dengan meningkatnya permintaan pangan dunia, khususnya protein hewani. Sehingga produksi pangan dunia harus dilipat-gandakan 50 tahun ke depan untuk mengimbangi pertumbuhan penduduk dunia (Tilman et al., 2002).
Untuk mengatasi kesenjangan kebutuhan dan produksi protein hewani, maka kegiatan akuakultur perlu lebih ditingkatkan. Amerika Serikat misalnya, dalam 20 tahun terakhir telah meningkatkan sekitar 10% per tahun produksi budidayanya, yang meliputi budidaya ikan laut dan kerang-kerangan di pinggir pantai. Sejauh ini, di Indonesia sebagian besar perluasan akuakultur dilakukan pada ikan air tawar, seperti nila, ikan mas dan ikan lele-lelean di kolam atau keramba jaring apung. Sedangkan pada budidaya laut adalah masih didominasi oleh udang windu. Jenis organisme budidaya laut yang dikembangkan juga baru-baru ini adalah udang jenis vannamei dan ikan kerapu.
Pembenihan merupakan salah satu unit produksi dalam kegiatan akuakultur. Kualitas dan kuantitas benih merupakan factor yang sangat menentukan sukses atau tidaknya suatu kegiatan akuakultur selanjutnya, khususnya pembesaran. Semakin tinggi kualitas serta kuantitas benih yang digunakan maka semakin tinggi pula kualitas dan kuantitas hasil pembesaran yang dihasilkan.
Pemijahan merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan pada kegiatan pembenihan untuk menghasilkan benih ikan. Pemijahan ikan dilakukan untuk melakukan fertilisasi sel telur yang dihasilkan induk betina oleh sperma yang dihasilkan induk jantan. kegagalan proses fertilisasi dapat menyebabkan kegiatan pembenihan ikan terhambat karena telur-telur yang tidak terbuahi tidak dapat berkembang menjadi larva atau benih. Telur-telur yang tidak terbuahi akan mati dan membusuk. Mengingat pentingnya proses fertilisasi ini maka pengamatan proses fertilisasi perlu dilakukan untuk mendapatkan produk pembenihan yang optimal.

1.2 Tujuan
Melaksanakan program D4 yaitu, 60 % praktek dan 40 % teori.
Meningkatkan kompetensi mahasiswa tentang prosess terjadinya fertilisasi sel telur oleh sperma.
Membandingkan antara teori yang telah diperoleh dengan praktikum di lapangan.


II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Mengenal Ikan Mas (Cyprinus Carpio)
2.1.1 Klasifikasi
Dalam ilmu taksonomi hewan, klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut :
Phylum : Chordata
Sub. Phylum : Vertebrata
Super Class : Pisces
Class : Ostechtyes
Sub Class : Actinopterygii
Ordo : Cypriniformes
Sub Ordo : Cyprinidae
Marga : Cyprinus
Spesies : Cyprinus Carpio

2.1.2 Morfologi Ikan Mas
Tubuh ikan mas agak memanjang dan memipih tegak. Mulut terletak diujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan (proktaktil), bagian anterior mulut terdapat dua pasang sungut. Secara umum, hampir seluruh tubuh ikan mas ditutupi oleh sisik. Hanya sebagian kecil saja.ubuhnya yang tidak tertutup oleh sisik. Sisik ikan mas berukuran relatif besar dan digolongkan dalam sisik tipe sikloid. Selain itu, tubuh ikan mas juga dilengkapi dengan sirip.

2.2 Sperma
Spermatozoa atau sperma adalah gamet jantan yang dihasilkan oleh testis. Sperma dari beberapa spesies ikan famili Cyprinidae berwarna kekuning-kuningan menyerupai susu. Cairan sperma adalah larutan spermatozoa yang berada dalam cairan seminal dan dihasilkan oleh hidrasi testis (Hoar, 1969). Campuran antara seminal plasma dengan spermatozoa disebut semen. Dalam setiap testis semen terdapat jutaan spermatozoa.
Menurut Toeliher (1981), sperma merupakan suatu sel kecil, kompak dan sangat khas, yang tidak tumbuh dan membagi diri. Pada dasarnya, sperma terdiri dari kepala yang membawa materi keturunan paternal dan ekor yang berperan sebagai alat penggerak. Sperma tidak memegang peranan apapun dalam fisiologi hewan yang menghasilkannya dan hanya melibatkan diri dalam pembuahan untuk membentuk individu baru.
2.2.1 Morfologi Sperma
Bentuk sperma secara garis besar struktur spermatozoa ikan yang sudah matang terdiri kepala, leher dan ekor flagella. Inti spermatozoa terdapat pada bagian kepala (Lagler,1972). Ada juga sperma yang mempunyai middle piece sebagai penghubung atau antara leher dan ekor. Middle piece ini mengandung mitokondria yang berfungsi dalam metabolisme sperma.
Kepala spermatozoa secara umum berbentuk bulat atau oval; spermatozoa berbentuk sabit ditemukan pada sidat. Bagian tengah mengikuti pola ultrastruktur umum, terdiri dari sebuah flagel tengah dan selubung mitokondria. Pada kebanyakan spermatozoa teleoitei, mitokondria ada sedikit termodifikasi dan terletak di dalam sebuah low collar (lengkung bawah) agak jauh dibelakang nukleus bulat Morfologi sperma ikan yang terlihat pada mikroskop 1000 kali, sebagian besar hanya bagian kepala yang berisi inti (nukleus), ekor dan leher yang nampak agak menebal antara kepala dan leher. Pada ikan mas, nilem, tawes dan barber kepala sperma berbentuk oval sedikit memanjang dimana perbandingan panjang kepala sedikit lebih besar daripada leher kepala. (Dr. Ir. Ridwan Affandi dan Dr. Ir. Usman M. Tang.2002.)
2.2.2 Ukuran Sperma
Spermatozoa pada ikan teleostei mempunyai struktur yang sederhana dan ukuran yang hampir sama. Umumnya ukuran panjang kepala sperma antara 2-3 im dan panjang total dari spermatozoanya antara 400-600 im.
Lebar kepala sperma ikan mas lebih besar dibandingkan ikan nilem, tawes dan barber, sehingga jika sperma ikan mas digunakan untuk membuahi telur ikan nilem, tawes dan barber maka diperoleh jumlah larva yang relatif rendah karena kepala spermanya tidak mampu membuahi telur. Sebaliknya sperma ikan nilem, tawes dan barber dapat membuahi telur ikan mas yang berukuran diameter mikrofil telurnya lebih besar.
Dari hasil pengukuran terhadap panjang sperma ekor sperma, beberapa ikan carp oleh Risnawati (1995) masing-masing mempunyai ukuran yang berbeda nyata antara satu dengan lainnya. Ikan mas koki mempunyai ukuran ekor sperma terpanjang, kemudian secara berturut-turut sampai yang terpendek adalah ikan mas, tawes, sumatera, nilem dan barber. Panjang pendeknya ukuran ekor ini dapat menentukan keaktifan sperma dalam bergerak. Semakin panjang ekor sperma maka semakin aktif sperma tersebut bergerak. Toelihere (1981) menyatakan bahwa ekor sperma mengandung semua saran yang perlu untuk motilitas dan ekor yang telah terpisah dari kepala sperma dapat bergerak seperti sediakala.

Tabel. 1 Rata-Rata ukuran lebar kepala dan panjang ekor sperma ikan famili Cyprinidae (Risnawati, 1995)
Nama Ikan Lebar Kepala (im) Panjang Ekor (im)
Mas
Mas Koki
Nilem
Tawes
Sumatra
Barbir 1,832 + O,179
1,859 + 0,187
1,499 + 0,151
1,496 + 0,189
1,907 + 0,154
1,459 + 0,159 33,733 + 2,093
39,793 + 2,154
28,829 + 1,643
31,147 + 2,057
30,187 + 1,639
28,507 + 2,402

2.2.3 Anatomi dan Histologi
Walaupun ukuran dan betuk spermatozoa berbeda pada berbagai jenis ikan/hewan, na mun struktur morfologinya adalah sama. Permukaan sperma di bungkus oleh suatu membran lipoprotein. Aabila sel tersebut mati, permebilitas membrannya meninggi, terutama di daerah pangkal kepala dan hal ini merupakan dasar pewarnaan semen yang membedakan sperma hidup dari yang mati.
2.2.4 Kepala Sperma
Kepala sperma terisi inti, kromosom terdiri DNA yang bersenyawa dengan protein. Informasi genetika yang dibawa oleh spermatozoa diterjemahkan dan disimpan di dalam molekul DNA.
2.2.5 Ekor Sperma
Ekor sperma dapat dibagi atas tiga bagian; bagian tengah; bagian utama dan bagian ujung, dan berasal dari sentriol spermatid selama spermiogenesis. Ekor sperma berfungsi memberi gerak maju kepada spermatozoa dengan gelombang-gelombang yang dimulai di daerah inplantasi ekor sperma dan berjalan ke arah distal sepanjang ekor seperti pukulan cambuk (Toelihere, 1985)
2.2.6 Motilitas dan Daya Tahan Sperma
Sperma tidak bergerak dalam air mani. Ketika masuk ke air akan aktif berenang. Pergerakan sperma normal adalah seperti linear, biasanya pola pergerakannya berbentuk spiral.
Daya tahan hidup spermatozoa dipengaruhi oleh pH, tekanan osmotik, elektrolit, non elektrolit, suhu dan cahaya. Pada umumnya sperma aktif dan tahan hidup lama pada pH sekitar 7,0. motilitas partial dapat dipertahankan pada pH antara 5 dan 10.

Reaksi: 

0 komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
SINGKIL, NAD, Indonesia
SAYA ORANGNNYA SIMPLE DAN SELALU TERTARIK DENGAN HAL - HAL YANG BERBAU TEKNOLOGI DAN ILMU PENGTAHUAN. DAN SAYA TIDAK SUKA DENGAN KEKERASAN SERTA KEKEJAMAN. YANG PENTING MENURUT SAYA DAMAI ITU INDAH....