PEMUPUKAN KELAPA SAWIT

Selasa, 21 April 2009

Diposting oleh MANDALA

Hibridisasi merupakan “pembastaran” ikan-ikan yang berlainan jenis atau varietas. Ikan bastaran (hasil perkawinan silang) yang bersifat unggul merupakan hasil perkawinan langsung induk-induknya (F1). F1 hibrid hanya ditujukan untuk memproduksi benih ikan bagi keperluan konsumsi, bukan untuk induk (Sugiarto 1988).
Hibridisasi dengan mudah dapat dilakukan di beberapa lahan budidaya. Metode ini yaitu untuk mencari F1 hibrid yang dihasilkan dengan penyilangan betina Oreochromis niloticus dan jantan Oreochromis aureus. Telah diketahui bahwa kebanyakan F1 ini adalah jantan (Shkita, dkk 1991). Selanjutnya hibridisasi juga dapat dilakukan dengan cara mengawinkan induk lini murni antara Oreochromis mossambicus dengan Oreochromis honorum, Oreochromis nigra dengan Oreochromis honorum (Landau 1992).
Menurut hasil penelitian, hibridisasi antar spesies dalam genus Oreochromis dapat menghasilkan keturunan F1 yang hampir 100% jantan (Suyanto 1998).

Merangsang Perubahan Seks Dengan Hormon
Merangsang perubahan seks dengan hormon telah dipraktekkan di negara maju. Bahkan di Taiwan dan Israel telah dilakukan sejak 20 tahun yang lalu (Suyanto 1998). Mengutip Shokita, dkk (1991) bahwa metode perlakuan dengan hormon yaitu memperlakukan larva dengan hormon steroid jantan seperti metil testosteron dalam upaya untuk merubah jenis kelamin.
Menurut Purdom (1984), ada tiga cara atau metode dasar dalam pemberian hormon steroid untuk kepentingan pergantian jenis kelamin :
1. Melalui injeksi
2. Immersi (Perendaman dalam hormon)
3. Melalui pemberian makanan
Dari ketia cara tersebut, cara yang terakhir (melalui pemberian makanan) adalah cara yang terbaik, terutama apabila menggunakan hormon etiltestosteron dan metiltestosteron, hormon tersebut dimaksudkan untuk merangsang pergantian jenis kelamin (Helpher dan Pruginin dalam Budisetijono, 1989).
Djarijah (1994) meneliti bahwa teknik alih kelamin ini hanya akan efektif apabila pemijahannya dilakukan dengan teknik pemijahan buatan. Hal tersebut dimaksudkan agar kontinuitas penyediaan benih lebih terjamin dalam jumlah yang banyak. Suyanto (1998) menegaskan agar ekonomis dalam pemberian hormon, jumlah larva dalam satu kali perlakuan minimum 50.000 ekor dengan kepadatan 750-1000 ekor/m3.
Yamazaki (1983) menyatakan bahwa periode yang baik untuk diberi perlakuan (pemberian hormon metil testosteron) adalah pada sradia larva atau pada saat ikan mulai makan. Selanjutnya dijelaskan bahwa periode tersebut adalah umur benih ikan antara 7-10 hari setelah menetas. Namun demikian keberhasilan perubahan jenis kelamin juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain seperti macam dan dosis hormon yang digunakan, metode pemberian hormon, lama perlakuan dan jenis ikan serta suhu air selama perlakuan (Yamamoto dalam Nuraini 1990).
Dosis hormon yang diberikan dalam makanan antara 5 – 1000 mg/kg pakan tergantung species ikan itu sendiri (Suyanto 1998). Selanjutnya dosis yang diberikan harus dapat menimbulkan pergantian jenis kelamin sebanyak 50%. Sedangkan untuk “breeding” yang praktis, pada dosis yang rendah sudah dapat menghasilkan pergantian jenis kelamin secara menyeluruh

Reaksi: 

0 komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya
SINGKIL, NAD, Indonesia
SAYA ORANGNNYA SIMPLE DAN SELALU TERTARIK DENGAN HAL - HAL YANG BERBAU TEKNOLOGI DAN ILMU PENGTAHUAN. DAN SAYA TIDAK SUKA DENGAN KEKERASAN SERTA KEKEJAMAN. YANG PENTING MENURUT SAYA DAMAI ITU INDAH....