PEMUPUKAN KELAPA SAWIT

Sabtu, 29 Agustus 2009

Diposkan oleh MANDALA

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Berdasarkan data tahun 1999, luas hutan mangrove di Indonesia diperkirakan mencapai 8,60 juta hektar dan 5,30 juta hektar di antaranya dalam kondisi rusak (Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan perhutanan Sosial 2001). Kerusakan tersebut disebabkan oleh konversi mangrove yang sangat intensif pada tahun 1990-an menjadi pertambakan terutama di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi dalam rangka memacu ekspor komoditas perikanan. Hal tersebut dapat dilihat dari perkembangan luas tambak di Indonesia dari sekitar 225.000 ha pada tahun 1984 (Direktorat Jenderal Perikanan 1985) menjadi 325.000 ha pada akhir Pelita IV (Cholik dan Poernomo 1986). Selanjutnya untuk menunjang keberhasilan “Protekan 003”, pengembangan budi daya tambak hingga tahun 2002/ 2003 ditargetkan mencapai 212.600 ha untuk rogram intensifikasi tambak dan 122.800 ha untuk program ekstensifikasi tambak, dengan target perolehan devisa US$ 6.778 juta (Nurdjana 1999). Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perikanan, pada tahun 1999 luas hutan mangrove yang telah dikonversi menjadi pertambakan mencapai 840.000 ha (Inoue et al. 1999) sehingga hutan mangrove banyak yang mengalami kerusakan (Gunarto dan Hanafi 2000).
Hilangnya mangrove dari ekosistem perairan pantai telah menyebabkan keseimbangan ekologi lingkungan pantai terganggu. Melimpahnya bahan organik yang berasal dari sisa pakan pada usaha budi daya udang intensif di lingkungan perairan pantai juga menyebabkan bakteri oportunistik patogen berubah menjadi betul-betul patogen seperti bakteri Vibrio harveyi. Selain itu, serangan white spot baculo virus (WSBV) juga meningkat dan telah menyebabkan kematian udang windu yang dibudidayakan di tambak (Ahmad dan Mangampa 2000). Inoue et al. (1999) melaporkan bahwa pada tahun 1990, sekitar 15.000 ha tambak udang mengalami gagal panen akibat serangan virus. Serangan virus ini semakin meluas hingga tahun 2000 dan menyebabkan banyak tambak udang gagal panen. Akibatnya produksi udang hasil budi daya terus menurun hingga tahun 2001, yaitu dari 180.000 ton pada tahun 1995 menjadi 80.000 ton pada tahun 2001 (Sugama 2002). Dampak lainnya adalah menurunnya keanekaragaman hayati organisme akuatik (Soeriaatmadja 1997).

1.2 Tujuan
- Mengembalikan fungsi hutan mangrove sebagai lahan prikanan pantai.
- Menjaga keseimbangan ekosistem pantai dan laut
- Meningkatkan pendapatan petani ikan di pesisir pantai


BAB 2. PERMASALAHAN DAN PEMBAHASAN

2.1 Permasalahan
Sontirat (1989) melaporkan bahwa di kanal Klong Wan, Thailand, sebelum terjadi kerusakan mangrove terdapat 4 genus kepiting yaitu Uca sp., Sesarma sp., Metapograpsus sp., dan Scylla serrata serta 72 pesies ikan yang termasuk dalam 6 ordo yaitu Clupeiformes, Cypriniformes, Belonoformes, Mugiliformes, Perciformes, dan Tetrodontiformes. Setelah mangrove hilang, ukuran ikan menjadi lebih kecil dan spesiesnya tinggal 34 spesies yang masuk dalam 5 ordo yaitu Clupeiformes, Cypriniformes, Beloniformes, Mugiliformes, dan Perciformes. Kondisi demikian pada akhirnya dapat menyebabkan produksi perikanan pantai menurun (Boyd 1999).
Dalam era perdagangan bebas, persaingan akan semakin ketat terutama mengenai mutu produk. Selain itu, isu pelestarian sumber daya alam termasuk perikanan dan isu internasional lainnya juga menjadi penentu dalam dunia perdagangan bebas. Di bidang kehutanan dan perikanan juga telah didengungkan eco-labeling yang berkaitan dengan usaha pengelolaan sumber daya alam secara terkendali dan berkesinambungan. Pencegahan eksploitasi alam yang berlebihan tanpa memperhitungkan batas toleransinya perlu dicegah, misalnya penangkapan udang ataupun ikan dengan menggunakan pukat harimau yang dapat menangkap semua jenis dan ukuran ikan. Sebagai contoh, di perairan Pulau Podang-Podang, Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan, jumlah ikan kerapu yang dapat ditangkap semakin berkurang akibat banyaknya pukat harimau yang beroperasi juga penangkapan ikan dengan bahan peledak. Contoh lainnya adalah produksi udang dari budi daya tambak hasil konversi hutan bakau yang tidak terkendali.
Hal semacam itu akan dijadikan alasan Negara-Negara maju untuk menolak produk suatu negara masuk ke pasaran dunia, dengan alasan tidak menerapkan eco-labeling ataupun eco-friendly dalam system produksinya. Untuk mengantisipasi hal-hal tersebut serta untuk memulihkan kondisi perairan pantai yang telah rusak dan menciptakan ekosistem pantai yang layak untuk kehidupan ikan, maka perbaikan perairan pantai yang telah rusak mutlak dilakukan dengan melestarikan mangrove. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat pantai sehingga akan tercipta community-based management, atau masyarakat sebagai komponen utama penggerak pelestarian mangrove (Bengen 2000).
Kegiatan masyarakat pantai Desa Gosong Telaga Kabupaten Aceh Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam, dalam merehabilitasi kawasan pantai dengan penghutanan kembali mangrove merupakan salah satu contoh yang diharapkan dapat dipraktekkan di daerah lainnya. Tulisan ini membahas fungsi mangrove dan berbagai jenis ikan, udang, kepiting, serta makrobentos yang hidup sekitar perairan mangrove.

2.2 Pembahasan
2.2.1 Fungsi Mangrove
Muara sungai atau estuarin sehingga merupakan daerah tujuan akhir dari partikel-partikel organik ataupun endapan lumpur yang terbawa dari daerah hulu akibat adanya erosi. Dengan demikian, daerah mangrove merupakan daerah yang subur, baik daratannya maupun perairannya, karena selalu terjadi transportasi nutrien akibat adanya pasang surut.
Mangrove mempunyai berbagai fungsi. Fungsi fisiknya yaitu untuk menjaga kondisi pantai agar tetap stabil, melindungi tebing pantai dan tebing sungai, mencegah terjadinya abrasi dan intrusi air laut, serta sebagai perangkap zat pencemar. Fungsi biologis mangrove adalah sebagai habitat benih ikan, udang, dan kepiting untuk hidup dan mencari makan, sebagai sumber keanekaragaman biota akuatik dan nonakuatik seperti burung, ular, kera, kelelawar, dan tanaman anggrek, serta sumber lasma nutfah. Fungsi ekonomis mangrove yaitu sebagai sumber bahan bakar (kayu, arang), bahan bangunan (balok, papan), serta bahan tekstil, makanan, dan obat-obatan.
Mangrove mengangkut nutrien dan detritus ke perairan pantai sehingga produksi primer perairan di sekitar mangrove cukup tinggi dan penting bagi kesuburan perairan. Dedaunan, ranting, bunga, dan buah dari tanaman mangrove yang mati dimanfaatkan oleh makrofauna, misalnya kepiting sesarmid, kemudian didekomposisi oleh berbagai jenis mikroba yang melekat di dasar mangrove dan secara bersama-sama membentuk rantai makanan. Detritus selanjutnya dimanfaatkan oleh hewan akuatik yang mempunyai tingkatan lebih tinggi seperti bivalvia, gastropoda, berbagai jenis juvenil ikan dan udang, serta kepiting. Karena keberadaan mangrove sangat penting maka pemanfaatan mangrove untuk budi daya perikanan harus rasional. Ahmad dan Mangampa (2000) menyarankan hanya 20% saja dari lahan mangrove yang dikonversi menjadi pertambakan.

2.2.2 Vegetasi Mangrove
Mangrove mempunyai komposisi vegetasi tertentu. Pembentuk kelompok vegetasi ini adalah berbagai pesies tanaman mangrove yang dapat ber adaptasi secara fisiologis terhadap lingkungan yang khas, yaitu salinitas tinggi, sedang atau rendah, tipe tanah yang didominasi lumpur, pasir atau Lumpur berpasir, danterpengaruh pasang surut sehingga terbentuk zonasi (Walter1971 dalam Mustafa dan Sunusi 1981).
Tiap lokasi mangrove mempunyai keanekaragaman vegetasi yang berbeda, bergantung pada umur mangrove tersebut. Mustafa et al. (1990) melaporkan, di Gosng Telaga Kabupaten Aceh Singkil ditemukan 10 spesies tanaman yang tergolong dalam 7 genera dan 5 famili tanaman mangrove (Tabel 1). Perbedaan vegetasi tersebut kemungkinan isebabkan oleh perbedaan salinitas. Pada perairan dengan salinitas tinggi di tepi pantai dijumpai komunitas hizophora apiculata, R. mucronata, Soneratia alba, dan Bruguera gymnorrhiza.
Pada perairan dengan salinitas yang lebih rendah di tepi sungai dijumpai Nypa fruticans, R. apiculata, dan Lumnitzera littorea sebagai vegetasi utama, serta Heritiera littoralis, Excoecaria agallocha, Aegiceras corniculatum, Acrostichum aureum, dan Hibiscus tileaceus sebagai vegetasi pendukung dan asosiasinya. R. apiculata dan R. mucronata merupakan vegetasi mangrove yang mempunyai kerapatan tinggi (7–18 pohon/100 m2) di kedua lokasi tersebut. Kayunya sangat baik untuk dijadikan arang, bahan bangunan ataupun chip, serta dapat diambil taninnya untuk digunakan dalam industri kulit. Vegetasi mangrove mempunyai morfologi dan anatomi tertentu sebagai respons fisiogenetik terhadap habitatnya.
Vegetasi mangrove yang bersifat halopitik menyukai tanah-tanah yang bergaram, misalnya Avicennia sp., Bruguiera sp., Lumnitzera sp., Rhizophora sp., dan Xylocarpus sp. Vegetasi tersebut menentukan ciri lahan mangrove berdasarkan sebaran, dan sangat terikat pada habitat mangrove. Vegetasi yang tidak terikat dengan habitat mangrove antara lain adalah Acanthus sp., Baringtonia sp., Callophyllum sp., Calotropis sp., Cerbera sp., lerodendron sp., Derris sp., Finlaysonia sp., Hibiscus sp., Ipomoea sp., Pandanus sp., Pongamia sp., Scaevola sp., Sesuvium sp., Spinifex sp., Stachytarpheta sp., Terminalia catappa, Thespesia sp., dan Vitex sp.
Menurut Kitamura et al. (1997), vegetasi mangrove dapat dibagi menjadi tiga, yaitu vegetasi utama, vegetasi pendukung, dan vegetasi asosiasinya. Di mangrove Pulau Bali dan Lombok ditemukan 17 spesies vegetasi utama, di antaranya R. apiculata, R. mucronata, B. gymnorrhiza, B. cylindrica, dan Xylocarpus granatum (vegetasi utama), 13 spesies vegetasi pendukung antara lain A. aureum, Aegiceras corniculatum, dan A. floridum, serta 19 spesies vegetasi mangrove asosiasi, misalnya Acanthus sp., Baringtonia sp., Callophyllum sp., Calotropis sp., Cerbera sp., Clerodendron sp., dan Derris sp.
MacIntosh (1984) menyatakan bahwa beberapa jenis kepiting antara lain Sesarma onychophorum, Cleistocoeloma mergueinensis, Uca triangularis, U. dussumieri, U. rosea, Ilyoplax spp., dan Metaplax spp. hidup di area vegetasi utama.


2.2.3 Komunitas Ikan Dan Udang Di Perairan Mangrove
Perairan mangrove merupakan daerah perawatan dan tempat makan bagi sejumlah spesies ikan dan udang. Chong et al. (1990) melaporkan bahwa perairan mangrove merupakan tempat mencari makan pada waktu terjadi pasang tinggi bagi ikan-ikan ekonomis maupun nonekonomis. Komunitas ikan di perairan mangrove didominasi oleh beberapa spesies, meskipun spesies ikan yang tertangkap relatif banyak, dan pada umumnya masih berukuran juvenil.

Uji coba penangkapan berbagai spesies ikan di perairan mangrove Selangor, Malaysia, dengan menggunakan jaring insang monofilamen ukuran 0,50; 1,50; 2; 3; 4; dan 6 inci (1 inci = 2,54 cm), panjang jaring 46−91 m dan lebar 2,10−3,50 memperoleh 119 spesies dari 21.670 spesimen. Tangkapan didominasi (70%) oleh enam spesies ikan, yaitu Ambassis gymnocephalus, Thryssa kammalensis, T. hamiltonii, Leiognathus daura, Sardinella melanura, dan Secutor insidiator. Di perairan mangrove Trinity, Quensland Utara, Australia diperoleh 55 spesies ikan, di Tudor Creek Kenya diperoleh 83 spesies ikan, dan di Puerto Rico 59 spesies ikan.
Jumlah spesies ikan yang lebih banyak (128 spesies) diperoleh di mangrove Paglibao, Filipina (Sesakumar et al. 1992). Berdasarkan hasil pemantauan tangkapan ikan di perairan mangrove Tongke-Tongke, Sulawesi Selatan, dengan alat tangkap sero yang memiliki panjang 300−400 m dan dipasang di dataran lumpur 10 m di belakang hutan bakau, jumlah spesies ikan yang tertangkap meliputi 27 spesies dengan jumlah individu terbanyak dari famili Mullidae. Jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi di antaranya adalah Lates calcarifer, Siganus guttatus, dan S. vermiculatus (Pirzan et al. 2001). Pemantauan hasil tangkapan sero di perairan muara Sungai Lamuru, Kabupaten Bone dengan kondisi mangrove yang sudah sangat berkurang mendapatkan 17 spesies ikan, 3 spesies udang, dan 5 spesies kepiting (Pirzan et al. 1999). Badrudin et al. (2001) melaporkan 25 spesies ikan dan 6 spesies udang berhasil ditangkap di perairan pasang surut Indragiri Hilir, Riau. Diduga berbagai jenis ikan dan udang tersebut masuk ke mangrove pada saat air pasang dan kembali ke laut setelah air surut. Karena di belakang mangrove dipasang sero, sebagian udang dan kepiting yang masuk ke mangrove akan terjebak oleh sero. Daerah dataran lumpur (intertidal mud flat) yang terdapat di sebelah luar mangrove dan langsung menghadap ke laut merupakan habitat berbagai komunitas nekton dan jumlahnya angat melimpah. Hal ini menandakan bahwa daerah tersebut kaya akan sumber pakan sebagai hasil dari produksi primer dan sekunder yang tinggi serta adanya impor bahan organik dari laut dan mangrove.
Di mangrove Malaysia yang didominasi oleh komunitas Avicennia sp., produktivitas sekunder kepiting U. dussumieri mencapai 29 kkal/m2 (Sesakumar 1984). Chong et al. (1990) melaporkan, spesies ikan yang dominan di perairan dataran lumpur merupakan spesies estuarin, yaitu ikan manyung (Osteogeneiosus militaris), ikan keting (Arius caelatus), ikan sembilang (Plotosus canius), ikan belanak (Liza argentez), ikan gulameh (Pennahia argentata), ikan tiga waja (Protonibea diacanthus), ikan teri (Stolephorus macroleptus), dan ikan cucut (Hemiscyllium indicum).
Selain berbagai jenis ikan di perairan mangrove, di dasar mangrove juga terdapat ikan belodok “mudskippers” yang mampu hidup di luar air dalam waktu relatif lama. Periopthalmus vulgaris sering berlama-lama jauh dari air. Boleopthalmus boddaerti, Periopthalmus chrysospilos, Periophthalmodon schlosseri, dan Scartelaos viridis dapat ditemukan di pantai di bawah tanaman bakau. S. viridis dan kepiting Macropthalmus latreilli menyukai substrat lumpur mangrove yang sangat lunak dan berair, sedangkan B. boddaerti dan P. schlosseri umumnya menempel pada tanaman mangrove yang masih muda dan terdapat aliran air sehingga P. schlosseri sering terbawa arus masuk ke daerah terestrial (Berry 1972).
Spesies udang jumlahnya relative sedikit. Keberadaan juvenil udang di mangrove terutama disebabkan banyaknya ketersediaan pakan. Sistem perakaran mangrove merupakan tempat berlindung juvenil udang dari sergapan predator. Selain itu, perairan mangrove biasanya keruh sehingga secara alami akan menghindarkan juvenil udang dari pemangsanya.
Di anak estuarin Selangor, Malaysia dijumpai 5 spesies udang dan di estuarin diperoleh 8 spesies udang dengan komposisi terbanyak adalah Penaeus penicillatus, P. merguiensis, P. indicus, dan Metapenaeus brevicornis. Di sekitar perairan mangrove Tongke-Tongke, Sinjai, berdasarkan monitoring hasil tangkapan sero diperoleh empat spesies udang yaitu Penaeus indicus, P. merguiensis, P.monodon, dan P. semisulcatus dengan spesies dominan adalah P. semisulcatus (Suryati et al. 2001).

Perbedaan jumlah spesies tersebut kemungkinan karena perairan estuarin biasanya lebih subur dan mempunyai kisaran salinitas yang lebih luas dibandingkan dengan perairan pantai tanpa estuarin sehingga organisme akuatiknya juga lebih beragam termasuk udang. Perbedaan jumlah spesies kemungkinan juga disebabkan oleh perbedaan alat tangkap dan ukuran mata jaring yang digunakan, lama waktu penangkapan, dan kondisi mangrove yang tidak terganggu oleh aktivitas manusia atau telah banyak dikonversi.

2.2.4 Upaya Pelestarian Mangrove
Tanaman mangrove mempunyai fungsi yang sangat penting secara ekologi dan ekonomi, baik untuk masyarakat lokal, regional, nasional maupun global. Dengan demikian, keberadaan sumber daya mangrove perlu diatur dan ditata pemanfaatannya secara bertanggung jawab sehingga kelestariannya dapat dipertahankan. Inoue et al. (1999) melaporkan bahwa di Indonesia terdapat sekitar 75 spesies vegetasi mangrove yang tersebar di 27 propinsi. Selanjutnya Suryati et al. (2001) melaporkan, beberapa vegetasi mangrove seperti Osbornia octodonta, Exoecaria agalocha, Acanthus ilicifolius, Avicennia alba, uphatorium inulifolium, Carbera manghas, dan Soneratia caseolaris mengandung zat bioaktif yang dapat dijadikan bahan untuk penanggulangan penyakit bakteri pada budi daya udang windu. Daerah pantai termasuk mangrove mendapat tekanan yang tinggi akibat perkembangan infrastuktur, pemukiman, pertanian, perikanan, dan industri, karena 60% dari penduduk Indonesia bermukim di daerah pantai. Diperkirakan sekitar 200.000 ha mangrove di Indonesia mengalami kerusakan setiap tahun (Inoue et al. 1999). Melihat fungsi mangrove yang sangat strategis dan semakin meluasnya kerusakan yang terjadi, maka upaya pelestarian mangrove harus segera dilakukan dengan berbagai cara. Dalam budi daya udang, misalnya, harus diterapkan teknik budi daya yang ramah mangrove, artinya dalam satu hamparan tambak harus ada hamparan mangrove yang berfungsi sebagai biofilter dan tandon air sebelum air masuk ke petakan tambak.

Upaya penghutanan kembali tepi perairan pantai dan sungai dengan tanaman mangrove perlu dilakukan dengan melibatkan partisipasi masyarakat, seperti yang dilakukan oleh masyarakat Tongke-Tongke, Sulawesi Selatan. Mangrove juga dapat dikembangkan sebagai daerah wisata seperti yang telah dilakukan di Cilacap (Jawa Tengah), Sukamandi dan Cikiong, (Jawa Barat). Untuk meningkatkan produktivitas mangrove tanpa merusak keberadaannya dapat dikembangkan budi daya system silvo-fishery misalnya untuk pematangan atau penggemukan kepiting bakau, pentokolan benur windu, pendederan nener bandeng, dan pembesaran nila merah. Di perairan sungai di kawasan mangrove dapat dijadikan lahan budi daya ikan dengan sistem karamba apung terutama untuk ikan kakap, kerapu lumpur, nila merah, dan bandeng.


BAB 3. PENUTUP

Mangrove dapat berfungsi sebagai biofilter serta agen pengikat dan perangkap polusi. Mangrove juga merupakan tempat hidup berbagai jenis gastropoda, ikan, kepiting pemakan detritus dan bivalvia juga ikan pemakan plankton sehingga mangrove berfungsi sebagai biofilter alami. Berbagai jenis ikan, baik yang bersifat herbivora, omnivora, maupun karnivora hidup mencari makan di sekitar mangrove terutama pada waktu air pasang. Di mangrove Tongke-Tongke, Sulawesi Selatan, diidentifikasi terdapat 27 spesies ikan dan 4 spesies udang bernilai ekonomis yang mencari makan di sekitar mangrove Tongke-Tongke pada waktu air pasang. Selain itu, sedikitnya 8 spesies gastropoda dan 8 spesies bivalvia menetap di mangrove tersebut.


DAFTAR PUSTAKA


Ahmad, T. and M. Mangampa. 2000. The use of mangrove stands for bioremediation in a close shrimp culture system. Proceeding of International Symposium on Marine Biotechnology. Bogor Agricultural University, Bogor.
Badrudin, B. Samiono, and T.S. Murtoyo. 2001. Species composition and diversity of tidal trap net catches in the waters of Indragiri Hilir, Riau, Indonesia. Indon. Fish. Res. J.
Bengen, G.B. 2000. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Berry, A.J. 1972. The natural history of West Malaysian mangrove faunas. Malaysian Natural J.
Boyd, C.E. 1999. Codes of practice for responsible shrimp farming. Global Aquaculture Alliance, St. Louis, MO USA.
Cholik, F. and A. Poernomo. 1986. Development of aquaculture in mangrove areas and its relationships to the mangrove ecosystems. FAO/IPFC Workshop on the Strategies for Management of Fisheries and Aquaculture in Mangrove Ecosystem, Bangkok 21−23 June 1986.
Chong, V.C., A. Sesakumar, M.U.C. Leh, and R. D. Cruz. 1990. The fish and prawn communities of a Malaysian coastal mangrove system, with comparisons to adjacent mud flats and inshore waters. Estuarine, Coastal and Shelf Science (31).
Direktorat Jenderal Perikanan. 1985. Statistik Perikanan 1984. Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta.
Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. 2001. Kriteria dan standar teknis rehabilitasi hutan mangrove. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Jakarta.
Gunarto dan A. Hanafi. 2000. Pengembangan budi daya ikan dan kepiting bakau dalam kawasan mangrove. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Perikanan. Nanggroe Aceh Darussalam
Inoue, Y., O. Hadiyati, H.M. Afwan Affendi, K. R. Sudarma, and I.N. Budiana. 1999. Sustainable management models for mangrove forest. Japan International Cooperation Agency,
Kitamura, S., Ch. Anwar, A. Chaniago, and S. Baba. 1997. Handbook of mangrove in Indonesia, Bali & Lombok. The Development of Sustainable Mangrove Management Project. Ministry of Forestry Indonesia and Japan International Cooperation Agency, Jakarta.
MacIntosh, D.J. 1984. Ecology and productivity of Malaysian mangrove crab populations (Decapoda: Brachiura). Proceeding of Asia Symposium on Mangrove Environment Research and Management. Phuket Marine Biological Center, Phuket, Thailand.
Mustafa, A.A. Hanafi, B. Pantjara, dan Suwardi. 1990. Karakteristik lahan mangrove di Delta Tampina, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Risalah Seminar Hasil Penelitian Balai Penelitian Perikanan Budi Daya Pantai, Maros.
Mustafa, M. dan H. Sunusi. 1981. Laporan survey pembinaan dan pemanfaatan hutan bakau di Kabupaten Aceh Singkil, Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kerja Sama Universitas Syah Kuala dengan Direktorat Jenderal Perikanan. Universitas Syah Kuala, Banda Aceh.
Nateewathana, A. and T. Pitipong. 1984. Species composition, density and biomass of macrofauna of a mangrove forest at Ko Yao ai, Southern Thailand. Proceeding of Asia Symposium on Mangrove Environment- Research and Management. Phuket Marine Biological Center, Phuket, Thailand.
Nurdjana, M.L. 1999. Kebijakan pengembangan perikanan budi daya pesisir mendukung Gema Protekan 2003. Makalah Utama Rapat Kerja Teknis Balai Penelitian Perikanan Pantai, Bogor, 17 Maret 1999.
Pirzan, A.M., Gunarto, R. Daud, Utoyo, dan N. Kabangnga. 1999. Pemantapan budi daya kepiting bakau untuk mengantisipasi dampak penangkapan di perairan Sungai Lamuru, Kabupaten Bone. Laporan Penelitian Balai Penelitian Perikanan Pantai, Maros.
Pirzan, A.M., D. Rohama, Utojo, Burhanuddin, Suharyanto, Gunarto, dan H. Padda. 2001. Telaah biodiversitas di kawasan tambak dan mangrove. Laporan Akhir Proyek Inventarisasi dan Evaluasi Sumber Daya Perikanan Pesisir. Balai Penelitian Perikanan Pantai, Maros.
Sesakumar, A., V.C. Chong, M.U. Leh, and R.D. Cruz. 1992. Mangrove as habitat for fish and prawns. Hydrobiologia
Soeriaatmadja, R.E. 1997. Kebijaksanaan dan strategi pengelolaan keanekaragaman hayati Indonesia. Makalah Seminar Nasional Biologi XV. Bandar ampung 24–26 Juli 1997. Perhimpunan Biologi Indonesia cabang Lampung, Bandar Lampung.
Sontirat, S. 1989. Impacts of destructions on mangrove swamp or forest for shrimp culture purpose in Thailand. Symposium on Mangrove Management: Its cological and economic considerations.
Sugama, K. 2002. Status budi daya udang introduksi Litopenaeus vannamei dan L. stylirostris serta prospek pengembangannya dalam tambak air tawar. Makalah disampaikan dalam Temu Bisnis Udang di Makassar. Pusat Riset Perikanan Budidaya, Jakarta.
Suryati, E., Gunarto, Rosmiati, A. anrerengi, dan A. Tenriulo. 2001. Pemanfaatan bioaktif tanaman mangrove untuk mereduksi penyakit pada budi daya udang windu. Laporan Hasil Penelitian Tahun 2001. Balai Penelitian Perikanan Pantai, Maros.

Reaksi: 

0 komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
SINGKIL, NAD, Indonesia
SAYA ORANGNNYA SIMPLE DAN SELALU TERTARIK DENGAN HAL - HAL YANG BERBAU TEKNOLOGI DAN ILMU PENGTAHUAN. DAN SAYA TIDAK SUKA DENGAN KEKERASAN SERTA KEKEJAMAN. YANG PENTING MENURUT SAYA DAMAI ITU INDAH....